The Syndrome: Topeng Merah

Marion D'rossi
Chapter #4

Gubuk Reyot

RADIT sudah tiga hari tidak tidur dengan benar. Riwayat panggilan di ponselnya dipenuhi satu nomor yang sama, dan setiap panggilan berakhir di suara operator yang dingin: nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.

Ironinya, beberapa hari lalu justru Sintia yang mengejar-ngejarnya. Perempuan itu datang ke kantornya, menagih jadwal pemotretan dengan sorot mata yang tak bisa menyembunyikan kepanikan. Radit menolaknya dengan halus, bahwa jadwal sedang padat, katanya, lagi pula dia sedang mencari wajah-wajah baru. Sekarang, setelah melihat hasil uji foto para talenta baru itu, dia sadar telah membuat keputusan bodoh. Tak satu pun dari mereka punya apa yang Sintia punya.

Sintia bukan sekadar cantik. Kecantikan bisa dibeli di klinik mana pun di kota ini. Sintia punya sesuatu yang lain: sepasang mata cokelat yang seolah menyimpan rahasia, dan bibir merah yang jarang tersenyum, justru karena jarang, setiap senyumnya terasa seperti hadiah. Di depan kamera, dia mampu membuat siapa pun yang memandang fotonya merasa sedang ditatap balik. Para lelaki memujanya dari jauh; para istri diam-diam membencinya. Dan Radit, orang yang menjual wajah itu, tahu persis berapa harganya.

Dua kali ia mendatangi rumah kontrakan Sintia. Pintunya terkunci, jendelanya gelap, dan sepasang sandal di teras masih berada di posisi yang sama. Para tetangga hanya menggeleng. Tak seorang pun melihatnya pulang.

Hanya satu tempat yang tersisa: Marina Cafe & Bar di utara kota, kelab yang hampir setiap malam disinggahi Sintia.

Malam itu, lelaki berkumis tipis dengan berewok tipis di rahangnya itu menerobos keramaian di pintu masuk. Musik berdentum, lampu-lampu berputar menyapu wajah-wajah asing. Dia mengitari lantai dansa, memeriksa sudut-sudut bar, lalu naik ke lantai dua. Banyak perempuan berdandan mirip Sintia malam itu—rambut panjang, gaun ketat, lipstik merah menyala—tetapi tak seorang pun dari mereka adalah perempuan yang ia cari.

Di sebuah meja dekat pagar balkon, Radit berhenti.

“Permisi. Kalian pernah lihat cewek, lebih tinggi dari gue, matanya agak sipit, kulitnya putih, rambut panjang sepunggung, mukanya tirus? Dia lumayan terkenal di sini.”

Para perempuan di meja itu saling pandang sambil mengernyit.

“Nggak, deh. Kayaknya nggak pernah lihat. Iya, kan?” kata salah satunya, menunggu persetujuan teman-temannya. Semua mengangguk, kecuali seorang perempuan berbibir merah yang tiba-tiba mengangkat tangan.

“Maksud lo Sintia?”

Wajah Radit langsung terang. “Iya! Lo kenal dia? Tahu dia di mana sekarang?”

Perempuan itu memutar bola matanya, menggali ingatan yang ternyata tak terlalu jernih. Malam itu dia sendiri juga mabuk berat.

“Terakhir gue ketemu dia ... tiga hari lalu, kayaknya. Tumben banget dia pulang cepet, jam tiga udah cabut. Katanya kepalanya pusing. Ya udah, gue biarin aja dia pulang sendiri.”

“Terus setelah itu?”

Perempuan itu menggeleng pelan. “Sori. Gue nggak tahu sama sekali.”

Radit mengembuskan napas panjang. Hanya satu kemungkinan yang masuk akal di kepalanya: Sintia pulang kampung. Dia ingat betul, waktu menagih pekerjaan, Sintia sempat menyebut butuh uang untuk dikirim ke kampung, karena SPP adiknya sudah menunggak. Barangkali perempuan itu sudah lelah menunggu kabar darinya, lalu mencari pekerjaan di tempat lain.

Kemungkinan itu terasa masuk akal. Dan justru karena terasa masuk akal, Radit pun berhenti mencari.

“Thanks, ya. Gue cabut dulu.”

Dari balik kaca gelap sebuah ruangan di lantai atas—ruangan yang hanya boleh dimasuki pihak manajemen—sepasang mata kuning setajam elang mengikuti punggung Radit hingga lenyap di pintu keluar. Pemiliknya berdiri tegap, tinggi, dalam setelan hitam yang licin dan pantofel yang mengilap. Dia merogoh saku celana bahannya, mengeluarkan sebuah benda kecil seukuran koin, lalu memutarnya pelan di antara jari-jari: sebuah GPS tracker.

Satu sudut bibirnya tertarik ke atas.


Lihat selengkapnya