The Strange Case of Milan and Madrid

Galilea
Chapter #27

26. Secret

Begitu Nenek Maya membuka kedua matanya, Madrid langsung memegang tangannya. “Nenek udah baikan?” 

Milan yang berada di samping satunya lagi, juga melakukan yang sama. “Cepat sembuh Nek."

Maya menatap mereka satu per satu kemudian tersenyum.

Pandangan Maya kemudian beralih ke Marcel yang berada di samping Madrid. Dengan lemah dia berusaha mengangkat tangannya, dan mengulurkannya ke arah Marcel. 

Meski terlihat ragu, Marcel meraih tangannya. 

“Maaf,” ucap Maya lirih. Hanya itu, tak ada lagi yang keluar dari mulutnya. Satu kata! Tapi setelah mengucapkannya, beban yang selama ini menggantung di pundaknya lenyap seketika digantikan oleh air mata yang membasahi pipinya. Dia tidak berharap dimaafkan tapi dia tahu Marcel pantas mendapatkan kata itu darinya.

“Nggak Bu,” balas Marcel, tetap tenang meski bulir-bulir air matanya berjatuhan tanpa jeda. Ia meletakan tangan satunya lagi dia atas tangan Maya. “Saya yang harusnya minta maaf.”

Maya tersenyum lemah, pikirannya melayang ke masa itu. Masa di mana anaknya Marina, anak semata wayangnya pergi meninggalkan dunia.

****


Saat mendengar Marina sudah tak bernyawa, hidup Maya mendadak gelap total, kosong, dan hampa.

Tidak pernah terbayang olehnya, dia yang harus menguburkan anaknya bukan sebaliknya. Kenapa Tuhan memberikan ‘kesempatan’ itu kepadanya? Kesempatan yang paling ditakuti orangtua mana pun di dunia.

Maya yakin waktu tidak akan mengobati luka yang dia rasakan saat itu. Selamanya dia akan berduka. Pertanyaannya sampai kapan dia sanggup menanggungnya? Haruskah dia menyerah saja?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering mampir di kepalanya terutama di hari-hari pertama kematian Marina. Untunglah adiknya, Padma yang juga seorang dokter memutuskan tinggal di rumahnya sampai Maya merasa lebih baik, sampai Maya bisa menerima semuanya.

Kehampaan yang Maya rasakan mendadak berubah jadi kemarahan saat dia tahu kalau beberapa minggu sebelum kematiannya, Marina meninggalkan rumahnya yang menurut keterangan Marcel atas “keinginan dirinya sendiri dan demi kebaikan bersama”. Saat ditanya alasannya. Marcel bungkam tapi Maya tahu jawabannya. Dan sangat sederhana. Marina tidak bahagia!

Dan ini semua salah siapa lagi kalau bukan Marcel. Menurutnya dia gagal sebagai suami dan kepala keluarga.

Seandainya Marina bahagia, dia tidak akan pergi dari rumah. Seandainya dia tidak pergi dari rumah dia tidak akan meninggal. Sendainya Marcel tidak gagal!


Sejak saat itu, Maya menganggap Marcel-lah penyebab kematian Marina. Dia sangat menyesal mempercayakan anaknya kepadanya.

Untuk mengobati rasa sesalnya dia mengajak Milan dan Madrid tinggal bersamanya. Alasannya, dia tidak mau cucu-cucunya merana dan tidak bahagia seperti anaknya. Jangan sampai ada ‘korban’ berikutnya.

Anehnya, kebenciannya terhadap Marcel justru meningkatkan kewarasannya yang sempat terguncang itu. Lubang besar yang menganga di hatinya kini mulai tertambal. Dia pun mulai fokus bagaimana mengambil hak asuh Milan dan Madrid.

Milan menerima tawarannya tetapi sayang Madrid menolaknya. Meski begitu, Maya tidak menyerah setiap ada kesempatan dia pasti mengajak Madrid tinggal bersamanya walau selalu ditolak.

Hadirnya Milan di rumahnya benar-benar membantu Maya bangkit. Terkadang, dia melihat Milan sebagai Marina yang terlahir kembali dalam wujud anak-anak. Terlebih, Milan ternyata sama pintarnya dengan Marina. Bedanya, Marina tidak seserius Milan, dia masih suka bergaul bersama teman-temannya. Sementara Milan sangat anti-sosial.

Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, pelan tapi pasti Maya akhirnya bisa menerima kepergian Marina dan berusaha mengenangnya dengan damai. 

Namun tahun ke-8, kembali Maya diguncangkan dengan fakta baru. Adiknya Padma menceritakan sebuah rahasia yang selama ini dia simpan bersama Marina dan ternyata berkaitan erat dengan alasan mengapa keponakannya itu meninggalkan keluarganya.

Kerena beberapa alasan, sebenarnya Padma berjanji untuk tidak pernah mengungkit rahasia ini di depan Maya. Akan tetapi, setiap bertemu Maya, setiap berkunjung ke makam Marina, Padma selalu merasa gelisah dan tidak tenang. Ketidaktenangan yang membuatnya selalu merasa ‘dihantui’. Dan ‘hantu’ itu akan terus menggentayanginya sampai dia bercerita.

Setelah maju-mundur, tahun berganti tahun, Padma pun akhirnya menemukan keberanian. Di hadapan Maya, dia menceritakan semuanya.

Maya tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Padma. Bagaimana bisa? Dia tidak pernah melihat Marina punya masalah berat. Sekolahnya lancar, temannya banyak, dan meski tidak ada sosok ayah dalam hidupnya, Maya yakin Marina tidak pernah merasa kekurangan karena segalanya Maya berikan.

“Tanda-tanda itu sudah terlihat sejak ia kecil.”

Tanda? 

Tanda apa yang Padma maksud? Maya masih ingat saat Marina hendak memasuki Sekolah Dasar, anak itu pernah menjalani tes psikologi dan hasilnya baik-baik saja. Di situ hanya dijelaskan kalau Marina termasuk anak yang highly sensitive. Dan menurut psikolog yang memeriksanya, sifat seperti itu lazim dimiliki anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata.

“Masih ingat kan waktu SD Marina pernah bikin geger guru-gurunya?”

Lihat selengkapnya