Akhirnya, aku balik lagi ke rumahku. Meskipun kecil dan fasilitasnya jauh dibanding rumah Nenek, aku lebih suka di sini. Ya, namanya juga rumah sendiri.
Buru-buru aku masuk kamarku yang wuih kali ini terlihat lebih rapi dan bersih. Tapi tunggu! Kayaknya ada yang kurang. Aku melihat sekeliling. Ah! Foto Mama! Kemana? Setelah aku cari ternyata ada dalam laci. Siapa yang taruh di sana? Siapa lagi coba!
Aku gantung kembali di dinding kemudian aku bergegas ke dapur cari minuman di kulkas.
"Milan?"
Sontak aku menoleh ke sumber suara. "Udah pulang Pap?"
Ayahku masih diam mematung. "Kamu kapan ke sini?"
"Madrid emang nggak cerita, aku mau ke sini?"
"Dia nggak bilang apa-apa, makanya kaget, ngomong-ngomong dia belum pulang," Papa melirik jam di tangannya.
Aku menghela napas, dasar itu anak. Dari dulu emang agak laen. Di ruang tengah aku pun mengarang cerita tentang motif di balik tukar menukar ini. Papa mengangguk setengah paham setengah tidak. Tapi ya sudahlah.
"Oh jadi kamu ke sini sama temennya Madrid."
"Iya. Mereka nganterin Madrid ke Jakarta terus aku balik bareng mereka."
"Oh," Papa mengangguk. "Kamu nggak risih kan pulang bareng mereka."
Aku tertawa. "Enggaklah!"
"Kali aja. Dari luar kan mereka kayak berandalan tapi sebenarnya anaknya baik-baik."
"Ooh," kataku senyam senyum.
"O ya, kamu pasti lapar ya?" Papaku bangkit. "Papa keluar sebentar beli dulu makanan."
"Repot amat sih Pap, yang ada aja."
"Maaf Milan, di sini nggak ada apa-apa, ada juga mie instan."
"Ya udah mie aja, kebetulan aku lagi pengen makan mie yang pedes."
"Oh ya? Tapi ... ya udah kalau begitu," Papa balik badan siap melangkah ke dapur, "eh tapi minimal harus pake telor, biar ada gizinya Milan."
Aku tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala. Lucu melihat papaku kelimpungan salah tingkah.
"Papa keluar dulu, Milan," katanya bersemangat.
Segitu senangnya kah Milan main ke sini? Aku hanya menghela napas panjang.
****
"O ya Milan, kamu jadi kuliah di luar?"
"Iya kali," kataku sambil menggulung-gulung mie dengan garpu.
"Kapan berangkatnya?"