SINTIA tidak tahu berapa lama dia terbaring seperti itu. Waktu di kamar berlampu minyak itu tidak berjalan; hanya menetes, pelan dan kental, seperti minyak yang terbakar di dalam semprong kaca.
Bibirnya perih. Memar baru di pergelangan tangannya menumpuk di atas memar lama dari tali di gubuk pertama. Dan Stevano masih di sana, duduk di tepi ranjang, mencengkeram kedua lengannya seolah takut dia akan menguap.
Sintia memejamkan mata dan mencoba melakukan apa yang selalu dia lakukan: pergi. Menghitung sesuatu. Retak di langit-langit. Detak jantungnya sendiri. Apa saja, asal bukan wajah di atasnya.
Namun kali ini pikirannya tak mau pergi jauh. Pikiran itu justru berbalik dan menuding dirinya sendiri. Mungkin ini hukuman. Bertahun-tahun dia melupakan Tuhan, pesta yang tak pernah selesai, gelas-gelas yang tak pernah kosong, uang yang dihamburkan di meja judi pada malam-malam ketika dia ingin lupa siapa dirinya. Separuh sisanya memang selalu dia kirim ke kampung untuk SPP Farhan. Tetapi apakah separuh kebaikan bisa menebus separuh lainnya?
Tidak, bisik suara lain di kepalanya, suara yang terdengar seperti ibunya. Tuhan tidak menghukum dengan tangan iblis.
Sintia berpegangan pada kalimat itu seperti orang tenggelam berpegangan pada ranting.
“Katakan pada saya, Sintia.” Suara Stevano rendah, nyaris lembut. Seringai itu kembali. “Apa kamu diam-diam menikmatinya?”
Sintia membuang muka. Air matanya jatuh ke bantal yang bau apak.
Itulah bagian paling keji dari lelaki ini, dia sadar. Bukan tangannya. Bukan kekuatannya. Namun caranya menanam pertanyaan di kepala korban, pertanyaan yang membuat korban mulai meragukan dirinya sendiri. Tubuh bisa gemetar karena takut, karena dingin, karena lelah. Stevano ingin dia percaya gemetar itu adalah hal lain. Ingin dia percaya bahwa dirinya ikut bersalah.
Aku tidak menginginkan ini. Sintia mengulangnya di dalam hati seperti doa. Aku tidak pernah menginginkan ini.
“Tenang saja,” lanjut Stevano, datar, layaknya membacakan syarat dan ketentuan. “Saya tidak bodoh. Saya tidak akan membuatmu hamil. Bersyukurlah.”
“Bajingan keparat!” Suara Sintia pecah. “Apa lagi yang mau kamu rampas dariku?!”
“Merampas?” Stevano memiringkan kepala, seolah kata itu asing baginya. “Saya tidak sedang menyiksamu. Saya sedang menghiburmu. Di tempat seperti ini, kamu tidak punya hiburan lain. Bersenang-senang sesekali bukan sesuatu yang dilarang Tuhanmu, bukan?”
Guntur menggelegar. Kilat menyusup lewat celah ventilasi di dekat langit-langit, menyiram kamar itu dengan cahaya putih sekejap, cukup lama bagi Sintia untuk melihat wajah Stevano dengan jelas. Tenang, bersih, tanpa sedikit pun rasa bersalah. Lalu gelap lagi, dan hanya nyala lampu minyak yang tersisa, bergoyang ditiup angin dari celah dinding.
“Kamu tidak akan rugi apa-apa,” katanya. “Berikan saja dengan tulus, dan kamu akan merasakan surga di dunia ini.”
Sesuatu di dalam diri Sintia patah, atau barangkali justru menyala. Pupil matanya mengecil. Rahangnya mengeras.
“Akan kuhabisi kamu.”
“Tidak, kamu tidak akan melakukannya.” Stevano tersenyum, seperti guru yang sabar menghadapi murid bodoh. “Tuhanmu melarang kekerasan, kan? Jadi apa yang tersisa untukmu? Pasrah. Dan menikmati.”
“Kamu gila! Psikopat! Sinting!” Kata-kata itu menyembur seperti muntahan. “Sampai kapan pun aku nggak akan memaafkanmu! Aku nggak ikhlas! Kalau aku mati di sini, aku bersumpah arwahku akan menghantuimu seumur hidupmu! BAJINGAN KEPARAT!”