Pagi di desa Glima terasa lebih sunyi dibanding desa lain yang pernah mereka kunjungi, bukan karena tidak ada kehidupan, tetapi karena setiap gerakan terasa seperti ditahan, setiap suara seperti diredam, dan setiap tatapan yang mereka terima mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan.
Haruto berjalan perlahan di sepanjang jalan utama desa bersama Hinari, sementara yang lain menyebar untuk melihat keadaan sekitar, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan.
Beberapa warga terlihat bekerja, namun gerakan mereka kaku, seolah pikiran mereka tidak sepenuhnya berada di sana, dan setiap kali ada suara kecil dari arah hutan, mereka langsung menoleh dengan refleks yang terlalu cepat untuk disebut biasa.
"...Mereka takut," kata Hinari pelan, matanya memperhatikan seorang wanita yang buru-buru menutup jendela rumahnya saat mereka lewat.
Haruto mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depan. "...Bukan hanya takut."
Hinari sedikit menoleh. "Lalu?"
Haruto berhenti sejenak. "...Mereka menunggu sesuatu."
Hening sejenak menyelimuti mereka, seolah kata-kata itu memiliki bobot yang lebih dari sekadar pengamatan sederhana.
Di sisi lain desa, Arata dan Sayaka berbicara dengan seorang pria tua yang duduk di depan rumahnya, wajahnya terlihat lelah seolah ia sudah tidak tidur dengan baik selama beberapa hari.
"...Kami hanya melihatnya malam hari," kata pria itu dengan suara pelan, seolah takut didengar oleh sesuatu yang tidak terlihat.
"Apa yang kalian lihat?" tanya Sayaka dengan nada lembut.
Pria itu terdiam sejenak, lalu menjawab. "...Bukan apa...tapi berapa banyak."
Arata menyipitkan mata. "Serangga?"
Pria itu mengangguk pelan. "Datang dari hutan...dari arah timur..." Ia menelan ludah. "...dan mereka tidak berhenti."
Sayaka saling bertukar pandang dengan Arata, tidak ada kepanikan dalam ekspresi mereka namun ada keseriusan yang mulai terbentuk.