RINTIH tertahan. Isak tanpa suara. Sakit yang bahkan tak lagi punya tenaga untuk menjerit. Sintia meringkuk di ranjang dengan daster krem yang masih menyimpan bau toko, menatap nyala lampu minyak yang bergoyang setiap kali angin menyusup lewat ventilasi. Piring bekas nasi goreng masih tergeletak di lantai, dingin dan berminyak. Sesekali ia memukul kasur dengan kepalan lemah, setiap kali ingatan tentang tangan Stevano merayap kembali ke kepalanya.
Masa depan, pikirnya, sudah pergi meninggalkannya, atau mungkin masa depan itu sendiri yang kini jijik padanya. Lelaki mana yang mau menerima perempuan sepertinya kalau tahu apa yang telah terjadi? Orang-orang di kampung akan berbisik. Teman-teman di Marina akan tertawa di belakang punggungnya. Dan Farhan ... Farhan tidak boleh tahu. Sintia memejamkan mata rapat-rapat, seolah dengan begitu dia bisa menghapus semuanya.
Di mana letak salahnya? Dia tidak pernah meminta hidup yang mudah. Dia sudah terbiasa makan dari tong sampah, tidur beralas koran bekas, menahan lapar demi SPP adiknya. Dia rela hidup susah seumur hidup, asalkan semuanya kembali seperti sebelum malam di bawah pohon beringin itu. Namun, sesuatu di dalam dirinya telah dicabut paksa, dan dia tidak tahu apakah itu bisa tumbuh lagi.
Kunci berputar. Klik. Pintu terbuka, dan Stevano masuk tanpa suara selain ketukan pelan pantofelnya. Dia tidak menutup pintu di belakangnya, barangkali karena dia yakin perempuan di ranjang itu sudah tak punya tenaga untuk lari. Dia berdiri di sisi ranjang, kedua tangan di saku celana, perban di tangan kirinya tampak baru diganti. Untuk waktu yang lama, tak satu pun dari mereka bicara. Hanya detak jarum jam tua berangka Romawi di dinding yang terdengar, seperti menghitung mundur sesuatu yang tak bisa mereka lihat.
“Kamu harus bertanggung jawab.” Suara Sintia serak, nyaris habis.
Stevano tidak langsung menjawab. Mata kuning keemasannya menatap Sintia lama, dan untuk sesaat, ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan iba, tidak sepenuhnya. Lebih mirip seseorang yang melihat bayangannya sendiri di permukaan air keruh dan tak yakin ingin mengenalinya.
“Kamu tidak akan mau bersuamikan lelaki seperti saya,” katanya.
“Aku nggak peduli!” Sintia bangkit setengah duduk, tangannya mencengkeram seprai bermotif bunga itu sampai buku-buku jarinya memutih. “Kamu yang menghancurkan semua ini! Kamu yang harus menanggungnya! Aku nggak mau orang-orang bertanya-tanya. Aku nggak mau, kalau nanti ada yang tumbuh di perutku, dia lahir tanpa tahu siapa ayahnya!”
“Mari berpikir dengan kepala dingin.” Stevano duduk di tepi ranjang. Kasur melesak sedikit di bawah berat tubuhnya, dan Sintia refleks beringsut menjauh. “Saya sudah bilang, saya tahu apa yang saya lakukan. Tidak akan ada yang tumbuh di perutmu. Saya tidak sebodoh itu untuk meninggalkan jejak, pada perempuan mana pun.”
“OMONG KOSONG!” Amarah meledak dari dada Sintia, membakar sisa-sisa tenaganya. “Apa yang kamu lakukan padaku itu perbuatan setan! Kamu sudah merampas semuanya, masa depanku, harga diriku, semuanya! Dan kamu tahu siapa yang membuatku begini? KAMU! KAMU YANG MEMBUATKU BEGINI!”
“Perempuan bodoh.” Stevano mencondongkan badan, cukup dekat sehingga Sintia bisa mencium aroma kopi dan sabun mahal dari napasnya. “Kamu pikir kata-katamu bisa menyentuh saya? Tidak akan pernah. Bagi saya, kamu hanya tawanan, untuk sementara. Bersyukurlah Tuhanmu memberimu wajah dan tubuh yang membuat saya belum bosan. Itu satu-satunya alasan kamu masih bernapas.” Dia menyeringai, alis kirinya terangkat. “Selebihnya, kamu sama saja dengan mereka.”
Lalu dia tertawa. Tawa yang renyah, panjang, dan sama sekali tak tersentuh rasa bersalah. Dia bangkit, berbalik membelakangi ranjang, dan melangkah ke arah jam dinding seolah sedang memeriksa waktu. Pintu masih terbuka. Sintia menatapnya. Celah itu hanya selebar bahu, tetapi di matanya, celah itu adalah seluruh dunia.
Jangan pikirkan. Lakukan.
Sintia melompat dari ranjang dan menghantamkan seluruh berat tubuhnya ke punggung Stevano. Lelaki itu terhuyung; kakinya menginjak piring bekas nasi goreng yang licin oleh minyak, dan dia jatuh menghantam lantai dengan bunyi berdebum. Sintia tidak menunggu. Dia menerjang keluar, membanting pintu, dan terus berlari.
Koridor itu panjang dan remang, hanya diterangi lampu-lampu minyak yang tergantung di dinding dengan jarak berjauhan. Sintia berlari dengan kaki telanjang, berbelok di setiap tikungan tanpa tahu ke mana arahnya. Di belakangnya, terdengar pintu dibuka dengan keras. Brak! Lalu langkah pantofel. Tok. Tok. Tok. Tidak tergesa. Seolah pemiliknya tahu persis, cepat atau lambat, buruannya akan kehabisan jalan.
Sintia menemukan sebuah pintu di ujung lorong, lalu ia memutar kenopnya. Macet. Dia menarik, mendorong, menarik lagi. “Ayolah ... ayolah!” Air matanya mulai jatuh. Langkah pantofel itu makin dekat. Dengan sisa tenaga, Sintia menghantamkan bahunya ke daun pintu, sekali, dua kali, sampai engselnya menyerah.