KAKI Sintia ditarik sekuat jerat. Dia menyentak, menendang, mencakar tanah basah di tepi sungai, tetapi jemari hangus itu tak mau lepas. Kulit yang melepuh terasa lengket di pergelangan kakinya, panas dan licin sekaligus, seperti menyentuh lilin yang baru meleleh.
Sosok itu tertawa. Tawanya serak dan pecah di beberapa tempat, seolah tenggorokannya pun ikut terbakar. Lalu dia mengucapkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Sintia berdiri serentak dan udara malam mendadak terasa beku.
“Ikutlah ke neraka bersamaku!”
Di bawah cahaya bulan yang pucat, Sintia akhirnya bisa melihatnya dengan jelas. Perempuan itu, Sintia yakin dia perempuan, dari bentuk tubuh dan suaranya, nyaris tak lagi berwujud manusia. Rambutnya habis. Tak sehelai kain pun tersisa di tubuhnya; yang ada hanya kulit yang menghitam, merekah, dan basah. Dadanya naik-turun tersendat-sendat, seperti mesin yang kehabisan bahan bakar. Dia sedang sekarat. Namun, justru karena itu cengkeramannya begitu kuat. Orang yang tak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan selalu memegang dengan cara paling putus asa.
Apakah dia juga korban lelaki itu? Pertanyaan itu melintas sekejap di benak Sintia, lalu tenggelam oleh rasa takut.
“Lepaskan! Lepaskan aku!”
Sintia menendang sekali lagi, sekuat yang dia bisa. Tumitnya mengenai sesuatu yang keras—dahi, mungkin, atau tulang pipi—dan cengkeraman itu akhirnya mengendur. Dia menarik kakinya, merangkak mundur, lalu bangkit terlalu cepat.
Dia tak melihat batu sebesar kepala di bibir sungai. Kakinya pun tergelincir. Tubuhnya terpelanting, dan sebelum sempat berteriak, air hitam itu sudah menelannya.
Dingin. Itu yang pertama dia rasakan. Lalu arus, jauh lebih deras daripada yang tampak dari tepian. Sungai yang terlihat kecil itu ternyata dalam, melebihi tinggi tubuhnya. Kakinya menendang-nendang mencari dasar yang tak pernah ada. Sintia tak pandai berenang. Dia hanya bisa menggapai-gapai, menelan air, muncul sesaat, lalu tenggelam lagi.
“Tolong!”
Teriakan itu tak sampai ke mana-mana. Tak ada yang akan datang; dia tahu itu. Di sela kepalanya yang timbul tenggelam, dia sempat melihat sosok gosong di tepi sungai itu tak lagi bergerak, terbaring diam, seolah sedang menunggu Sintia menyusulnya.
Ikutlah ke neraka bersamaku.
Arus membawanya pergi. Dan Sintia, yang sudah terlalu lelah untuk melawan, menyerahkan dirinya pada gelap.
-II-
Stevano Erlangga bersandar di sofa kulit ruang tamu rumahnya, rumah yang lebih pantas disebut istana. Lampu kristal menggantung dari langit-langit setinggi dua lantai, memantulkan cahaya keemasan ke lantai marmer yang dingin. Di sekelilingnya, empat perempuan bergaun warna-warni bergantian menuangkan anggur, menyentuh bahunya, berbisik di dekat telinganya.
Mereka semua sewaan. Seperti hampir segala hal lain di rumah itu.
Stevano selalu begitu: membeli kesenangan dengan uang, membeli apa pun yang bisa meredakan sesuatu yang terus bergolak di dalam dirinya. Namun, ada yang tak pernah bisa dia beli. Matanya, kuning keemasan, setajam mata elang, tak pernah benar-benar memancarkan cahaya. Orang-orang menyebutnya misterius. Para perempuan menyebutnya memesona. Tak seorang pun sadar bahwa yang mereka lihat di balik mata itu hanyalah kekosongan.
Di luar sana, dunia mengenalnya sebagai pebisnis muda paling sukses di kota itu. Wajahnya menghiasi sampul majalah dan baliho di persimpangan jalan. Jarang bicara, jarang muncul di depan umum, tak pernah tersandung skandal. Gadis-gadis menyimpan fotonya. Ibu-ibu di warung membicarakannya seperti membicarakan pangeran dalam sinetron. Dan para perempuan sewaannya, tak jarang mereka jatuh hati sungguh-sungguh, rela menukar bayaran mereka dengan satu senyum tulus darinya.
Senyum yang tak pernah datang.
Malam itu, tak satu pun sentuhan mereka berhasil. Stevano tampak lebih murung dari biasanya. Alisnya yang tipis dengan ujung mencuat itu terkulai. Garis-garis wajahnya kaku, seperti patung yang lupa cara bernapas. Dia hanya menatap layar televisi besar di dinding seberang.
Berita malam sedang menayangkan daftar orang hilang. Foto-foto perempuan berganti satu per satu di layar: seorang mahasiswi yang tak pulang setelah kerja kelompok, seorang pelayan restoran, seorang ibu muda. Ada yang dinyatakan hilang lebih dari setahun. Ada yang berbulan-bulan. Ada yang baru beberapa hari.
Tak ada wajah Sintia di sana. Tak seorang pun melaporkannya.
Stevano meraih remote dan menekan tombol merah. Layar menghitam, memantulkan bayangannya sendiri.