STEVANO tidak bergerak sampai langkah-langkah di ilalang itu benar-benar menjauh. Dia hanya berdiri di anak tangga kesepuluh, menunggu, mendengarkan, sampai hening kembali menebal seperti debu di lorong bawah tanah. Lalu, tanpa sepatah kata pun, dia meraih lampu minyak dari dinding dan menyerahkannya kepada Sintia.
“Ikut saya.”
Dia tidak membawa Sintia ke kamar mana pun. Dia membawanya ke ruang kerja, ruangan berbau kertas tua dan tinta, tempat jurnal bersampul kulit itu masih tergeletak di atas meja jati. Stevano berjalan lurus ke rak buku di dinding belakang, menarik sebuah buku tebal yang punggungnya sudah mengelupas, dan sesuatu di balik dinding berbunyi klik. Rak itu bergeser sambil berderit, membuka celah selebar bahu.
Sintia membeku. Tiga ruangan. Selama ini dia mengira hanya ada tiga ruangan di bawah tanah ini.
Di balik celah itu, sebuah lorong sempit memanjang ke dalam gelap. Dindingnya tanah liat yang ditopang balok-balok kayu lapuk. Udaranya lembap dan dingin, menempel di kulit seperti kain basah. Sintia menggigil; daster krem yang dia kenakan tak cukup menahan dingin itu. Namun, dia tetap berjalan di belakang Stevano, lampu minyak di tangan kiri, jemari kanannya mencengkeram ujung kemeja lelaki itu. Dia tak sanggup membayangkan jika Stevano tiba-tiba melepaskan diri dan meninggalkannya di sana, dikubur hidup-hidup oleh gelap.
Ironis, pikirnya. Dia berpegangan pada satu-satunya orang yang paling patut dia takuti.
Empati yang tumbuh di lorong tadi belum mati. Namun, kewaspadaannya juga tidak. Lelaki ini pernah menyuapinya nasi goreng, lalu membenturkan kepalanya. Pernah menangis di dekapannya, lalu .... Sintia tak meneruskan pikiran itu.
“Sebenarnya kita mau ke mana?” tanyanya akhirnya. Suaranya memantul di dinding tanah, berbaur dengan derap langkah mereka dan cicit serangga kecil di sela-sela balok.
“Ke tempat yang tidak akan pernah kamu percaya pernah kamu datangi.” Stevano tidak menoleh. “Tempat yang tidak bisa dibayangkan orang-orang normal sepertimu. Neraka yang sering kamu sebut-sebut itu. Versi dunianya.”
Sintia mengernyit. Sejak kecil dia diajari bahwa neraka dan surga hanya bisa dibayangkan samar-samar, yang satu menakutkan, yang lain indah, tanpa bentuk yang pasti. Tempat macam apa yang lebih sulit dibayangkan daripada itu?
“Aku nggak paham.”
“Kamu akan segera paham.” Ada jeda yang ganjil dalam suaranya. “Mereka yang di atas tadi, cepat atau lambat mereka akan sampai ke sini. Kalau begitu, lebih baik kamu tahu dari saya. Saya memutuskan untuk memercayakan ini padamu ....”
Stevano berhenti mendadak. Sintia nyaris menabrak punggungnya.
“Ada apa?” Dahi Sintia mengerut. Dia menelan ludah. Nyala lampu minyak di tangannya bergetar, menyalin gemetar jemarinya.
Perlahan lelaki itu menoleh. Mata kuning keemasan itu menangkap cahaya lampu, berkilat seperti mata binatang di balik semak. “Apa kamu sangat membenci kejahatan?”
Tatapannya tenang. Sintia mengangguk pelan. “Iya. Nggak ada yang lebih aku benci selain kejahatan.”
Lalu Stevano tersenyum tipis, lebih letih, senyum orang yang baru saja mendengar vonis yang sudah lama dia duga.
“Kalau begitu, tempat yang akan kita datangi akan membuatmu membenci saya lagi.”
Dia menunduk. Untuk sesaat, bahunya yang lebar tampak menyusut. Sintia memperhatikan wajah itu dalam cahaya yang bergoyang. “Ada apa?”
“Apakah ada kemungkinan ....”
Sintia menunggu. Kalimat itu tak pernah selesai. Stevano mengangkat kepala, menatapnya lama, lalu meletakkan telapak tangan di puncak kepala Sintia, ringan, nyaris canggung, layaknya seseorang yang sedang belajar menyentuh tanpa melukai. Kemudian dia berbalik dan kembali berjalan.