Di desa Glima, malam kembali berubah menjadi medan pertempuran, namun kali ini tidak ada pembagian kekuatan, tidak ada dukungan dari rekan, dan tidak ada ruang untuk kesalahan karena hanya satu orang yang berdiri sebagai garis pertahanan akhir.
Sayaka...ia berdiri di tengah desa dengan jubahnya yang mulai berkibar karena tekanan sihir yang ia lepaskan, matanya yang biasanya tenang kini berubah tajam, dingin, dan penuh fokus, seolah semua keraguan yang pernah ada telah ia buang jauh.
"...Kalau ini memang tujuannya..." gumamnya pelan, "...aku tidak akan mundur."
Serangga mulai datang lagi, lebih banyak dari sebelumnya, lebih agresif, dan bergerak dengan pola yang semakin tidak wajar, namun kali ini Sayaka tidak menunggu. Tangannya terangkat, lingkaran sihir muncul berlapis-lapis, api menyala lebih dulu.
WHOOSH!!
Gelombang api menyapu jalan utama, membakar kumpulan serangga yang mendekat tanpa sisa, namun tidak berhenti disitu, ia segera mengganti aliran sihirnya, angin, air, petir, dan tanah.
Serangan datang beruntun tanpa jeda, seolah ia tidak memberi kesempatan bagi serangga itu untuk berkembang lebih jauh, setiap elemen digunakan dengan presisi dan kekuatan penuh, menghancurkan, menyapu, dan menekan pergerakan mereka dari segala arah, namun jumlah mereka tidak berkurang secara signifikan.
"...Kalau begitu..."
Sayaka menarik nafas dalam dan kali ini ia tidak menyerang melainkan bertahan. Lingkaran sihir besar muncul di bawah kakinya, cahaya tebal terbentuk perisai, namun bukan perisai biasa, lapisan energi itu membesar, meluas, dan akhirnya menyelimuti hampir seluruh desa Glima, membentuk kubah perlindungan yang begitu tebal hingga bahkan suara dari luar pun terdengar teredam.
Serangga mulai menghantamnya namun tidak menembus, tidak retak, tidak tergoyahkan.
Sayaka menatap ke depan. "...Selama aku berdiri...kalian tidak akan masuk."
Di kejauhan, siluet pria berjubah itu masih berdiri diam, tidak bergerak seolah hanya mengamati.
Sayaka mengerutkan kening. "...Kau hanya akan diam?"
Tidak ada jawaban, kesunyian itu mengganggu. Akhirnya, tanpa ragu, ia mengangkat tangannya lagi, api berkumpul lebih besar, lebih padat.
"...Kalau begitu hilang saja."
Ia melepaskannya.
BOOOOM!!
Ledakan api menghantam langsung sosok itu, pohon-pohon di sekitarnya bergetar, tanah sedikit retak. Namun saat api mereda yang tersisa hanyalah...batang pohon tua, diam tidak bergerak.
Sayaka terdiam, matanya menyipit. "...Aku..."
Hening...
"...ditipu."