“SIAPA namamu?”
Pertanyaan itu jatuh begitu saja tanpa salam, tanpa basa-basi, memecah hening yang sejak tadi menekan dada Sintia. Dia beringsut mundur, tetapi punggungnya segera membentur sandaran kursi. Tangannya terikat ke belakang dengan seutas tali yang menggigit pergelangan. Anehnya, mulut dan matanya dibiarkan bebas, seolah-olah lelaki itu memang ingin dia melihat. Dan ingin dia bicara.
Sintia ingin bicara. Namun, sorot mata itu, kuning keemasan, tajam seperti mata elang yang mengintai dari ketinggian, membuat lidahnya kelu. Dia merasa, sekali saja salah membuka mulut, sesuatu yang buruk akan terjadi. Dia menelan ludah. Tenggorokannya kering dan perih, seperti diisi pasir.
“Saya bertanya padamu.” Suara lelaki itu tetap lembut, tetapi ujungnya sedikit meninggi. Satu kerut tipis muncul di keningnya. “Namamu siapa?”
“Aku—”
Kalimat itu patah di tengah jalan. Suaranya tidak mau menurut. Dadanya naik-turun, dan matanya tak sanggup berpaling. Bukan hanya karena wajah lelaki itu, wajah yang terlalu rapi untuk berada sedekat ini dengan seorang gelandangan sepertinya, tetapi juga karena rasa takut yang sudah menggerogotinya sejak dia membuka mata.
“Siapa namamu?” ulang lelaki itu. Kali ini, kelembutan itu lenyap.
Tak juga mendapat jawaban, lelaki itu bangkit dari sofa merahnya. Sintia refleks memejam dan memalingkan wajah, bersiap menerima tamparan. Namun, tamparan itu tidak datang. Yang terdengar justru bunyi pantofel di lantai, tok, tok, tok, makin lama makin jauh, lalu hilang di balik pintu.
Sintia membuka mata pelan-pelan.
Ruangan itu terang dan bersih. Sangat bersih, dengan wangi pengharum ruangan yang menusuk hidung. Lantainya mengilap. Tidak ada jendela. Selain sofa merah di hadapannya, hanya ada satu benda lain di sana: sebuah lukisan klasik berbingkai emas yang tergantung di dinding. Semakin lama Sintia menatapnya, semakin jelas apa yang dilukiskan, yaitu seorang perempuan terbaring di lantai, dengan rambut dijambak oleh seorang lelaki yang wajahnya tersembunyi dalam bayang-bayang. Warna-warnanya indah. Isinya mengerikan.
Siapa yang mau memajang lukisan seperti itu di rumahnya?
Pertanyaan itu menyeret pertanyaan lain. Sintia teringat kabar yang belakangan berembus dari mulut ke mulut, di warung kopi, di halte bus, di koran bekas yang dia pungut untuk alas tidur: perempuan-perempuan muda yang hilang tanpa jejak. Sebagian orang membicarakannya dengan cemas. Sebagian lain menjadikannya lelucon.
“Apa dia orangnya?” bisik Sintia pada dirinya sendiri. “Penculik itu?”
Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berlarian. Kalau benar lelaki itu penculik yang dibicarakan orang-orang, satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang adalah berpura-pura. Berpura-pura tidak tahu apa-apa. Berpura-pura tidak takut.
Dia memejam dan mulai menghitung napasnya sendiri.
Pintu terbuka lagi sebelum hitungannya sampai dua puluh.
Lelaki itu masuk membawa dua nampan. Di belakangnya, beberapa pelayan berseragam menyusul dengan nampan serupa. Semuanya diletakkan di lantai, tepat di hadapan Sintia: nasi putih yang masih mengepulkan uap, ayam goreng, sayur bening, buah-buahan yang dipotong rapi, segelas teh manis hangat. Aromanya menyerbu hidung, dan perut Sintia, yang berhari-hari hanya diisi nasi basi dari tong sampah, langsung bergemuruh tanpa tahu malu.
Para pelayan pergi tanpa menoleh sedikit pun, seolah-olah perempuan yang terikat di kursi itu hanyalah perabot.
Lelaki itu kembali duduk. Sintia menatapnya, bingung. Orang macam apa yang mengikat seseorang, lalu menjamunya seperti tamu?