The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #19

Perasaan Stevano

SINTIA mendorong dada Stevano dengan kedua tangan hingga ciuman itu terhenti. Dia mundur satu anak tangga, lalu satu lagi, sampai punggungnya membentur dinding tanah yang dingin. Bibirnya masih terasa asing, seperti milik orang lain. Dia membuang pandangan ke mana saja, ke lampu minyak di anak tangga kesepuluh, ke pintu Kamar Ibu yang tertutup rapat, asal bukan ke mata kuning keemasan itu.

“M-maaf. Ini tidak semestinya—”

Kalimatnya belum selesai ketika Stevano meraih tangannya. Bukan mencengkeram seperti biasa, tapi menggenggam. Sintia menatap tangan mereka yang bertaut: tangan kiri berperban kusam itu, dan jemarinya sendiri yang gemetar. Anehnya, keduanya tampak pas. Justru itulah yang membuatnya ngeri.

“Saya tidak tahu apa yang saya rasakan,” kata Stevano. “Maukah kamu mendengarkan saya? Sebentar saja.”

Tatapannya teduh. Untuk pertama kalinya tak ada perintah dalam suara bariton itu; yang tersisa hanya permintaan, nyaris memelas. Sintia menimbang lama sebelum menjawab, sangat hati-hati, seperti orang yang meletakkan kaki di atas es tipis. “Iya.”

“Tadi, di kamar itu, Ibu tersenyum.” Stevano menelan ludah. “Bertahun-tahun saya menunggu senyum itu. Saya menyiapkan persembahan demi persembahan untuknya. Lalu dia memberikannya padamu. Pada perempuan yang saya pungut dari gang.” Dia menekan dadanya dengan kepalan tangan. “Di sini rasanya sesak. Anehnya, saya hanya merasa seperti ini kalau ada di dekatmu. Saya merasa ... nyaman, kalau memang ini yang orang sebut nyaman. Dan saya tidak tahu kenapa.”

Stevano menunduk. Pelan-pelan, Sintia mengulurkan tangan dan meletakkannya di kepala lelaki itu, seperti yang dia lakukan di lorong ini beberapa jam lalu. Kali kedua dia menyentuh seorang lelaki atas kemauannya sendiri. “Maukah kamu berubah? Maukah kamu berhenti membunuh? Maukah kamu—”

“Bagaimana caranya?” potong Stevano. Matanya terangkat, penuh harap yang belum pernah Sintia lihat di sana. “Apa ada cara keluar dari gelap ini? Apa ada cara lari dari diri saya sendiri? Bagaimana caranya?”

Sintia tersenyum, senyum orang yang tak punya apa-apa lagi selain harapan. Pertanyaan itu terdengar seperti ketukan dari balik pintu yang selama ini dikunci rapat.

“Ada. Kembali ke jalan yang benar. Aku mau menempuhnya bersamamu. Kembalilah pada Tuhan, sama-sama denganku. Kita berdua orang tersesat yang sedang mencari pintu keluar.”

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, beriringan dengan anggukan kecil yang dia sendiri tak sadari. Ada hal-hal yang tak bisa dirumuskan, dan hati adalah yang paling sulit di antaranya. Dia tidak tahu apakah dia menangis untuk Stevano, untuk dirinya sendiri, atau untuk perempuan-perempuan yang namanya tertulis di jurnal bertinta emas itu.

“Tidak.” Stevano menggeleng. “Saya sudah mencoba berkali-kali. Setiap kali saya hampir keluar, sesuatu menyeret saya kembali. Mungkin selamanya saya akan tinggal di sini.”

“Aku bisa membantumu. Apa pun yang dikerjakan berdua pasti terasa lebih ringan.”

Stevano bergeming. Sesekali menunduk, sesekali menatapnya. “Saya tidak bisa kembali. Saya sudah tersesat terlalu jauh.”

“Kamu bisa. Ada Tuhan yang akan menolong kita.”

“Tuhan?” Suara Stevano mendingin. “Tuhan meninggalkan saya sejak saya lahir. Dia diam saat ayah saya pergi. Dia diam saat saya mengais tong sampah. Dia diam saat Ibu berhenti mengenali saya. Kebaikan apa pun yang saya lakukan, panti asuhan itu, anak-anak itu, Dia tidak pernah melihat.”

“Jangan bicara seperti itu. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia. Dia selalu ada. Dia hadir di dalam diri setiap orang.”

Kalimat itu keluar dengan lancar, tetapi di dalam hati, Sintia mengutuk dirinya sendiri. Bukankah dia juga pernah yakin Tuhan meninggalkannya, di depan keranda ibunya dulu? Padahal, ketika akhirnya sadar, dialah yang lebih dulu berpaling. Dialah yang menelantarkan dirinya sendiri, gelas demi gelas, malam demi malam di Marina.

Mata Stevano menajam. “Mana buktinya? Saya butuh bukti, bukan kata-kata. Mungkin Dia hadir di dalam dirimu. Tapi saya? Tidak pernah.”

Lihat selengkapnya