“SAYA sudah membunuh banyak manusia. Kebanyakan perempuan.” Suara Stevano rendah, nyaris tertelan dinding tanah. “Saya mengurung mereka, menyiksa mereka, merampas hidup mereka satu per satu, lalu menuliskan nama mereka dengan tinta emas seolah-olah itu prestasi. Menurutmu, apa orang seperti saya pantas diampuni Tuhan?”
Dia tidak menunggu jawaban.
“Tidak. Kalaupun Tuhan itu ada, Dia tidak akan sudi mendekati orang seperti saya. Saya pembunuh, pemerkosa, penjahat yang bahkan terlalu keras kepala untuk menyesal.”
Sintia membeku di tepi lubang itu. Bau tanah basah bercampur busuk masih menempel di tenggorokannya. Di bawah cahaya lampu minyak yang bergoyang, Stevano menunduk. Bahunya yang biasa tegap kini melengkung, layaknya sedang memikul sesuatu yang jauh lebih berat daripada tubuhnya sendiri.
Sintia teringat percakapan mereka di anak tangga. Lelaki ini tidak membenci Tuhan, tetapi merindukan-Nya, dengan cara seorang bocah merindukan ayah yang pergi tanpa pamit: dengan marah, dendam, berpura-pura tidak peduli. Dia hanya tidak pernah diajari jalan pulang. Dan karena tak tahu jalan pulang, dia membangun jalannya sendiri, jalan yang dilapisi tulang.
Pelan, Sintia berjongkok. Telapak tangannya menyentuh tanah di depan ranting yang tertancap sebagai nisan. Silvi. Tanah itu dingin dan padat, seolah sudah lama berhenti menunggu. Di suatu tempat, mungkin ada seorang ibu yang masih menyisakan sepiring nasi di meja makan setiap malam. Seorang adik yang masih menoleh ke pintu setiap kali terdengar suara motor. Mereka bahkan tak punya kuburan untuk diziarahi. Tak punya tempat untuk menumpahkan rindu.
Sintia memikirkan Farhan. Kalau dia mati di tempat ini, Farhan pun akan menjadi salah satu dari mereka yang menunggu di depan pintu.
“Dialah perempuan pertama.” Stevano duduk di sebuah kursi kayu reyot di sudut ruangan. Kursi itu berderit menahan bobotnya. “Saya tidak tahu apa yang saya pikirkan waktu itu. Saya hanya mendengar bisikan. Bisikan itu bilang, kalau saya menghabisinya, Ibu akan tersenyum lagi. Dan saya akan bahagia.” Dia diam sebentar. “Ibu tidak tersenyum. Tapi saya, entah bagaimana, tersenyum. Malam itu saya tersenyum. Itulah yang paling menakutkan bagi saya.”
“Aku ... aku nggak tahu harus ngomong apa.” Suara Sintia serak. “Ini menyedihkan, ini kejam, ini ... bukan sesuatu yang dilakukan manusia.”
Tawa Stevano pecah, pendek dan kering, tanpa kegembiraan sedikit pun. Sintia menoleh.
“Kamu benar. Dari awal sudah saya bilang, kamu sedang berhadapan dengan iblis.” Dia mengangkat wajah. Mata kuning keemasannya memantulkan nyala lampu. “Tapi bukankah iblis pun ciptaan Tuhan? Benar, kan, Sintia?”
Sintia menarik napas panjang. Pertanyaan itu bisa jadi jebakan. Atau mungkin bukan. Mungkin itu satu-satunya pintu yang Stevano biarkan sedikit terbuka. Dia tidak yakin kata-katanya cukup kuat untuk mengubah apa pun. Tetapi lelaki yang dulu menginjak lehernya di lantai gubuk kini duduk membungkuk di hadapannya, menanyakan Tuhan.
“Kamu benar. Kamu juga ciptaan Tuhan. Kamu milik-Nya, sama sepertiku, sama seperti mereka.” Sintia melirik lubang di belakangnya. “Justru karena itu kamu harus berhenti. Jangan bunuh siapa pun lagi. Coba bayangkan anak-anak di panti asuhan itu. Kalau mereka tahu om yang selalu datang membawa hadiah ternyata seorang pembunuh, mereka pasti ….”
Kalimatnya terputus. Wajah Stevano berubah. Bukan marah, tapi sesuatu yang jauh lebih rapuh, seperti bocah yang baru diberi tahu bahwa rahasianya sudah diketahui semua orang.
“Kenapa berhenti?” Suaranya tenang, tetapi rahangnya mengeras. “Teruskan. Mereka akan apa? Saya siap mendengarnya.”
Sintia bergeming. Sebagian dirinya menjerit: Untuk apa kamu menjaga perasaannya? Dialah yang menghancurkan hidupmu. Namun bagian lain, bagian yang tumbuh dari doa-doa di dalam gelap, berbisik lebih pelan. Dia teringat kata-kata Stevano sendiri pada malam pertama mereka bertemu: mutiara yang terbenam di lumpur. Sintia tak pernah mengaku suci. Ia pernah meninggalkan sajadah. Ia pernah menuangkan minuman untuk lelaki-lelaki mabuk demi lembaran rupiah. Dia tahu rasanya dipandang sebagai sampah. Di hadapan Tuhan, mungkin jaraknya dengan Stevano tidak sejauh yang ingin dia percayai.
“Saya tidak akan tersinggung,” ulang Stevano. “Katakan saja.”
Dia sudah tahu jawabannya. Namun ia hanya ingin mendengarnya dari mulut seseorang yang tidak lari. Sepanjang hidupnya, orang-orang menjauh tanpa mengatakan apa-apa: tetangga yang meludah di dekat karung pemulungnya, anak-anak yang melempari ibunya dengan kerikil, tatapan jijik yang lekat di punggungnya seperti lumpur. Penghinaan yang tak pernah diucapkan, ternyata, jauh lebih pahit daripada yang diteriakkan.
“Mereka akan kecewa,” bisik Sintia akhirnya. “Dan takut.”
“Tidak perlu merasa bersalah.” Stevano tersenyum tipis. “Semua orang pasti takut, lalu menjauh, lalu mengolok-olok. Saya sudah terbiasa.” Dia menatap Sintia lurus-lurus. “Yang tidak saya mengerti adalah kamu. Kenapa kamu masih di sini? Kamu tidak takut? Kamu lupa siapa yang menghancurkan hidupmu?”
Sintia melangkah mendekat. Setiap langkah adalah keputusan.
“Aku nggak lupa. Aku nggak akan pernah lupa.” Suaranya bergetar, tetapi tidak goyah. “Tapi ini bukan soal takut atau nggak takut. Aku mau kamu berubah. Aku mau kamu bertanggung jawab atas semua yang sudah kamu lakukan. Dan aku mau kamu menikahiku, supaya aku nggak hidup selamanya sebagai perempuan yang dirusak lalu dibuang. Supaya kalau suatu hari ada seorang anak, dia tahu siapa ayahnya.”
Stevano terdiam lama. Jemarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi dengan irama pelan yang mengingatkan Sintia pada kursi goyang di malam pertama itu. Kriet. Kriet.