Malam kedua di desa Glima datang dengan cara yang hampir sama seperti malam sebelumnya, namun entah mengapa terasa lebih berat, seolah udara itu sendiri menahan sesuatu yang akan segera terjadi.
Lampu-lampu kecil di rumah warga sudah menyala lebih awal dari biasanya, pintu dan jendela ditutup rapat bahkan sebelum matahari benar-benar tenggelam, dan hampir tidak ada satu pun orang yang berani berada di luar tanpa alasan yang sangat penting.
Haruto berdiri di dekat pusat desa bersama yang lain, matanya terus mengamati kegelapan di arah hutan, sementara suara angin yang biasanya terasa menenangkan kini justru terdengar seperti bisikan yang tidak bisa dimengerti.
"...Lebih cepat dari kemarin," kata Arata pelan sambil melihat langit yang mulai gelap.
Sayaka mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. "Aliran sihirnya juga berubah...lebih padat."
Hinari berdiri di samping Haruto, tangannya sedikit terangkat seolah merasakan sesuatu yang tidak terlihat. "...Aku tidak suka ini."
Shizuma yang bersandar di tiang kayu membuka matanya sedikit. "Tidak ada yang suka."
Renzo menggenggam gadanya lebih erat. "Kalau datang lagi, kita sudah siap."
Haruto tidak menjawab, namun tangannya perlahan mendekat ke gagang pedangnya.
Awalnya hanya suara dengung yang sangat halus, namun kali ini tidak menyebar, tidak acak melainkan...terarah.
Haruto langsung menyadarinya. "...Berhenti."
Semua menegang dari arah hutan, serangga mulai muncul. Namun tidak seperti sebelumnya, mereka tidak langsung menyebar ke seluruh desa, mereka berkumpul di satu titik, berputar semakin padat, semakin gelap.
"...Apa mereka...?" bisik Hinari.
Tidak ada yang menjawab karena yang mereka lihat belum pernah terjadi sebelumnya.