KEPALA Sintia dibungkus kain hitam. Mulutnya disumpal. Kedua pergelangan tangannya diikat pada lengan kursi kayu, begitu pula pergelangan kakinya pada kaki-kaki kursi. Dia tak tahu sudah berapa lama dia duduk seperti itu. Berjam-jam, mungkin. Waktu tak lagi punya bentuk di dalam gelap kain yang menempel di wajahnya, yang setiap kali dia bernapas, terisap masuk dan menempel di bibirnya.
Jika ingin tetap tegak, dia harus diam. Namun, Sintia sudah melewati batas lelahnya. Perutnya melilit, perih seperti diremas dari dalam. Dan pada titik tertentu, rasa lapar dan takut melebur menjadi sesuatu yang membuatnya tak lagi peduli pada akibat.
Dia mulai menggoyangkan tubuhnya. Ke kiri, ke kanan, makin lama makin keras, lenggak-lenggok yang sama seperti saat dia menari di kelab, hanya saja kini tanpa musik, tanpa lampu, tanpa siapa pun yang menonton. Ironis, pikirnya samar. Ternyata kelenturan itu berguna juga. Kursi itu terayun, oleng, lalu terbanting ke sebelah kanan. Bahunya menghantam lantai lebih dulu, disusul kepalanya.
“Hmm! Hmm!”
Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya yang tersumpal. Namun, siapa pun yang mendengar pasti mengerti artinya: lepaskan aku. Lepaskan aku dari semua ini.
Dari celah-celah kecil anyaman kain di kepalanya, dia bisa melihat sedikit. Ruangan sempit tempatnya disekap hanya diterangi lampu minyak yang remang. Namun, dari ambang pintu di depannya, menyorot cahaya yang jauh lebih terang, putih dan tajam. Di tengah hutan antah berantah ini, dari mana cahaya seterang itu datang?
Lalu dia mendengarnya.
Tok. Tok. Tok.
Derap sepatu pantofel di atas lantai kayu. Teratur, tidak terburu-buru. Beberapa hari ini, bunyi itulah yang selalu mendahului kedatangannya. Sintia sudah hafal ritmenya sebagaimana dia dulu hafal dentuman lagu-lagu di kelab. Bedanya, yang satu ini membuat seluruh kulitnya meremang.
Dia. Lelaki itu. Lelaki yang telah merenggut segala yang tersisa darinya, bukan hanya sekali, tapi berulang-ulang, setiap kali dia mau, seolah-olah tubuh Sintia adalah gawang tanpa penjaga yang bisa dibobol sesuka hati.
“Hmm! HMM!”
Sintia meronta lebih keras. Kursi yang menindihnya bergeser, berderit menggesek lantai kotor yang di setiap sudutnya bertebaran kotoran tikus.
Bunyi sepatu itu berhenti. Cahaya terang yang menembus celah kain tiba-tiba lenyap, terhalang sesuatu yang besar. Lelaki itu berdiri tepat di depannya.
Sintia mendongak sebisanya, berusaha melihat. Sia-sia. Yang tampak hanya siluet gelap berlatar cahaya. Dan sebelum dia sempat melakukan apa pun, sesuatu yang keras dan dingin menekan lehernya. Sol sepatu. Lelaki itu menginjak lehernya, tidak cukup keras untuk mematahkan, tetapi cukup untuk membuatnya tersedak.
Sintia memberontak, menjerit tertahan di balik sumpalan.
“Hei. Diam.”
Suara itu tidak meninggi. Tidak perlu, memang.
Sintia terkesiap. Dan tanpa bisa dicegah, air matanya kembali jatuh. Dia tak mengerti dirinya sendiri. Seumur hidup, dia tak pernah takut pada apa pun, tidak pada lelaki hidung belang di kelab, tidak pada preman di gang gelap, tidak pada kelaparan. Dia sudah melewati semuanya sendirian. Namun, kali ini berbeda. Kali ini, dia merasa sedang dihukum.
Dan kalau ini hukuman, siapa yang menjatuhkannya?
Tuhan? Jika ya, maka Tuhan yang dia kenal bukanlah Tuhan Yang Maha Pengasih seperti yang dulu diajarkan kepadanya. Tuhan baginya kini lebih mirip algojo, yang mencatat setiap dosanya dengan teliti, lalu menagihnya sekaligus, berikut bunganya, di gubuk busuk di tengah hutan ini.
Injakan di lehernya terangkat. Terdengar bunyi sesuatu diletakkan di lantai. Lalu sebuah aroma menyusup lewat celah kain, dan seluruh tubuh Sintia bereaksi sebelum pikirannya sempat menolak.
Nasi goreng. Masih hangat. Bawang putih, kecap, minyak, dan udang yang digoreng garing. Lalu aroma lain, segar dan asam: jus jeruk. Perutnya bergemuruh begitu keras hingga dia pun merasa malu. Air liurnya mengalir tanpa bisa ia tahan.
Lelaki itu menarik lepas kain dari kepalanya.
Cahaya menusuk mata Sintia. Dia mengerjap, memicing, dan perlahan sosok di hadapannya menjadi jelas. Topeng itu lagi, topeng merah dengan mata yang menjuntai dan batok kepala yang terkelupas. Namun, kali ini tak ada jubah. Lelaki itu mengenakan setelan jas hitam yang rapi, kemeja putih bersih di baliknya, dan sepatu pantofel yang mengilap. Pakaian orang yang hendak menghadiri rapat direksi, atau pemakaman. Di tengah gubuk kumuh itu, kerapian itulah yang justru terasa paling mengerikan.
Dada Sintia naik-turun. Dia menatap topeng itu, lalu menatap nampan di lantai, tak jauh dari wajahnya. Sepiring nasi goreng dengan udang tersusun di atasnya. Segelas jus jeruk dengan sedotan. Bagian dirinya yang masih punya harga diri ingin meludahi semuanya. Bagian lain, yang lebih besar, yang sudah berhari-hari tak makan, hanya ingin hidup.
Lelaki itu berjongkok dan melepas sumpalan di mulutnya. Namun, ikatan di tangan dan kakinya tetap dibiarkan. Kursi itu pun tetap rebah di sisi kanan, bersama tubuh Sintia yang terikat padanya. Lelaki itu tak menunjukkan niat sedikit pun untuk menegakkannya.
“Makan,” katanya. “Pakai mulut. Tidak perlu tangan.” Dia berhenti sejenak, seolah-olah memberi waktu bagi kata-kata berikutnya untuk meresap. “Makan seperti anjing makan.”
Sesuatu di dalam diri Sintia terbakar. Lelaki ini bukan sekadar biadab. Dia gila—orang gila yang sudah membuang Tuhan dari hidupnya dan kehilangan sisa-sisa kemanusiaannya. Dan orang gila semacam itu menginginkannya merangkak di lantai seperti binatang.
Namun, lapar tak mengenal harga diri.
Sintia memejamkan mata sebentar. Lalu dia menjulurkan leher, menyeret wajahnya di lantai, dan menggigit nasi dari piring itu. Butir-butir nasi menempel di pipi dan dagunya. Minyak melumuri bibirnya. Dia mengunyah sambil menangis, menelan sambil menangis, dan terus makan, karena tubuhnya menuntut, karena dia ingin hidup, karena dia harus hidup.