SEBELUM pintu itu sempat tertutup rapat, kaki Sintia terjepit di celahnya.
Dia memekik. Rasa sakit menjalar dari tumitnya, tumit yang belum sembuh benar sejak tertusuk paku di gubuk reyot itu, hingga ke betis. Darah merembes, menitik ke lantai tanah yang lembap. Sintia menarik kakinya dan mendorong daun pintu dengan bahu, tetapi sebuah kursi kayu yang tadi tersenggol kini melintang di belakangnya, mengganjal setiap gerakan.
Tok. Tok. Tok.
Langkah pantofel itu menuruni anak tangga dengan tidak tergesa.
“Ya Tuhan ... tolong aku. Kumohon,” desis Sintia di sela giginya yang terkatup.
Dia menendang kursi itu dengan kakinya yang lain, lalu mendorong pintu sekuat tenaga. Engselnya berderit, celahnya melebar, dan kakinya terlepas. Sintia terhuyung ke belakang. Namun, sebelum dia sempat membanting pintu itu kembali, sebuah tangan besar berkulit pucat menyelinap masuk dan menahannya. Perban di punggung tangan kiri itu sudah kotor oleh tanah dan noda merah.
Sintia membeku. Kakinya yang terluka berdenyut, seakan-akan jantungnya pindah ke sana.
Pintu terbuka perlahan. Stevano berdiri di ambangnya. Kemejanya bernoda, tetapi napasnya teratur, seperti orang yang baru selesai berjalan-jalan sore. Rasa takut yang tadi sempat Sintia lihat di wajah itu sudah lenyap, terkubur kembali di balik senyum yang dia kenal: alis kiri terangkat, sudut kanan bibir tertarik.
“Kamu tidak akan bisa lolos dari saya.” Suaranya kembali datar dan tenang. “Kalaupun kamu berhasil keluar dari pintu ini, di atas sana hanya ada hutan, rawa, dan sungai. Semua jalan di tempat ini berakhir di saya.”
Tangannya terulur. Sintia mundur, menghindar dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana. Kakinya yang berdarah meninggalkan jejak setengah lingkaran di lantai tanah.
“Kenapa?” Suaranya pecah. “Kenapa harus aku? Dari semua perempuan di kota itu, kenapa aku?”
Air mata menggantung di pelupuk matanya. Dulu, di bawah lampu kelab yang berkelap-kelip, Sintia memang menjual senyum. Namun, di balik senyum itu dia menyimpan mimpi yang sederhana: Farhan lulus sekolah, sebuah rumah kecil yang tak perlu dia kontrak, dan suatu hari seorang lelaki baik yang menggenggam tangannya tanpa membuatnya ingin menarik diri. Kini mimpi itu terasa seperti milik orang lain. Dulu, Sintia akan menyalahkan dirinya sendiri atas semua ini, atas setiap gelas yang dia terima, setiap malam yang dia habiskan di kelab. Namun, suara ibunya masih bergema di kepalanya: Tuhan tidak menghukum dengan tangan iblis. Yang menimpanya bukan hukuman. Itu kejahatan. Dan kejahatan itu berdiri tepat di hadapannya.
“Tidak ada alasan khusus.” Stevano mengangkat bahu, seolah-olah sedang ditanya mengapa dia memilih kopi hitam alih-alih teh. “Saya hanya senang. Tidak cukupkah itu?”
“Senang?” Sintia nyaris tertawa, tawa yang lebih mirip isakan. “Kamu senang melihat perempuan hancur? Kamu senang melihat aku menderita? Di mana hatimu? Di mana?!”
“Perempuan bodoh!” Suara itu menggelegar di ruangan sempit itu. “Berapa kali saya harus menjawab pertanyaan yang sama? Kamu punya otak, bukan? Pakai!”
“Kamu harus sadar. Semua yang kamu lakukan ini dosa besar—”
“Dosa?” Stevano tertawa pendek. “Kamu mau bicara tentang dosa kepada saya? Kamu? Perempuan kelab malam?” Dia melangkah maju. “Siapa yang menulis daftar dosa itu? Tuhan yang sama yang diam saja saat seorang bocah mengais tong sampah? Jangan membuat saya tertawa.”
Sintia menggeleng-geleng dan terus mundur sampai punggungnya membentur dinding tanah yang dingin. Hanya sesaat dia lengah, dan sesaat itu cukup. Stevano menyambar pergelangan tangannya, memutar tubuhnya, lalu mengunci Sintia dalam dekapan dari belakang. Sintia meronta, menyikut, menendang, tetapi lengan itu melilit dadanya seperti rantai besi. Stevano menunduk dan menghirup rambutnya dalam-dalam. Napasnya yang hangat menyapu tengkuk Sintia, dan seluruh kulit Sintia meremang karena rasa jijik yang sudah dia kenal sejak gadis.
“Saya suka wangimu,” bisik Stevano. “Mungkin saya akan membiarkanmu hidup lebih lama. Kamu satu-satunya mainan yang belum membuat saya bosan.”