“INI kopi pesanan Tuan.”
“Ya. Terima kasih.”
Pelayan itu meletakkan cangkir porselen berisi kopi hitam di atas meja persegi, tepat di samping koran mingguan yang terlipat rapi. Uapnya naik pelan, membawa aroma pahit yang memenuhi ruang makan. Pagi masih muda. Cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi dan memantul di lantai marmer, membuat seisi rumah tampak seperti gambar di majalah, bersih, terang, tanpa cela.
Pelayan berjanggut itu baru seminggu bekerja di rumah Stevano. Dia sudah setengah jalan menuju pintu ketika suara di belakangnya memanggil.
“Sebentar.”
Langkahnya terhenti. Dia berbalik dengan jantung berdegup. Tuannya baru menyesap kopi itu sekali, lalu meletakkan cangkir kembali di atas tatakan. Dahi lelaki itu berkerut.
“Iya, Tuan? Apa ... kopi buatan saya kurang enak?”
Stevano tidak langsung menjawab. Dia menarik napas panjang, lalu merogoh saku celana bahannya dengan tangan kanan. Tangan kirinya diam di atas meja, terbungkus perban putih yang masih baru. Dari saku itu muncul selembar uang kertas merah yang terlipat dua.
“Tidak. Bukan itu.” Dia mengulurkan uang itu. “Ini buatmu. Terima kasih atas kopinya.”
Pelayan itu tertegun sejenak sebelum menerimanya dengan dua tangan. “Terima kasih banyak, Tuan.”
Sejak hari pertama, dia diam-diam menyimpan prasangka. Lelaki semuda itu dengan rumah sebesar ini, pasti angkuh, pasti galak, pasti pelit. Ternyata dia keliru. Selembar seratus ribu itu menghancurkan dugaannya dalam sekejap, dan dia keluar dari ruangan dengan rasa malu pada dirinya sendiri karena telah menilai orang dari penampilan.
Dia tidak bertanya soal perban itu. Pelayan yang baik tidak bertanya.
Sepeninggal pelayan itu, Stevano membuka koran, kebiasaan yang sama setiap pagi. Matanya menyisir halaman demi halaman sampai berhenti pada sebuah judul kecil di pojok rubrik kriminal: Jasad Perempuan Ditemukan Hanyut di Sungai Pinggir Kota.
Dia membaca beritanya sampai habis. Sesekali dahinya mengernyit, sesekali kepalanya menggeleng pelan seperti seorang guru yang membaca karangan muridnya yang penuh salah. Polisi menduga korban dibunuh di tempat lain. Polisi masih mendalami. Polisi mengimbau warga agar waspada.
Polisi. Stevano mengembuskan napas pendek.
Mereka tidak akan menemukan apa-apa. Tidak ada sidik jari. Tidak ada saksi. Tidak ada benang merah yang bisa ditarik dari jasad itu ke rumah berlantai marmer ini. Dia sudah memikirkan segalanya, jauh sebelum perempuan itu berhenti bernapas. Membunuh, baginya, bukan ledakan amarah. Membunuh adalah pekerjaan yang dikerjakan dengan teliti, seperti menyusun laporan keuangan, seperti meracik kopi yang pas takarannya.
Yang tidak tertulis di koran itu adalah nama seorang polisi berhidung lancip yang sudah mulai menatap ke arah hulu sungai.
Stevano melipat koran itu kembali, menaruhnya di atas meja, lalu menyeruput kopinya dengan khidmat. Rasanya kini jauh lebih nikmat.
“Dunia tidak pernah baik pada siapa pun,” gumamnya pada ruangan yang kosong. “Jadi, jangan terkejut kalau sesuatu yang buruk datang mengetuk pintu.” Dia memutar-mutar cangkir di atas tatakan. “Mungkin saya terlalu menyalahkan Tuhan yang menciptakan dunia seperti ini. Tapi kalau Dia memilih diam, biar saya yang memberi pelajaran.”
Alis kirinya terangkat. Sudut kanan bibirnya tertarik ke atas, senyum yang sama dengan malam ketika semuanya bermula.
-II-
“Saya tidak mau makan! Saya tidak mau makan! Enyah kamu!”
Sendok di tangan Stevano terlempar. Nasi dan sup ayam berhamburan ke lantai semen kamar bawah tanah itu, ke sela kaki ranjang besi, ke ujung pantofelnya yang mengilap. Perempuan kumal di atas ranjang memeluk boneka kainnya makin erat, seolah-olah Stevano hendak merebutnya.