The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #22

Secercah Kasih Sayang

“KENAPA kamu mau pergi bersama saya?”

Pertanyaan itu jatuh di belakang telinganya. Stevano duduk di anak tangga paling bawah lorong bawah tanah, punggungnya bersandar pada dinding tanah yang dingin, dan Sintia duduk di antara kedua lututnya, dipeluk dari belakang seperti boneka yang takut direbut orang. Dari balik pintu Kamar Ibu yang terbuka sedikit, terdengar dengkur halus perempuan tua itu. Lampu di anak tangga kesepuluh bergoyang pelan, melemparkan bayangan mereka berdua ke dinding sebagai satu sosok yang ganjil.

“Seharusnya kamu pergi sendiri,” lanjut Stevano. “Pintu di atas tidak dikunci. Kamu bisa bebas dari saya.” Dia diam sebentar. “Lagi pula, kamu tidak perlu takut soal anak. Saya sudah bilang, saya tahu apa yang saya lakukan.”

Jemarinya menyisir rambut Sintia yang sepunggung, merapikannya helai demi helai, turun ke punggung, lalu naik lagi ke kepala. Sudah bermenit-menit dia melakukannya. Dan Sintia membiarkannya.

Itulah yang paling membuatnya ngeri. Bukan sentuhan itu, tapi kenyataan bahwa tubuhnya tak lagi menegang saat menerimanya. Tangan yang sama pernah membekap mulutnya di gubuk reyot, mencekik lehernya, membenturkan kepalanya ke dinding. Kini tangan itu menyisir rambutnya seperti seorang ibu menidurkan anak, dan sesuatu di dalam diri Sintia, sesuatu yang lelah dan terlalu lama ketakutan, menyambutnya seperti tanah kering menyambut hujan.

Ini bukan cinta, bisiknya pada diri sendiri. Ini tubuh yang terlalu capek untuk terus melawan. Namun, bisikan itu makin hari makin pelan.

“Bukan begitu,” jawab Sintia akhirnya. Dia memeluk kedua lututnya dengan dagu bertopang di atasnya. “Aku nggak akan pergi sendiri. Kamu sudah janji akan bertanggung jawab. Aku nggak mau jadi istri lelaki lain setelah semua ini. Dan aku tahu ini bukan soal cinta. Kamu juga tahu itu.”

Tangan Stevano berhenti di ubun-ubunnya.

“Tapi, bagaimana kalau saya bilang saya mencintaimu?”

Sintia menoleh cepat. Wajah Stevano begitu dekat. Mata kuning keemasan itu tidak sedang menyeringai. Hanya tatapan datar seorang lelaki yang baru saja mengucapkan kalimat dalam bahasa yang tak pernah dia pelajari.

“Kamu bercanda,” kata Sintia. Dia memalingkan wajah ke depan, lalu menunduk.

Jantungnya berdebar, dan dia membenci jantungnya karena itu. Itu bahkan bukan pernyataan cinta, hanya pertanyaan tentang “bagaimana kalau”. Namun, Stevano mengucapkannya dengan ketenangan yang sama seperti saat dia berkata “Diam. Jangan melawan” di gubuk itu: tanpa ragu, tanpa canda.

Bagaimana bisa seorang psikopat mencintai? Stevano memang sudah berjanji berubah, tetapi bibir yang sama pernah meneriakkan “Mati kamu, Perempuan Jalang!” Siapa yang menjamin iblis itu tidak terbangun lagi suatu malam? Dan yang lebih menakutkan, Sintia tak lagi yakin dengan dirinya sendiri. Benarkah tuntutan tanggung jawab itu hanya soal martabat, soal Fira, soal perempuan-perempuan di balik jeruji? Atau ada bagian dirinya yang sudah ikut tersesat di lorong ini, lalu menyebut ketersesatan itu dengan nama yang lebih manis?

Tidak semua yang terasa seperti perlindungan adalah kasih sayang. Suara ibunya lagi, jernih seperti dulu.

Sintia menggeleng pelan, mengusir pertanyaan-pertanyaan itu. Apa pun namanya, dia tetap butuh tanggung jawab itu. Dia tetap butuh suara.

“Nggak apa-apa,” katanya, dan senyum kecil muncul tanpa seizinnya. “Aku nggak keberatan kalau kamu mencintaiku. Itu berarti masih ada bagian dari dirimu yang manusia. Seenggaknya kamu masih bisa mencintai.”

Stevano membelalak, seolah baru ditunjukkan sesuatu di dalam dirinya yang tak pernah dia tahu ada. Seorang pembunuh yang masih bisa mencintai. Baginya, itu terdengar seperti keajaiban yang tidak pantas dia terima.

“Kamu bidadari.”

Kata itu meluncur begitu saja, dan Sintia membeku. Di kelab, lelaki-lelaki mabuk memujinya dengan kata yang sama, menyelipkannya bersama lembaran uang dan tangan yang meraba pinggang. Rasanya murahan. Tetapi dari mulut Stevano, kata itu tidak terdengar seperti rayuan. Kata itu terdengar seperti pengakuan dosa.

“Kenapa kamu bilang begitu?” tanya Sintia setelah lama terdiam.

“Karena memang begitu. Saya tidak bisa menjelaskannya.” Stevano menatap lampu di anak tangga kesepuluh. “Selama ini saya tinggal di dalam gelap. Gelap itu rumah saya, lalu kamu datang dan menyeret saya keluar. Atau setidaknya sampai ke anak tangga ini.”

Berlebihan, untuk ukuran lelaki yang menyimpan gergaji dan katana di balik rak bukunya. Namun, Sintia memahami maksud di balik kata-kata itu. Stevano tidak pernah bisa bicara lugas tentang perasaannya; dia hanya punya perumpamaan, seperti mutiara di lumpur, seperti malaikat yang jatuh. Barangkali karena kata-kata yang lugas terlalu mirip pengakuan, dan bagi lelaki seperti dia, pengakuan terlalu mirip kekalahan.

“Aku bukan bidadari, Stevano—”

“Vano.”

Sintia mengerjap.

Lihat selengkapnya