ENTAH sejak kapan, sesuatu di dalam diri Sintia bergeser. Mungkin sejak dia membaca jurnal bersampul kulit cokelat itu, lembar demi lembar yang ditulis dengan tinta emas oleh tangan yang tak pernah gemetar saat membunuh. Mungkin juga sejak dia mendengar ibu Stevano memanggil sebuah boneka dengan nama anaknya sendiri. Yang jelas, ketika dia menutup jurnal itu dan meletakkannya kembali di atas meja jati, Sintia tak lagi bisa melihat Stevano hanya sebagai topeng merah dan sepasang mata kuning yang dingin.
Di mata dunia, Stevano Erlangga adalah pebisnis muda yang wajahnya terpampang di majalah dan baliho, tampan, kaya, nyaris tanpa cela. Namun, hanya Sintia yang tahu apa yang tersimpan di bawah tanah rumah tua ini: seorang lelaki yang percaya bahwa kematian demi kematian bisa membeli satu senyum dari ibunya. Itu tidak masuk akal bagi siapa pun. Bahkan bagi Sintia.
Suara dari lorong membuyarkan lamunannya. Dua suara saling bertabrakan, yang satu parau dan melengking, yang lain rendah dan memohon. Lalu sebuah pintu dibanting. Lalu hening.
Sintia melangkah keluar dari ruang kerja, sepelan mungkin. Tumitnya yang tadi terjepit pintu berdenyut di setiap pijakan. Di ujung lorong, di bawah lampu minyak yang sumbunya tinggal sejengkal, Stevano duduk di lantai tanah dengan punggung bersandar pada dinding yang kasar. Kedua lututnya ditekuk. Wajahnya terbenam di balik kedua telapak tangan. Pintu Kamar Ibu sudah tertutup rapat; dari baliknya, samar-samar, terdengar senandung nina bobo yang sumbang. Di lengan kemeja Stevano, bekas gigitan sang ibu masih memerah.
Lelaki yang membuat seisi kota mencari perempuan-perempuan yang hilang itu sedang menangis. Tanpa suara, seperti bocah yang sudah terlalu sering dimarahi hingga lupa caranya terisak keras-keras.
Sintia menelan ludah. Ada dorongan aneh untuk mendekat, dan dorongan itu membuatnya ngeri pada dirinya sendiri. Bukankah lelaki inilah yang menyeretnya dari bawah pohon beringin, mengikatnya di kursi, menyuruhnya makan seperti anjing? Bukankah tangan itu yang merampas segalanya darinya, tubuhnya, harga dirinya, malam-malam yang dulu masih bisa dia lalui tanpa mimpi buruk? Perempuan lain, di posisinya, pasti akan memungut batu dan mengakhiri semuanya. Atau setidaknya berlari sejauh mungkin selagi sempat.
Jalan keluar ada di ujung lorong. Sepuluh anak tangga. Pintu kayu yang rata dengan tanah. Halaman belakang yang liar. Dia bisa lari sekarang.
Namun, kakinya tidak bergerak ke arah tangga.
“Apa ini?” bisiknya pada diri sendiri. “Kenapa aku malah kasihan padanya?”
Dadanya naik turun. Pertanyaan-pertanyaan itu dia lemparkan ke langit-langit tanah, kepada Tuhan yang dia yakini masih mendengar. Kenapa Kau tidak memberiku kebencian yang utuh, Tuhan? Kenapa Kau biarkan aku melihat lukanya? Bukankah lebih mudah kalau aku membencinya sampai mati?
Lalu dia teringat dirinya sendiri, bertahun-tahun lalu, berdiri di samping keranda ibunya. Dia teringat malam-malam ketika dia memunggungi Tuhan karena merasa ditinggalkan. Dia teringat ayahnya di ruang kerja bersama perempuan itu, dan bagaimana sejak hari itu dia membenci sentuhan tangan lelaki. Luka, rupanya, punya cara untuk mengenali luka yang lain, bahkan ketika luka itu milik orang yang paling ingin dia benci.
Langkahnya bergerak sebelum pikirannya sempat melarang. Satu, dua, rasa takut masih ada, menggigit di tengkuk, tetapi tidak lagi memegang kendali. Dia berhenti tepat di depan Stevano, lalu dengan tangan yang gemetar, tangan yang selama ini menolak disentuh lelaki mana pun, dia menyentuh puncak kepala lelaki itu.
Rambutnya lembap oleh keringat. Sintia mengelusnya pelan sekali.
“Aku nggak tahu apa yang terjadi sama kamu,” ucapnya lirih. “Tapi ... jangan menangis sendirian seperti ini.”
Isak Stevano terhenti. Tubuhnya menegang, tetapi dia tidak menepis tangan itu. Dia juga tidak mengangkat wajah.
“Aku bingung dengan diriku sendiri,” lanjut Sintia, suaranya pecah. “Kamu orang yang sudah menghancurkan hidupku. Tapi kenapa aku masih di sini? Kenapa tanganku nggak mau berhenti? Apa ini bagian dari permainanmu? Apa kamu sengaja membiarkan aku membaca jurnal itu?”
Air matanya jatuh, satu-satu, ke lantai tanah. Ada sesuatu yang aneh menjalar di dadanya. Tidak dingin seperti ketakutan, tidak pula panas seperti amarah. Sesuatu yang hangat, yang tidak dia undang dan tidak bisa dia usir.