The Syndrome: Topeng Merah

Marion D'rossi
Chapter #7

Psikopat Sinting

WANITA berbola mata cokelat itu sebenarnya bisa pergi. Rantai di pergelangan kakinya sudah dilepas. Tak ada lagi yang menahannya di gubuk itu, kecuali satu hal: Fira.

Sintia menatap perempuan yang meringkuk di lantai tanah itu, dengan rantai yang masih terkunci pada pasak besi. Dadanya naik-turun pelan. Tidurnya gelisah, sesekali disertai rintihan kecil, seperti anak yang sedang bermimpi buruk.

Bagaimana mungkin aku pergi sendirian? batin Sintia. Tangan yang memberi tidak pernah benar-benar kosong—begitu kata ibunya dulu. Dan saat ini, satu-satunya yang bisa dia berikan adalah tidak meninggalkan Fira.

Maka dia mulai mencari. Apa saja: paku, kawat, potongan besi, apa pun yang cukup tajam untuk mengorek lubang gembok atau cukup keras untuk menghantamnya.

Ruangan di sebelah lebih gelap. Cahaya bohlam kuning dari ambang pintu hanya menjangkau separuh lantai. Baunya pun berbeda, bukan apak, bukan lumut, tapi manis yang busuk, layaknya buah yang dibiarkan terlalu lama. Di sudut dinding, Sintia melihat tumpukan tulang kecil berwarna putih kekuningan. Tulang hewan, pikirnya. Atau setidaknya, dia memaksa dirinya berpikir begitu.

Lalu matanya menangkap sesuatu yang menyembul dari tanah di dekat tumpukan itu. Putih lusuh, membulat, setengah terkubur. Harapan menyambar lebih cepat daripada akal sehat. Batu? Kaleng? Apa pun itu, mungkin bisa dipakai. Sintia menjatuhkan lututnya ke tanah dan menggali dengan kedua tangan. Kukunya yang patah kemasukan tanah basah, jemarinya perih, tetapi dia terus mengais seperti anjing kelaparan yang mencium tulang.

Keringat menetes dari dagunya. Benda itu tertanam lebih dalam dari dugaannya. Dia mencengkeramnya, menarik sekuat tenaga, sekali, dua kali, sampai benda itu terlepas dan tubuhnya terjengkang ke belakang.

Dia mengangkatnya ke arah cahaya.

Dua lubang hitam balas menatapnya.

Tengkorak. Tengkorak manusia, dengan cacing yang menggeliat keluar dari rongga matanya dan semut-semut kecil berbaris di sepanjang tulang rahang.

Sintia menjerit. Tengkorak itu terlempar dari tangannya, menggelinding, lalu jatuh kembali ke lubang yang baru saja dia gali, seolah tahu di mana tempatnya.

“Ya Tuhan ... ya Tuhan ....” Dia mengusap dada berkali-kali. Napasnya tercabik-cabik. Ada dorongan untuk menjerit lagi, memaki, memuntahkan semua yang menyesak di dadanya. Namun, dia menggigit bibirnya sendiri. Menjerit tidak akan mengubah apa pun. Menjerit hanya akan memanggil laki-laki itu.

Di tengah gemetarnya, sebuah pikiran asing menyelinap. Bagaimana kalau aku menyerah saja? Ada orang-orang yang memilih mati daripada hidup sengsara. Kenapa manusia tidak pernah ditanya dulu, mau dilahirkan atau tidak?

Pikiran itu menakutkannya lebih daripada tengkorak tadi. Sebab, sekeras apa pun hidup menghantamnya, pemakaman ibunya, pengkhianatan ayahnya, malam-malam panjang di balik meja bar, dia tidak pernah sekali pun berniat mengakhiri hidupnya sendiri. Dia selalu berlari. Dia selalu bangkit. Dan dia tidak akan membiarkan Stevano Erlangga merampas yang satu itu juga.

Sintia menelan ludah, lalu merangkak kembali ke tepi lubang. Kali ini, dia menggali bukan karena berharap. Dia menggali karena harus tahu.

Maka tangannya bergerak makin cepat. Tulang demi tulang muncul dari tanah: rusuk yang melengkung seperti sangkar, tulang lengan, tulang paha, ruas-ruas kecil jari yang tercerai-berai. Dia mengeluarkannya satu per satu dan menyusunnya di lantai seperti kepingan teka-teki, sampai sesosok kerangka utuh terbaring di hadapannya. Kecil. Ramping. Seukuran perempuan.

Lalu Sintia memungut kembali tengkorak itu dan memiringkannya ke arah cahaya.

Di bagian belakang kepala ada sebuah lubang. Bulat, dengan retakan yang menjalar seperti jaring laba-laba.

“Kenapa ada lubang di kepalanya?” bisiknya.

Dia tidak perlu menjadi dokter untuk menebak jawabannya. Pemilik tengkorak itu tidak mati karena sakit. Kepalanya dihantam—atau ditembak—dari belakang. Mungkin saat dia sedang berlari. Mungkin saat dia berlutut. Dan tanah yang menimbunnya sudah memadat dan berlumut. Ini bukan kejadian kemarin. Ini sudah bertahun-tahun.

Sintia menatap kerangka itu lama sekali.

Ternyata dia bukan yang pertama. Fira juga bukan. Dan entah berapa lagi yang terkubur di bawah lantai gubuk ini, tepat di bawah kakinya.

Psikopat. Kata itu muncul begitu saja di kepalanya, dingin dan tepat. Bukan sekadar lelaki jahat. Bukan sekadar orang kaya yang kehilangan akal. Stevano Erlangga melakukan semua ini dengan sabar, dengan teratur, bertahun-tahun, sementara wajahnya tetap tersenyum di baliho-baliho kota.

Lalu ingatan lain menyusul dan membuat bulu kuduknya meremang. Wajah itu tidak hanya dia kenal dari majalah. Dia pernah melihatnya langsung, di Marina Cafe & Bar. Lelaki bersetelan hitam yang sesekali berdiri di depan ruang manajemen di lantai atas, memandangi lantai dansa dengan gelas di tangan. Sang pemilik. Beberapa kali mata mereka bertemu, dan Sintia selalu yang lebih dulu membuang pandang. Dia kira itu tatapan biasa, tatapan yang dia terima dari seratus lelaki setiap malam. Ternyata bukan. Ternyata selama ini dia sedang diukur. Dipilih.

Sintia kembali ke ruangan Fira dengan tangan kosong. Tidak ada kunci. Tidak ada senjata. Hanya kerangka di ruangan sebelah dan satu kepastian yang menggerogoti: kalau dia hanya menunggu di sini, mereka berdua akan berakhir di dalam tanah yang sama.

Lihat selengkapnya