THE SWORDSMAN

Arief Rahman Hakim
Chapter #1

Abu dari Windmere

Di dunia Eldoria, kekuatan bukan hanya soal keberanian ia diukur, dinilai, dan diberi peringkat. Setiap prajurit, penyihir, pembunuh, dan penyembuh diklasifikasikan dalam lima tingkatan: F, D, B, A, dan S.

kelas F adalah yang terendah lemah, belum terasah, sering diremehkan.

kelas S adalah puncak legenda hidup yang namanya ditakuti bahkan oleh makhluk kegelapan.

Di antara dua titik itu terbentang jurang panjang yang dipenuhi darah, latihan, dan kematian. Dan di dasar jurang itu...berdirilah seorang anak laki-laki.

Namanya Haruto Aizawa. Seorang swordsman kelas F.

"Haruto! Ayahmu mencarimu!" teriak seorang wanita dari kejauhan.

Haruto, yang saat itu sedang mengayunkan pedang kayu ke arah batang pohon, menghentikan latihannya. Nafasnya terengah, tangannya gemetar.

"Sebentar lagi!" balasnya.

Ia menatap pedang kayunya. Sudah retak di bagian tengah. "seperti aku", pikirnya.

"Masih saja latihan dengan cara itu?" suara berat terdengar dari belakang. Haruto menoleh, seorang pria bertubuh tegap berdiri dengan tangan terlipat ayahnya.

"Kalau kau terus memukul pohon tanpa teknik, yang hancur cuma pedangmu." Haruto menunduk. "Aku....cuma ingin jadi kuat."

Ayahnya mendekat, mengambil pedang kayu itu, lalu melemparkannya ke tanah. "Keinginan saja tidak cukup. Dunia di luar sana tidak peduli pada anak kelas F sepertimu." Ucapan itu menusuk lebih dalam daripada luka apapun.

"Tapi....aku bisa belajar!" Haruto bersikeras. Untuk pertama kalinya, ayahnya tersenyum tipis. "Kalau begitu, berdiri yang benar. Aku akan mengajarimu sekali lagi." Mata Haruto berbinar.


Hari-hari di Windmere berlalu dengan sederhana. Pagi hari, Haruto membantu ibunya di rumah. Siang hari, ia berlatih pedang. Malam hari, ia tertidur dengan tubuh penuh luka kecil.

"Peganganmu terlalu kaku!" bentak ayahnya. Clang! Pedang kayu haruto terlempar lagi. Ia jatuh terduduk, menggetarkan gigi.

"Kenapa aku selalu kalah...." gumamnya. Ayahnya berjalan mendekat. "Karena kau bertarung dengan emosi, bukan teknik."

"Apa itu salah?!"

"Di dunia ini?" ayahnya menatapnya tajam. "Ya. Itu bisa membunuhmu."

Haruto terdiam. Angin desa berhembus pelan, membawa suara kincir yang berputar perlahan. "Haruto," suara ibunya terdengar lembut dari kejauhan, "makan malam sudah siap." Untuk sesaat, semuanya terasa damai. Seolah dunia ini tidak akan pernah berubah.


Malam itu, Haruto duduk di luar rumah, menatap langit penuh bintang.

"Ayah...."

Lihat selengkapnya