STEVANO tidak memberi Sintia waktu untuk menjawab. Tangan kirinya, yang perbannya sudah kusam, meraih lengan Sintia dan menariknya menyusuri lorong, melewati ruang kerja dengan meja jati dan jurnal bertinta emas itu, sampai mereka berhenti di depan pintu Kamar Ibu.
Di sana dia melepaskan genggamannya. Lalu dia menatap Sintia lama, dan untuk pertama kalinya Sintia tidak menemukan apa pun yang tajam di mata kuning keemasan itu. Yang tersisa hanya harapan yang telanjang, rapuh, dan begitu banyak, seperti bintang yang tak sanggup dihitung.
“Bicaralah dengan ibu saya.” Suaranya rendah, nyaris memohon. “Buktikan.”
Sintia tidak bertanya kenapa. Dia sudah tahu jawabannya. Lelaki ini telah mencoba segalanya: sup jahe, lagu nina bobo, nyawa demi nyawa yang dia persembahkan, dan semuanya gagal. Kini dia menyerahkan satu-satunya hal yang paling dia jaga ke tangan perempuan yang dia culik.
Pintu berderit terbuka. Lampu minyak di atas nakas bergoyang. Perempuan tua berambut putih itu duduk di tepi ranjang besinya, memeluk boneka lusuh, menatap dinding dengan kekosongan yang sempurna.
Sintia melangkah masuk. Satu langkah, dua langkah.
“S-saya ....”
Kalimat itu macet di tenggorokannya. Bagaimana caranya bicara dengan seseorang yang bahkan tidak lagi mengenali anaknya sendiri? Dia menarik napas dalam-dalam. Hasilnya bukan urusannya, pikirnya. Urusannya hanya mencoba. Ibunya dulu sering berkata begitu setiap kali Sintia takut menghadapi ujian: kerjakan bagianmu, serahkan sisanya pada Tuhan.
Anehnya, yang paling Sintia takutkan saat itu bukan perempuan tua di hadapannya, tapi mengecewakan lelaki di belakangnya.
Kesadaran itu membuat perutnya mual. Sejak kapan dia peduli? Segalanya berubah terlalu cepat, terlalu ganjil, sejak lelaki itu menangis di lantai tanah lorong ini.
“S-saya ... Sintia. Nama saya Sintia.”
Perempuan tua itu menoleh pelan. Matanya cokelat, keruh, dan lelah dengan cara yang Sintia kenali. Bukan lelah karena kurang tidur, tapi lelah karena terlalu lama menanggung sesuatu sendirian. Sintia pernah melihat tatapan seperti itu di cermin, pada malam-malam setelah ibunya dikuburkan.
Jedanya lumayan panjang.
“Sin ... tia ....” Perempuan itu memiringkan kepala ke kanan. Kedua alisnya terangkat, ibarat anak kecil yang baru belajar sebuah kata.
Sintia mengangguk dan memaksakan seulas senyum. Dia memberanikan diri duduk di tepi ranjang besi itu. Pernya berderit di bawah berat tubuhnya. Di ambang pintu, tanpa ia sadari, sudut bibir Stevano bergerak.
Perempuan tua itu mengangkat bonekanya, mendekatkannya ke telinga, lalu berbisik cukup keras untuk didengar seisi kamar. “Namanya Sintia. Bagus, ya? Vano memang tidak pernah salah pilih. Dia pasti jadi istri yang paling baik untukmu.”
Stevano membeku.
Kalimat itu, yang bertahun-tahun dia tunggu, akhirnya keluar dari mulut ibunya, tetapi bukan untuknya. Untuk seonggok kain dan kapas yang tak pernah menjawab apa pun.
Dia memijat keningnya. Berkali-kali dia ingin merebut boneka itu dan melemparkannya ke tungku. Berkali-kali pula dia mengurungkan niat, karena tanpa boneka itu ibunya akan menangis. Dan dia tidak sanggup melihat ibunya menangis. Lelaki yang tak gentar menyaksikan begitu banyak perempuan meregang nyawa itu tak sanggup membuat satu perempuan tua meneteskan air mata.
Sementara itu, percakapan di atas ranjang besi mulai mengalir. Tentang hujan, tentang sup ayam jahe, tentang seorang bocah yang dulu suka bersembunyi di kolong meja makan. Sintia mendengarkan, mengangguk, sesekali tertawa kecil, dan perempuan tua itu, untuk pertama kalinya, tersenyum.