The Syndrome: Topeng Merah

Marion D'rossi
Chapter #6

Memberi dan Menerima

SINTIA pernah mengira kehilangan punya dasar, satu titik terendah tempat seseorang akhirnya berhenti jatuh. Malam itu dia belajar bahwa dugaannya keliru. Dia telah kehilangan uang, pekerjaan, kebebasan, dan kesucian yang dulu diam-diam dia jaga untuk seorang lelaki yang kelak akan dia pilih sendiri. Satu-satunya yang belum direnggut darinya hanyalah keyakinan yang baru semalam dia pungut kembali dari dalam gelap. Dan dia memeluk keyakinan itu erat-erat, seperti orang tenggelam memeluk sebatang kayu.

Dia mencoba mengingat apa yang dulu sering dibisikkan ibunya sebelum tidur: tangan yang memberi tidak pernah benar-benar kosong. Siapa yang menyerahkan hatinya kepada Tuhan akan menerima lebih banyak daripada yang sanggup dia minta. Sintia ingin memercayai itu. Dia memusatkan pikiran, melepaskan amarahnya satu per satu seperti melepas simpul tali, dan menyerahkan apa pun yang tersisa dari dirinya kepada sesuatu yang jauh lebih besar daripada gubuk busuk ini. Dia tidak tahu bahwa malam itu, yang akan dia terima bukanlah jawaban.

Pintu terbuka tanpa diketuk.

Tok. Tok. Pantofel itu lagi.

Stevano tidak memakai topeng. Dia tidak perlu lagi bahkan. Wajah yang biasa tersenyum dari baliho-baliho di pinggir jalan kini menunduk ke arah Sintia dengan raut yang nyaris bosan, seperti orang yang datang untuk menuntaskan pekerjaan yang tertunda. Punggung tangan kirinya masih dibalut kain—bekas gigitan Sintia belum sembuh. Dan mata kuning keemasan itu menyimpan sesuatu yang lebih gelap daripada nafsu: dendam. Sintia hanya tidak tahu dendam terhadap apa.

Sintia menendang. Rantai di pergelangan kakinya berdentang menghantam lantai. Dia mencakar, meronta, berteriak sampai tenggorokannya terasa robek. Gaun hitamnya yang sudah compang-camping kini nyaris tak bersisa.

Lalu, seperti sebelumnya, pikirannya pergi.

Dia menatap langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba. Seekor laba-laba merayap pelan di benangnya, tak peduli. Sintia menghitung kakinya. Delapan. Dia menghitung lagi. Delapan. Ingatannya timbul-tenggelam seperti siaran radio yang kehilangan sinyal. Di suatu tempat yang jauh, dia melihat dirinya sendiri sedang menangis, seorang perempuan kecil di tengah ruang kosong, tanpa siapa pun. Seolah-olah dia hanya penonton yang duduk di depan layar raksasa, menyaksikan drama paling ironis yang pernah ditulis untuk seseorang.

Di sudut ruangan, perempuan berbaju putih itu meronta di ujung rantainya. Dia menjerit, mengumpat, memaki dengan segala kata kotor yang dia tahu, sampai suaranya habis dan yang tersisa hanya isak. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan. Bagi seorang perempuan, mungkin tak ada luka yang lebih dalam daripada itu, melihat perempuan lain dihancurkan di depan mata, dan tahu dirinya tak berdaya.

Hutan di luar sana luas dan bisu. Tak ada telinga yang mendengar. Tak ada pintu yang akan didobrak. Hanya jangkrik, angin, dan napas seorang lelaki yang menjadikan penderitaan orang lain sebagai pelampiasan.

“Mati kamu, Perempuan Jalang!”

Ketika semuanya selesai, Stevano bangkit dan merapikan kemejanya dengan gerakan teliti, seakan baru keluar dari ruang rapat. Wajahnya berseri, tetapi sorot elang itu tetap dingin dan mematikan. Dia meludah tepat di wajah Sintia. Lalu, tanpa sepatah kata pun, dia membuka gembok di pergelangan kaki Sintia dan melemparkan rantainya ke lantai.

Bukan belas kasihan. Sintia tahu itu. Lelaki itu tak lagi merasa perlu mengikatnya, karena dia yakin Sintia sudah tak punya apa-apa untuk dibawa lari, bahkan dirinya sendiri.

Pintu dibanting. Langkah pantofel itu menjauh, makin samar, lalu hilang ditelan hutan.


Tak ada yang tahu—tidak Radit, tidak juga teman-temannya di kelab—bahwa Sintia Rahmawati tidak lahir dari keluarga susah. Justru sebaliknya. Ayahnya pengusaha kaya raya yang kini duduk di kursi dewan, wajahnya terpampang di spanduk-spanduk kampanye dengan senyum yang sama ramahnya dengan senyum Stevano di baliho. Masa remaja Sintia dulu berjalan sempurna: rumah besar, meja makan yang selalu penuh, dan rapor yang tak pernah turun dari peringkat pertama. Dia memenangi lomba demi lomba antarsekolah, dan setiap piala yang dia bawa pulang dia letakkan di lemari kaca ruang tamu, tempat ayahnya bisa melihatnya setiap pagi.

Itu dulu. Sebelum dia belajar bahwa wajah yang paling ramah bisa menyimpan hal yang paling busuk.

“Ayah, lulus SMA nanti, Sintia mau masuk sekolah mode. Ayah 'kan tahu Sintia suka sekali menggambar model baju,” katanya suatu pagi, beberapa bulan setelah pemakaman ibunya.

Pagi itu masih hangat, seperti pagi-pagi lain. Ada roti bakar berselai stroberi, ada aroma kopi ayahnya, ada adiknya yang mengunyah sambil menunduk, anak itu memang tak pernah banyak bicara, apalagi sejak ibu mereka tiada. Sintia kerap membaca novel tentang keluarga yang hancur berantakan, dan setiap kali menutup buku, dia berjanji dalam hati bahwa keluarganya tidak akan pernah seperti itu. Kehilangan ibu sudah cukup. Mereka bertiga akan saling menjaga.

Pria berkumis tebal di seberang meja mengernyit.

“Kayaknya itu nggak cocok buat kamu, Sayang. Kamu harus sekolah tinggi, jadi orang penting. Bukan pegiat seni. Pegiat seni itu nggak punya uang, buat makan sehari-hari saja susah.” Dia tersenyum—senyum yang dibuat-buat, senyum yang biasa dia pasang di depan kamera wartawan.

Wajah Sintia surut. Dia meletakkan sendok dan garpunya tanpa menghabiskan sarapan, lalu berangkat tanpa pamit. Yang paling menyakitkan bukanlah penolakan itu, melainkan kenyataan di baliknya: selama ini ayahnya sering melihatnya menggambar, memuji sketsa-sketsanya, menepuk kepalanya. Ternyata semua pujian itu hanya basa-basi. Mimpinya tidak pernah benar-benar dianggap.

Sepanjang pelajaran dia tak bisa fokus. Namun, seperti remaja pada umumnya, sehari kemudian rasa kesalnya sudah memudar. Ayah hanya khawatir, pikirnya. Ayah hanya ingin yang terbaik.

Lihat selengkapnya