Blurb
Malam itu, Sintia hanya ingin pulang. Yang dia temukan adalah gubuk di tengah hutan, tali di pergelangan tangan, dan lelaki bertopeng merah yang berbisik di telinganya. Di balik topeng itu ada Stevano Erlangga, wajah paling tampan di kota, dan tangan yang telah mengubur seratus sembilan perempuan.
Sintia seharusnya membencinya. Dan ia memang membencinya. Lalu, kenapa tubuhnya tak lagi gemetar saat lelaki itu menyentuhnya?
Tidak semua yang terasa seperti perlindungan adalah kasih sayang. Tidak semua iblis lahir sebagai iblis. Dan tidak semua wajah yang mengetuk pintumu adalah wajah yang kamu kenal.
Sebuah thriller spiritual tentang luka, iman, dan cinta yang paling tidak seharusnya ada. Bacaan dewasa (18+). Mengandung tema kekerasan, kekerasan seksual, dan pembunuhan.