MENYERAH bukan pilihan. Sintia sudah lama memegang prinsip itu, jauh sebelum gubuk reyot, topeng merah, dan lelaki bermata kuning masuk ke dalam hidupnya. Nyawa adalah pinjaman, begitu kata ibunya dulu, dan barang pinjaman harus dijaga sampai tiba waktunya dikembalikan, bukan dibuang di tengah jalan hanya karena jalannya terjal.
Prinsip itu sudah berkali-kali diuji. Wajah cantik dan tubuh yang dipuja kamera tak pernah benar-benar menjadi berkah baginya. Di balik setiap pujian selalu ada tangan yang ingin menyentuh lebih jauh. Di balik setiap tawaran kerja, ada kartu nama pejabat yang diselipkan bersama nomor kamar hotel. Lelaki-lelaki berjas yang di televisi fasih bicara soal moral bangsa itu, di belakang layar, memandangnya seperti hidangan. Sintia selalu menolak. Dan setiap kali menolak, dia teringat ayahnya, lelaki yang juga duduk di kursi dewan, yang juga pandai berpidato soal keluarga.
Apa sebenarnya yang dicari laki-laki sepanjang hidup mereka? pikirnya getir. Apakah hanya tubuh? Apakah semua yang lain cuma kedok?
Namun, Sintia tahu dia tidak bertahan demi dirinya sendiri. Kalau hanya untuk dirinya, mungkin sudah lama dia menyerah. Dia bertahan demi Farhan, adik laki-lakinya, satu-satunya keluarga yang masih dia akui. Selama SPP adiknya belum lunas, selama bocah itu belum lulus sekolah dan bisa berdiri di atas kakinya sendiri, Sintia tidak punya hak untuk tumbang.
Dia masih ingat hari ketika semuanya dimulai.
“Kak, kita mau ke mana?”
Hari itu Selasa. Langit kelabu menggantung rendah di atas sebuah kampung sepi yang jauh dari kota. Sintia menggandeng tangan Farhan menyusuri jalan tanah yang becek. Tas ransel di punggungnya hanya berisi beberapa potong baju, seragam sekolah adiknya, dan selembar foto ibu mereka yang sudut-sudutnya mulai lecek. Selain sedikit tabungan yang habis untuk ongkos bus, dia tak membawa apa-apa. Semua yang dibeli dengan uang ayahnya dia tinggalkan di rumah besar itu. Dia tidak sudi menjilat sepeser pun dari lelaki yang telah mengkhianati ibunya.
Di ujung jalan, sebuah warung kecil berdinding papan berdiri sendirian. Beberapa warga keluar-masuk membeli rokok, gula, atau sekadar menambah utang. Aroma gorengan menguar dari sana dan membuat perut Sintia melilit. Dia melirik bangku rotan di depan warung itu, lalu memalingkan wajah. Sisa uang di sakunya hanya cukup untuk sebungkus nasi, dan nasi itu harus untuk Farhan. Dia boleh lapar. Adiknya tidak.
“Kak? Kok nggak jawab? Kenapa kita ninggalin rumah?”
Sintia menengadah. Awan hitam berarak pelan, pucat dan berat, persis seperti perasaannya. Sebentar lagi hujan.
Bagaimana menjelaskan kepada bocah kelas empat SD bahwa rumah sebesar itu sudah tak punya tempat untuk mereka? Bahwa sejak ibu mereka dimakamkan, ayah mereka menjelma orang asing, sibuk dengan kursi jabatan, rekan bisnis, dan perempuan yang kini menyuruh mereka memanggilnya “Mama”? Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Meja makan tetap penuh, lampu-lampu tetap menyala. Namun, kehangatan di rumah itu sudah ikut terkubur bersama ibu mereka.
“Kita ke rumah Nenek,” jawab Sintia akhirnya. Suaranya dibuat setegar mungkin. “Mulai sekarang kita hidup berdua. Kita nggak akan balik lagi ke rumah itu. Nggak akan pernah.”
Dalam hati, dia bersumpah akan mengubur semua kenangan di rumah itu, yang manis maupun yang pahit.
Farhan diam. Dia belum mengerti banyak hal. Yang dia tahu, ibunya sudah pergi, lalu tak lama kemudian datang perempuan lain yang tidur di kamar ibunya, memakai cangkir kesayangan ibunya, dan tertawa terlalu keras di meja makan. Dia benci perempuan itu, meski tak tahu persis mengapa. Bagi kepala kecilnya, tidak masuk akal bahwa seseorang bisa mencintai dua orang sekaligus. Atau mungkin—dan pikiran ini jauh lebih menakutkan—ayahnya memang tak pernah benar-benar mencintai ibunya.
Hujan turun tanpa aba-aba. Sintia menarik lengan adiknya dan berlari ke emperan sebuah toko kelontong yang tutup. Air menderas dari ujung seng, memercik ke kaki mereka. Sintia menatap tirai hujan itu dengan kepala kosong. Dia tidak punya rencana. Dia hanya punya keputusan, dan baru hari itu dia sadar bahwa keduanya ternyata tidak sama.
Di sebelahnya, Farhan menggigil. Bibirnya mulai pucat, kedua tangannya memeluk tubuh kurusnya sendiri.
Sintia melepas kardigan tipis dari bahunya, lalu membungkuskannya ke tubuh sang adik. “Sabar ya, Dik. Nanti kakak belikan jaket yang tebal. Sekarang sudah musim hujan.”
Dia tersenyum lebar, senyum yang lebih banyak berisi pasrah daripada harapan. Belum punya uang untuk makan malam, dia sudah berani menjanjikan jaket. Namun, Farhan mengangguk dan membalas senyumnya dengan begitu tulus, seolah janji kakaknya adalah hal paling pasti di dunia.
Sejak hari itu, Sintia belajar satu hal: janji kepada orang yang kita cintai adalah utang, dan utang harus dibayar, berapa pun harganya.
-II-
Pintu gerbang rumah tua itu ternyata tidak dikunci. Engselnya menjerit saat Sintia mendorongnya, jeritan karat yang panjang dan ngilu di telinga. Dia melangkah masuk perlahan, matanya tak lepas dari jendela lantai atas tempat tirai tadi bergeser. Kini tirai itu diam.
Mungkin ini rumah Stevano juga, pikirnya. Mungkin rumah orang lain yang bisa menolongnya. Atau mungkin bukan rumah siapa-siapa, hanya bangunan mati yang menunggu korban berikutnya. Sintia tidak tahu. Yang dia tahu, hutan ini terlalu luas untuk dijelajahi dengan kaki telanjang dan perut kosong, sementara Fira masih menunggunya di gubuk itu. Dan ada hal lain yang menariknya maju, sesuatu yang tumbuh makin besar setiap jam: rasa ingin tahu. Siapa sebenarnya Stevano Erlangga? Mengapa lelaki yang wajahnya terpampang di baliho-baliho kota itu bersembunyi di tengah hutan, di balik topeng merah?
Halaman rumah itu luas dan gersang. Tak sehelai rumput pun tumbuh di atas tanahnya yang retak-retak, seolah sesuatu di bawah sana telah mengisap habis semua kehidupan. Sintia melintasinya dengan langkah hati-hati sampai tiba di depan pintu utama, tinggi, lebar, dari kayu tebal yang dipenuhi ukiran rumit. Sulur-sulur, kelopak-kelopak bunga, dan wajah-wajah kecil yang entah sedang tersenyum atau menjerit. Indah sekaligus mengerikan, seperti karya seorang seniman yang terlalu lama hidup dalam kesepian.
Sintia meraba ukiran itu. Catnya mengelupas di bawah jemarinya, rapuh seperti kulit kering. Dia menatap serpihan cat di telapak tangannya sejenak, lalu—
Srek.
Dia memutar badan. Suara langkah. Jelas sekali, seperti telapak kaki yang diseret di atas tanah. Namun, halaman itu kosong. Gerbang berkarat masih terbuka seperti saat dia tinggalkan. Tak ada siapa pun.
Srek.
Kali ini suara itu datang dari balik pintu. Dari dalam rumah. Sintia menahan napas. Bulu kuduknya meremang satu per satu.