Pagi di desa Glima datang dengan cara yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, bukan karena ada perubahan besar yang terlihat jelas, melainkan karena untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, suasana itu benar-benar terasa ringan tanpa bayangan ancaman yang menggantung di udara.
Langit cerah tanpa awan gelap, angin berhembus pelan membawa aroma tanah dan dedaunan, dan suara aktivitas warga kembali terdengar seperti seharusnya, anak-anak yang mulai bermain di jalan, orang-orang yang berbicara di depan rumah, dan beberapa petani yang kembali ke ladang mereka dengan langkah yang tidak lagi tergesa.
Haruto berjalan perlahan di sepanjang jalan desa, tidak membawa pedangnya di tangan seperti biasanya, hanya menggantung di pinggang, dan untuk pertama kalinya ia tidak merasa perlu terus-menerus waspada terhadap setiap gerakan kecil di sekitarnya.
"...Akhirnya terasa seperti desa biasa," gumamnya pelan.
Di sampingnya, Hinari berjalan dengan langkah yang sudah jauh lebih stabil dibanding beberapa hari sebelumnya, meskipun masih ada sedikit sisa kelelahan di wajahnya.
"Aku hampir lupa rasanya seperti ini," jawab Hinari dengan senyuman kecil yang akhirnya kembali terlihat.
Haruto meliriknya sekilas. "...Kau sudah benar-benar pulih?"
Hinari mengangguk pelan. "Belum sepenuhnya...tapi cukup untuk kembali bergerak."
Nada suaranya lembut, namun ada keteguhan yang tidak berubah.
Di bagian lain desa, Renzo sudah sibuk sejak pagi membantu beberapa warga mengangkat balok kayu besar untuk memperbaiki salah satu rumah yang rusak, suaranya terdengar santai meskipun pekerjaannya berat.
"Kalau begini terus, aku bisa pindah ke sini saja," katanya sambil tertawa kecil.
Seorang warga membalas dengan senyum. "Kalau semua guardian sepertimu, desa ini tidak akan pernah rusak lagi."
Renzo hanya mengangkat bahu. "Sayangnya aku tidak gratis."
Tidak jauh dari sana, Arata membantu memperbaiki pagar ladang dengan gerakan yang efisien dan tanpa banyak bicara, sesekali mengarahkan posisi kayu dengan presisi seperti saat ia membidik panah.