Momen itu terasa seperti berhenti, detik yang seharusnya berjalan...menjadi lambat. Haruto berdiri terpaku, matanya menatap lurus ke arah Sayaka yang tubuhnya tertusuk oleh tombak yang menembus perutnya, darah perlahan mengalir dan menetes ke tanah, dan untuk sesaat dunia di sekitarnya seolah kehilangan suara.
"...Sayaka..."
Suaranya pelan namun dalam dirinya sesuatu pecah.
Arata berteriak dari samping, namun suara itu terasa jauh. Shizuma dan Renzo yang datang bersama Hinari juga membeku melihat pemandangan itu, tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
Namun Haruto tidak lagi mendengar siapa pun, tangannya menggenggam pedangnya lebih erat, lebih dalam dan perlahan aura di sekitarnya berubah lebih berat, lebih gelap, pedang itu...merespon.
Dalam sekejap Haruto menghilang dari tempatnya berdiri, tanah retak, udara bergetar dan ia sudah berada di depan wanita itu.
CLANG!!
Pedangnya menghantam tombak wanita itu namun dorongan dari serangan itu tidak berhenti. Haruto terus maju, mendorong, memaksa, membawa wanita itu mundur menembus tanah, menabrak pepohonan, menghancurkan segala yang ada di jalur mereka.
Wanita itu tertawa. "...Akhirnya..."
Namun Haruto tidak menjawab, matanya kosong dan dingin. Pertarungan itu tidak lagi terasa seperti pertarungan biasa, setiap benturan menghasilkan ledakan kecil, setiap gerakan meninggalkan jejak kehancuran. Haruto menyerang tanpa jeda, tanpa ritme, tanpa pola, hanya tekanan yang terus meningkat.
Wanita itu menahan, menangkis, menghindar namun untuk pertama kalinya ia dipaksa mundur.
Arata muncul di sisi lain, panah sudah siap, sihir racun mengalir ia melepaskan.
THWIP!
Panah itu mengenai lengan wanita itu namun tidak ada efek.