MUSIK berdentum seperti jantung kedua yang ditanam paksa di dada Sintia. Lampu-lampu sorot berputar, memecah gelap kelab menjadi kepingan merah, ungu, dan biru yang jatuh di kulitnya, lalu lenyap sebelum sempat dia kenali. Dia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya meliuk mengikuti dentuman bas. Orang-orang mengira dia sedang bersenang-senang. Biarlah mereka mengira begitu. Bagi Sintia, setiap lenggokan adalah cara meredam sesuatu yang terus menggeliat di dalam dirinya, sesuatu yang tak pernah mau tidur, kecuali ditenggelamkan dalam bising dan alkohol.
Malam adalah satu-satunya tempat yang dia kenal. Di bawah cahaya siang, segalanya terlalu terang, terlalu jujur. Di sini, tak ada yang bertanya dari mana dia datang atau apa yang dia sembunyikan.
Keringat merambat dari pelipis ke leher, menyusup di balik gaun hitam tanpa lengan yang melekat di tubuhnya. Betisnya mulai berdenyut, tumitnya perih digigit sepatu hak tinggi. Namun, dia tak berniat berhenti. Dia akan terus bergerak sampai lampu-lampu dinyalakan dan petugas mengusir pengunjung terakhir menjelang subuh. Jeda hanya ia berikan saat satu lagu habis, cukup untuk meraih botol di meja, menenggak isinya dalam-dalam, dan merasakan panas menjalar dari tenggorokan hingga ke perut.
Pada jeda seperti itulah mereka datang, seperti biasa. Enam lelaki mengepung mejanya dengan senyum yang sudah Sintia hafal betul artinya. Aroma parfum murahan bercampur asap rokok dan keringat menguar dari tubuh mereka.
“Sintia, tidur sama aku malam ini, ya? Aku baru gajian, uangku banyak,” kata lelaki berkemeja satin yang kancing atasnya terbuka hingga dada. Dia mencondongkan badan, menumpukan kedua tangan di meja. “Berapa yang kamu mau, Sayang?”
Sintia bertopang dagu, menatap lelaki itu lewat ekor mata. Senyum yang terbit di bibirnya tipis dan getir. Dia sudah lama berhenti terkejut. Di tempat ini, kebanyakan lelaki tak ubahnya hewan kelaparan, hanya saja mereka mengenakan jam tangan mahal dan menyebut nafsu dengan kata sayang.
Dia tidak berniat menjual tubuhnya, berapa pun harga yang ditawarkan. Uang bisa dia cari dengan cara lain. Dia seorang model; satu kali pemotretan saja sudah cukup untuk menyambung hidup beberapa pekan. Masalahnya, sudah lebih dari sebulan sang fotografer tak lagi menghubunginya. Ponselnya sunyi. Tabungannya menyusut seperti genangan air di bawah terik. Berhemat? Mencari pekerjaan lain? Sintia mendengkus dalam hati. Dua-duanya terdengar terlalu merepotkan, dan terlalu mirip dengan menyerah.
“Delapan puluh juta,” katanya akhirnya, sambil menyeringai. “Sanggup, nggak, kalian?”
Tentu saja dia hanya menggertak. Angka itu dia lemparkan seperti orang melempar batu ke arah anjing liar: bukan untuk melukai, hanya agar mereka pergi.
“Delapan puluh juta?!” Lelaki berkemeja satin itu terbahak, tetapi tawanya sumbang. “Kamu gila? Kayak artis papan atas aja.”
“Terserah.” Sintia mengibaskan tangan tanpa menoleh. “Aku nggak peduli kalian mau atau nggak. Pokoknya sekarang minggir. Kalian menghalangi pemandanganku.”
Mereka menyingkir sambil menggerutu, satu per satu kembali ditelan kerumunan. Sudah lama mereka mengincar Sintia, perempuan yang lekuk tubuhnya kerap mereka bisikkan mirip gitar Spanyol, tetapi jangankan tubuhnya, sekadar mencicipi bibir tipisnya yang kemerahan pun tak pernah ada yang berhasil. Mereka mengira uang bisa meluluhlantakkan perempuan itu. Ternyata mereka keliru.
Di antara mereka, hanya satu yang tidak benar-benar pergi: lelaki berambut keriting yang sejak tadi berdiri paling belakang dan tak bersuara sedikit pun. Dia bersandar di pilar dekat bar, menyesap minumannya pelan-pelan, sementara matanya tak lepas dari Sintia—dari bahunya yang telanjang, dari kulitnya yang putih bersih di bawah kilatan lampu, dari gaunnya yang hanya menutupi hingga di atas lutut. Bertahun-tahun dia hanya bisa menelan ludah. Malam ini, sorot matanya berbeda. Bukan lagi sekadar lapar, tapi juga sabar. Sabar seperti pemburu yang sudah menemukan jejak.
Sintia merasakan tatapan itu menempel di tengkuknya seperti sesuatu yang basah. Dia tidak menoleh. Dia sudah terlalu sering ditatap seperti itu untuk merasa perlu membalasnya.
Menjelang pukul tiga, kepalanya mulai berdenyut hebat, seolah-olah ada batu raksasa yang ditimpakan ke tengkoraknya dan perlahan ditekan. Dentuman bas yang tadi terasa seperti pelarian kini berubah menjadi palu yang memukul-mukul pelipisnya. Sintia berhenti menari, melirik jam di pergelangan tangan kanannya, lalu meraih tas tangan kecilnya dari meja.
Mungkin karena berbotol-botol minuman yang dia tenggak sejak pertama tiba. Mungkin juga karena pikiran yang sejak sore tak mau diam.
Di luar, udara dini hari menyergap kulitnya yang masih lembap. Jalanan lengang. Lampu-lampu jalan berkedip lesu, dan sisa hujan menggenang di cekungan aspal, memantulkan cahaya kuning yang pecah setiap kali angin lewat. Sintia berjalan sambil membuka tas, mencari rokok. Jarinya justru menyentuh selembar kertas yang terlipat kusut.
Dia tak perlu membukanya untuk tahu isinya. Surat tagihan dari sekolah adiknya. Dua bulan menunggak SPP. Di bagian bawah tertera tenggat yang dilingkari tinta merah, dan sebuah kalimat yang sudah dia baca belasan kali hingga hafal di luar kepala: apabila tidak dilunasi hingga batas waktu yang ditentukan, siswa yang bersangkutan tidak dapat mengikuti ujian akhir semester.
Sintia meremas kertas itu, lalu memasukkannya kembali ke tas. Tidak dibuang. Dia tak pernah sanggup membuangnya.
Adiknya adalah satu-satunya alasan dia masih bertahan di kota ini. Satu-satunya hal yang pernah dia jaga dengan seluruh dirinya, sejak mereka berdua tak punya apa-apa selain satu sama lain. Dia sudah berjanji: adiknya harus menyelesaikan sekolah, apa pun yang terjadi. Apa pun yang harus dia korbankan.
Satu pertanyaan kembali menguasai kepalanya, berputar-putar tanpa jalan keluar: bagaimana mendapatkan uang dengan cepat?
Bekerja jelas terlalu lama. Mencuri? Dia bahkan tak tahu harus memulai dari mana. Lalu, suara lain di dalam dirinya berbisik pelan, licin seperti minyak: jual saja dirimu. Pada pejabat yang perutnya buncit oleh uang haram, pada pengusaha yang istrinya tak pernah tahu. Satu malam, dan semuanya selesai.
Namun, bagian lain dirinya menolak dengan keras, nyaris disertai rasa mual. Sebab memang, Sintia benci disentuh laki-laki. Bukan sekadar tidak suka, tapi benci. Setiap kali ada tangan lelaki mendarat di bahu atau pinggangnya, ada sesuatu di dalam dirinya yang mengerut dan ingin berlari, seakan-akan tubuhnya menyimpan ingatan yang tak mau diingat oleh kepalanya. Apalagi disentuh lelaki yang sama sekali tidak dia cintai.
Dia menggeleng, mengusir pikiran itu, lalu terus berjalan.