Pagi datang dengan cara yang berbeda di kota Emporion. Tidak ada suara benturan senjata, tidak ada teriakan, tidak ada tekanan yang menyesakkan dada seperti malam sebelumnya. Yang ada hanyalah suara langkah pelan, percakapan ringan, dan bunyi kayu yang diperbaiki di sekitar gerbang kota. Sinar matahari perlahan menyinari retakan di tanah dan sisa-sisa kehancuran yang belum sepenuhnya dibersihkan. Namun di balik itu semua...ada sesuatu yang kembali yaitu ketenangan.
Haruto berdiri di dekat gerbang, menatap ke arah luar kota. Angin pagi berhembus pelan, menyentuh wajahnya yang masih menyimpan sisa kekalahan. Ia tidak berkata apa-apa, hanya berdiri mengamati, menghela nafas panjang.
"...Kita benar-benar selamat," suara Hayate terdengar dari belakang, agak santai seperti biasanya, meski masih ada perban di lengan.
Haruto melirik. "Ya."
Shizuma berdiri tidak jauh dari mereka, bersandar pada tembok batu yang sebagian retak. Matanya setengah tertutup, namun jelas ia sedang memperhatikan sekitar.
"Masih terasa aneh," gumamnya pelan. "Seperti kota ini baru saja...bangun dari mimpi buruk."
Haruto tidak membantah, karena ia merasakannya juga.
Di sekitar mereka, warga kota mulai kembali ke aktivitasnya. Beberapa pedagang membuka lapak dengan hati-hati. Anak-anak mulai terlihat bermain, meski masih diawasi dari dekat oleh orang tua mereka. Para penjaga kota bekerja bersama adventurer untuk memperbaiki gerbang dan membersihkan sisa pertempuran.
Hinari yang kini sudah sadar dan duduk di dekat pos medis, melambaikan tangan pelan saat melihat mereka.
"Jangan terlalu jauh," katanya lembut, "aku masih belum bisa ikut bertarung, tapi aku masih bisa mengawasi kalian."
Hayate tersenyum kecil. "Itu sudah lebih dari cukup."
Renzo berdiri tidak jauh dari sana, membantu mengangkat balok kayu besar bersama beberapa penjaga. "Setidaknya kota ini masih berdiri," katanya sambil menghela nafas berat.
Shizuma melirik ke arah Haruto. "Dan kita masih hidup."
Haruto mengangguk pelan, namun pikirannya...tidak sepenuhnya di sini.
Tidak jauh dari gerbang, empat sosok berdiri, tenang namun kehadiran mereka tetap terasa berbeda. Kenjiro, Izuna, Akuma dan Homura. Para adventurer kelas S dari kota Celestia. Mereka tidak melakukan banyak hal, hanya berbicara singkat dengan penjaga kota, memastikan situasi benar-benar terkendali. Namun aura mereka tidak bisa diabaikan.
Haruto menatap mereka tanpa sadar, ada sesuatu yang membuatnya...terpaku. Bukan hanya karena kekuatan mereka, tapi cara mereka berdiri, cara mereka bergerak, cara mereka terlihat...tidak terpengaruh oleh kekacauan yang baru saja terjadi.