The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #10

Peti Mati dan Jurnal Stevano

SEBUAH kepala tergeletak di lantai marmer yang kusam oleh debu. Matanya memelotot, mulutnya menganga, seolah jeritan terakhirnya terhenti di tengah jalan dan tak pernah sempat keluar.

Sintia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Tak ada kata yang sanggup menampung apa yang dia lihat. Namun, telapak tangan tak cukup untuk menahan bau itu, anyir darah yang belum lama tumpah, menyelinap lewat sela jemari, merayap ke paru-paru, lalu menghantam ulu hatinya. Dia terbatuk. Sekali. Dua kali. Air matanya jatuh bersamaan dengan pekik yang lolos dari tenggorokan.

Rambut panjang itu. Gaun merah yang robek di sana-sini. Potongan-potongan tubuh yang disusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Siapa pun yang melakukan ini tidak sedang marah. Dia sedang bekerja.

Sintia berjongkok. Matanya liar menyapu setiap sudut, tangga yang menghilang ke lantai atas, lorong-lorong gelap, tirai lapuk yang bergoyang pelan. Bunyi srek dari atas tadi tak terdengar lagi. Dan sunyi itu justru lebih menakutkan.

“Siapa kamu sebenarnya?!” teriaknya pada rumah itu. “SIAPA KAMU?!”

Pertanyaan yang sama. Selalu pertanyaan yang sama, tumbuh di kepalanya seperti benalu, dan tak pernah sekali pun dijawab.

Gema suaranya memantul di dinding, lalu mati. Tak ada yang keluar dari persembunyian. Lutut Sintia menyerah; dia terduduk di lantai, sendi-sendinya terasa keropos. Dia tidak sedang mengaku kalah. Dia hanya tak punya tenaga lagi untuk berdiri.

Krek. Krek. Krek.

Bunyi tali yang bergesek dengan katrol. Dari kegelapan langit-langit, sesuatu turun perlahan ke tengah ruangan utama: sebuah peti hitam, bergoyang sedikit di ujung tali, seperti bandul jam yang sedang menghitung mundur.

Peti itu menyentuh lantai dengan debum pelan. Tali berhenti bergerak.

Sintia menelan ludah, tetapi tenggorokannya sudah terlalu kering oleh teriakan. Dia mendongak. Di atas sana hanya ada gelap dan balok-balok kayu. Tak ada tangan. Tak ada wajah. Hanya keyakinan dingin bahwa seseorang sedang menonton, dan menikmati.

Dia bangkit. Terjatuh. Bangkit lagi. Langkahnya menuju peti itu pendek-pendek dan gemetar. Dia sudah bisa menebak isinya, dan justru karena itulah dadanya berdebar lebih keras daripada saat pertama kali terbangun di gubuk itu, terikat, buta, dan sendirian.

Angin menerjang dari luar. Pepohonan mengibas, daun-daun kering berhamburan, ranting-ranting lapuk patah. Pintu depan terbanting menutup.

Sintia berlari dan menarik kenopnya. Tak bergeming. Dia menariknya lagi, lebih keras. Terkunci.

Angin bisa membanting pintu. Namun angin tidak bisa memutar kunci.

“Stevano?” bisiknya. Tak ada jawaban. Tak ada “tok, tok” pantofel yang biasa mendahului kedatangannya. Siapa pun yang mengunci pintu itu, dia ingin Sintia tetap di sini. Bersama peti itu.

Sintia memejamkan mata dan menangkupkan kedua tangan di dada, persis seperti yang dulu diajarkan ibunya sebelum tidur.

“Ya Tuhan, selamatkan aku dari apa pun yang sedang mengincar nyawaku. Aku percaya hanya Engkau yang berhak menghidupkan dan mematikan. Berikan aku kekuatan.”

Dia mengusap wajah. Doa itu tidak membuka pintu, tidak juga menyalakan lampu. Namun, ada sesuatu di dalam dirinya yang berhenti gemetar. Jika dia harus mati di rumah ini, biarlah itu menjadi kehendak-Nya, bukan kehendak lelaki yang bersembunyi di kegelapan. Setidaknya, itu satu hal yang tak bisa dicuri darinya.

Dia kembali ke peti. Menarik napas dalam-dalam. Lalu mendorong tutupnya.

Berat. Kayu itu hanya bergeser sejengkal. Dia mendorong lagi, dengan bahu, dengan seluruh sisa tenaganya, hingga tutup peti tergelincir dan jatuh berdebam ke lantai.

Bau busuk menyembur keluar.

Di dalamnya terbaring seorang perempuan bergaun putih. Rambutnya kusam dan kusut. Tangan dan kakinya masih terbelenggu rantai. Seutas kawat melilit lehernya, begitu kencang hingga terbenam beberapa milimeter ke dalam kulit.

Gaun putih. Rantai.

Napas Sintia berhenti di tengah jalan. Ingatannya melompat ke sebuah ruangan gelap di gubuk reyot, ke jemari dingin yang mencengkeram lengannya, ke bisikan yang dia tinggalkan pada perempuan yang sedang tertidur: Aku akan kembali. Aku janji.

Tidak. Tidak mungkin.

Dia ingin melihat wajah itu. Dia tidak ingin melihat wajah itu.

Jeritan Sintia pecah, begitu keras hingga kaca-kaca jendela bergetar. Dan seakan rumah itu memang menunggu aba-aba, lampu remang di ruangan padam seketika.

Gelap. Hanya tangis Sintia yang tersisa, dan sesuatu di lantai atas yang kembali berbunyi: srek.


-II-


Lihat selengkapnya