THE SWORDSMAN

Arief Rahman Hakim
Chapter #33

Di Antara Luka dan Kata

Siang hari di desa Glima datang dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding malam-malam sebelumnya, namun ketenangan itu bukanlah ketenangan yang sepenuhnya damai, melainkan seperti jeda panjang setelah sesuatu yang berat, di mana semua orang masih mencoba memahami apa yang telah terjadi dan apa yang mungkin akan datang.

Di dalam salah satu rumah yang dijadikan tempat perawatan, Hinari terbaring dengan tubuh yang masih lemah, nafasnya pelan namun stabil, sementara cahaya matahari masuk melalui jendela kecil dan menyinari wajahnya yang pucat.

Haruto duduk di samping tempat tidur itu, diam tanpa banyak bicara, matanya sesekali menatap Hinari lalu kembali kosong, seolah pikirannya masih tertinggal di malam sebelumnya. Renzo berdiri di dekat pintu, menyandarkan tubuhnya sambil melipat tangan, sesekali melirik ke arah luar. Shizuma duduk di sudut ruangan, matanya setengah tertutup seperti biasa, namun jelas ia tidak benar-benar beristirahat.

"...Dia akan sadar sepenuhnya," kata Renzo pelan, mencoba memecah keheningan.

Haruto mengangguk sedikit. "...Aku tahu." Namun nada suaranya tetap datar.

Shizuma membuka matanya sedikit. "Tubuhnya tidak lemah...hanya dipaksa terlalu jauh."

Hening kembali, namun kali ini tidak terasa menekan, lebih seperti...menunggu.


Di luar rumah itu, Arata berdiri bersama Sayaka di bawah bayangan pohon, suasana di antara mereka terasa berbeda dari biasanya, bukan karena adanya ancaman, melainkan karena sesuatu yang belum selesai di antara kata-kata.

Sayaka berdiri dengan tangan terlipat, tatapannya mengarah ke tanah. "...Kau tahu apa yang paling mengganggu?" katanya pelan.

Arata tidak langsung menjawab, ia hanya menunggu.

"...kita hampir kalah," lanjut Sayaka, suaranya mulai lebih tajam, "dan itu karena kita harus melindungi seseorang yang bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri."

Arata menghela nafas pelan. "...Hinari?"

Sayaka tidak menjawab dengan kata namun ekspresinya cukup jelas.

"Dia lambat...ragu...dan selalu berada di posisi yang salah," lanjutnya, nada suaranya semakin dingin, "kalau seperti itu terus, dia tidak akan berkembang...dia hanya akan jadi beban."

Arata menatapnya...hening sejenak. "...Aku mengerti maksudmu," katanya akhirnya, dengan nada yang tidak sepenuhnya menolak.

Sayaka sedikit mengangkat wajahnya namun sebelum ia melanjutkan, Arata menambahkan.

Lihat selengkapnya