SINTIA mundur selangkah. Lalu selangkah lagi, sampai punggungnya menyentuh kusen pintu yang lapuk.
Di bawah cahaya kuning yang merembes dari ambang pintu, perempuan itu tampak lebih jelas. Gaun putihnya sudah berubah kelabu, cokelat di bagian ujung. Pergelangan kaki dan tangannya dibelenggu rantai besi berkarat yang ujungnya terkunci gembok besar pada tiang kayu di tengah ruangan. Kulit di bawah belenggu itu lecet dan menghitam, seperti sudah terlalu lama tak pernah merasakan udara.
Bukan hantu, batin Sintia. Hantu tidak perlu dirantai.
“Tolong ... saya,” ulang perempuan itu. Suaranya parau, nyaris habis, seperti suara seseorang yang sudah terlalu lama memanggil tanpa pernah ada yang menjawab.
Di luar, derap langkah itu terdengar lagi. Lebih dekat. Lebih berat.
Seluruh tubuh Sintia berteriak menyuruhnya lari. Pintu ada di belakangnya. Hutan ada di balik pintu itu. Dia bisa pergi sekarang, meninggalkan perempuan ini, dan tidak menoleh lagi, persis seperti yang selama ini dia lakukan pada segala hal yang bukan urusannya. Bertahun-tahun di kelab malam mengajarinya satu aturan: jangan peduli, karena peduli itu mahal.
Namun, kakinya tak mau bergerak.
Binar di mata perempuan itu menahannya. Sintia mengenali binar itu. Dua malam lalu, mungkin tiga—dia sudah tak bisa menghitung—matanya sendiri pasti memancarkan binar yang sama: harapan kecil yang menyedihkan, yang terus menyala meski tahu tak seorang pun akan datang.
“Maaf, aku harus—”
“Lelaki itu.” Perempuan itu memotongnya. Air matanya meluncur, meninggalkan jalur bersih di pipinya yang kotor. “Dia ... akan kembali.”
Sintia membeku. Dia tidak perlu bertanya lelaki yang mana. Hanya ada satu lelaki di dunia kecil yang gelap ini. Lelaki yang mengikatnya, menyuruhnya makan seperti binatang, dan merenggut sesuatu darinya yang tak akan pernah bisa dikembalikan.
Jadi, aku bukan satu-satunya.
Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada rasa takut.
“Aku akan membebaskanmu,” kata Sintia. Dia sendiri terkejut mendengar suaranya begitu mantap. “Tunggu sebentar.”
Dia berlutut di depan rantai itu dan meraba gemboknya. Berat, dingin, sama sekali tak bergeming. Tidak ada kunci. Tidak ada linggis, tidak ada pisau, tidak ada apa pun di ruangan itu selain kursi lapuk, tumpukan kain busuk, dan ... sebongkah batu sebesar kepalan tangan di dekat kaki kursi.
Sintia menyambarnya. Tumitnya yang tertusuk paku berdenyut setiap kali dia bertumpu, tapi dia tak peduli.
Tang!
Batu menghantam gembok. Serpih karat beterbangan.
Tang! Tang!
“Ayolah,” desis Sintia. “Ayolah!”
Gembok itu hanya tergores. Rantainya tetap utuh, seakan-akan menertawakannya.
Di sela bunyi batu, Sintia menajamkan telinga. Langkah di luar tak lagi terdengar jauh. Kini ada bunyi lain, ranting patah terinjak, tepat di depan gubuk.
Perempuan berbaju putih itu mencengkeram lengan Sintia. Jemarinya dingin dan gemetar. Di bawah cahaya kuning yang redup, untuk sesaat keduanya tampak serupa: dua perempuan berambut kusut dengan wajah bernoda lumpur, dua kecantikan yang sengaja dikubur di tempat yang tak pernah didatangi siapa pun.
Pintu berderit terbuka.
Sosok itu berdiri di ambang pintu, membelakangi cahaya kuning sehingga tubuhnya hanya berupa siluet yang tinggi dan lebar. Topeng merah itu lagi. Setelan hitam itu lagi. Pantofelnya tetap mengilap meski baru menginjak tanah becek, seakan-akan lumpur pun segan menempel padanya. Tangan kanannya menggenggam sebatang kayu dari cabang pohon, sebesar lengan orang dewasa.
Di punggung tangan kirinya, Sintia melihat bekas gigitan yang masih memerah.