The Syndrome: Topeng Merah

Marion D'rossi
Chapter #2

Lelaki Misterius

SEOLAH-OLAH baru disiram seember air, tubuh Sintia bersimbah keringat. Kesadarannya kembali bukan sebagai kelegaan, tapi sebagai hukuman. Napasnya memburu, dadanya naik-turun tak beraturan. Dan beban itu, beban dingin yang menindih tubuhnya, masih di sana.

Jadi, ini bukan mimpi.

Sintia mencengkeram tali yang mengikat pergelangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Otot-otot di kaki dan lengannya menegang, mengeras seperti kawat yang ditarik sampai batas. Dia tak sanggup menatap makhluk di atasnya. Dia memalingkan wajah ke dinding papan yang berbercak darah, memaksa matanya terpaku pada satu titik, seolah-olah dengan tidak melihat, semua ini bisa berhenti menjadi nyata.

Ini ilusi, katanya pada diri sendiri. Alkohol. Kelelahan. Mimpi buruk yang terlalu panjang. Sebentar lagi dia akan terbangun di kamarnya dengan kepala berdenyut dan mulut pahit, lalu menertawakan semuanya. Namun, tali itu terus menggigit kulitnya. Bau busuk itu terus menyesaki paru-parunya. Dan pertanyaan yang sama berputar-putar tanpa jawaban: apakah ini penunggu beringin itu? Apakah ini harga yang harus dia bayar karena berani meminta?

Tidak. Dia tidak akan diam saja.

Sintia meronta lagi, lebih keras dari sebelumnya. Tali itu menyayat pergelangan tangan dan kakinya, perih yang menyengat sampai ke tulang, tetapi dia tak peduli. Biar saja kulitnya robek. Biar saja dia terluka. Apa pun lebih baik daripada ini. Kalau memang harus mati malam ini, setidaknya dia mati melawan, bukan sebagai sesuatu yang dipakai lalu dibuang.

“Lepaskan!”

Suaranya pun keluar setelah entah berapa lama tersangkut di tenggorokan. Serak, tetapi lantang.

Jawabannya adalah tamparan.

Begitu keras hingga kepala Sintia terlempar ke samping dan telinganya berdenging. Rasa asin darah memenuhi mulutnya. Sebelum dia sempat menarik napas, jari-jari dingin itu mencengkeram lehernya, menekan, terus menekan, sampai udara tak lagi bisa masuk. Pandangannya berkunang-kunang. Tenaganya larut seperti garam di dalam air.

Dan kemudian, sesuatu di dalam diri Sintia memadamkan dirinya sendiri.

Dia berhenti meronta. Matanya terbuka, tetapi tak lagi melihat. Pikirannya pergi ke tempat yang jauh, tempat sunyi dan putih yang dulu, bertahun-tahun silam, selalu dia datangi setiap kali ada sesuatu yang terlalu buruk untuk dihadapi. Di sana, tubuhnya bukan lagi miliknya. Apa yang terjadi selanjutnya, terjadi pada orang lain. Pada tubuh yang tertinggal di ranjang itu.

Entah berapa lama. Bisa beberapa menit. Bisa seumur hidup.

Ketika kesadarannya merayap kembali, beban itu sudah tak ada. Dengan pandangan mengabur, Sintia melihat sosok berjubah itu turun dari ranjang dan berjalan menjauh. Hanya punggungnya yang terlihat, punggung yang tegap, langkah yang anehnya tak lagi menyeret, sebelum akhirnya menghilang di balik ambang pintu, ditelan gelap ruangan sebelah.

Sunyi.

Hanya dengung lalat. Hanya derit ranjang setiap kali tubuhnya gemetar.

Air mata Sintia jatuh tanpa suara, mengalir dari sudut mata ke telinga, membasahi kasur apak di bawah kepalanya. Tubuhnya menggigil hebat, seolah-olah dia dikubur hidup-hidup di dalam bongkahan es. Dan dari dasar hatinya, dari tempat yang sudah lama tak pernah dia jamah, sebuah nama tiba-tiba terucap. Nama yang dulu sering dia dengar semasa kecil. Nama yang tak pernah dia sebut lagi sejak dia memutuskan bahwa tak ada siapa pun di atas sana yang peduli.

Terlambat, bisik suara lain di kepalanya. Nasi sudah menjadi bubur.

Namun, bibirnya tetap bergerak.

“Tuhan ... ampuni dosa-dosaku.”

Lalu gelap menjemputnya lagi.

 

-II-

 

Yang pertama Sintia lihat saat membuka mata adalah kasur lusuh itu, dengan kecoak yang berlarian dan ulat yang menggeliat di lipatan kainnya. Dia tersentak, berguling menjauh, lalu membeku.

Dia bisa berguling.

Sintia menatap tangannya. Lalu kakinya. Tali-tali itu sudah tak ada. Yang tersisa hanya bekas merah keunguan yang melingkar di pergelangan, lecet dan perih ketika disentuh, seperti gelang yang dicetak dengan besi panas. Siapa yang melepaskannya? Makhluk itu? Untuk apa? Apakah ini belas kasihan, atau justru bagian dari permainan yang lebih kejam?

Kepalanya kembali berdenyut setiap kali dia mencoba berpikir. Jadi, dia berhenti berpikir. Pelan-pelan, dengan tubuh yang terasa remuk di setiap persendian, Sintia bangkit dan duduk di tepi ranjang.

Lalu dia melihat dirinya sendiri.

Gaun hitamnya tinggal serpihan, robek di sana-sini, menggantung dari bahunya seperti kain bekas. Ada bekas cakaran di lengan dan pahanya. Ada memar di tempat-tempat yang tak ingin dia lihat. Seketika, ingatan semalam menghantamnya kembali dengan utuh, dan kali ini tak ada tempat sunyi yang bisa dia datangi untuk bersembunyi.

Lihat selengkapnya