The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #13

Hadir yang Selalu Hadir

“NAH, Sintia. Apa kamu pernah merasa hampa di tengah keramaian?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa pembuka, dari lelaki yang duduk di sofa merah di seberang ranjang. Cahaya lampu minyak bergoyang di wajahnya, membuat separuh wajah itu terang dan separuh lainnya tenggelam dalam bayang. Matanya yang kuning keemasan,mata elang itu, tidak sedang menatap Sintia. Tatapannya menembus dinding papan, jauh ke suatu tempat yang tak bisa Sintia lihat.

Sintia tidak menjawab. Tali di pergelangan tangannya sudah dilonggarkan entah sejak kapan, tetapi kewaspadaannya justru berlipat sepuluh kali. Dia sudah melihat apa yang sanggup dilakukan tangan berperban itu: jasad di lantai marmer, tengkorak berlubang, perempuan yang dibakar hidup-hidup. Lelaki yang tiba-tiba bicara lembut bukanlah lelaki yang berubah. Percaya Stevano bisa berbalik menjadi baik sama saja dengan percaya orang mati bisa bangkit dari kubur.

Stevano berdiri. Pantofelnya mengetuk lantai, tok, tok, tok, saat dia mulai berjalan mondar-mandir di depan ranjang.

“Hampa,” katanya, “adalah saat kamu tidak bisa berpikir jernih. Saat rasa takut terus menggerogoti kepalamu tanpa henti, dan kamu bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya kamu takuti.”

Dia berhenti. Memejam sejenak. Lalu mendengkus pelan, seperti orang yang baru saja teringat sesuatu yang tidak ingin diingatnya.

“Hanya satu hal yang tidak membuat saya takut, Sintia: membunuh. Saat membunuh, kepala saya akhirnya diam. Tenang. Seperti air yang berhenti beriak.” Dia menoleh, dan untuk pertama kalinya malam itu, matanya benar-benar menatap Sintia. “Oh, satu lagi. Saya juga merasa nyaman melihat orang lain menderita. Itu yang saya rasakan setiap kali melihatmu.”

Sintia membuka mulut, tetapi Stevano lebih dulu memotong.

“Tentu saja kamu tidak akan mengerti. Kamu terlalu polos. Terlalu gampang ditipu. Perempuan lemah yang hanya bisa menengadah, meminta tolong pada Tuhan yang tidak akan pernah datang menolongmu.”

Kalimat terakhir itu menyulut sesuatu di dada Sintia. Selama ini dia hanya menduga. Sekarang dia yakin: lelaki ini tidak percaya Tuhan. Dan bagaimana mungkin ada kebaikan di hati yang sudah mengusir Tuhan dari dalamnya? Tak ada manusia waras yang merasa nyaman melihat orang lain tersiksa, kecuali Stevano.

“Kenapa kamu meragukan Tuhan?” Suara Sintia serak, tetapi tidak gemetar. “Memangnya ada kekuatan di dunia ini yang bisa mengalahkan kekuatan-Nya? Kamu cuma sudah terlalu jauh meninggalkan-Nya, makanya kamu—”

“Terlalu jauh?” Stevano tertawa pendek. “Orang yang bicara seperti itu seharusnya dekat dengan Tuhan. Kamu? Perempuan yang menjual senyum di kelab malam? Kalau kamu memang dekat dengan-Nya, tolong sampaikan pesan saya: saya akan merusak dunia yang sudah Dia ciptakan, sedikit demi sedikit, sampai Dia mau bicara—”

“DIAM KAMU!”

Teriakan itu pecah dari tempat paling dalam di diri Sintia. Bukan karena dia merasa suci, dia tahu betul dirinya tidak suci, tapi karena setiap kata Stevano terdengar seperti gema dirinya sendiri bertahun-tahun lalu: gadis yang memunggungi Tuhan karena merasa ditinggalkan di samping keranda ibunya. Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut lelaki ini terasa seperti ditampar oleh bayangannya sendiri.

Mereka saling menatap. Kebencian menyala di antara keduanya, sengit, tanpa ada yang mau memalingkan muka lebih dulu. Dan untuk pertama kalinya, Sintia tidak merasa takut. Hanya marah.

“Kamu memerkosaku!” Kata itu akhirnya keluar, kata yang selama ini bahkan tak berani dia ucapkan di dalam hati. “Kamu menghina Tuhan! Kamu membunuh perempuan-perempuan itu! Kamu jahat! Kamu keji! Kenapa? Kenapa kamu merusak hidupku? Kenapa kamu sekejam ini sama perempuan?!”

Dadanya naik-turun. Jeritannya memantul di dinding papan, membuat nyala lampu minyak bergetar.

“Kamu iblis! Selama ini aku kira iblis cuma ada di cerita. Ternyata mereka nyata, dan kamu salah satunya! KAMU IBLIS!”

Lihat selengkapnya