The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #23

Bagian dari Pengorbanan

“SAYA punya sebuah vila jauh di luar kota.”

Suara Stevano memantul pelan di dinding lorong bawah tanah. Lampu di anak tangga kesepuluh bergoyang, membuat bayangan mereka berdua memanjang lalu memendek, seperti dua sosok yang belum bisa memutuskan hendak tinggal atau pergi.

“Di kaki gunung, dikelilingi kebun teh. Tidak ada tetangga sejauh dua kilometer. Kita bisa tinggal di sana untuk sementara, kamu, saya, dan Ibu.” Dia berhenti sejenak, seolah kalimat berikutnya lebih berat dari yang dia kira. “Hari ini saya akan membebaskan mereka. Semuanya. Kamu bawa Ibu keluar dari hutan lewat jalur utara. Saya menyusul setelah urusan di bawah selesai. Kamu tidak keberatan?”

Sintia tidak langsung menjawab. Dia memandangi wajah lelaki itu di bawah cahaya yang goyah. Kini, Sintia melihat sesuatu yang tak pernah ada di mata kuning keemasan itu: cemas.

Dan Sintia mengerti alasannya. Membebaskan enam puluh perempuan sama dengan membuka pintu lebar-lebar, bagi polisi, bagi keluarga para korban, bagi seisi kota yang berbulan-bulan memasang foto orang hilang di tiang listrik. Namun, tidak membebaskan mereka berarti semua yang Stevano ucapkan di depan nisan Silvi hanyalah bunyi. Tidak ada jalan keluar yang tidak berdarah. Sintia juga belum lupa langkah-langkah di antara ilalang beberapa malam lalu. Seseorang sudah mengendus tempat ini. Waktu mereka tidak banyak.

“Fira ...,” bisik Sintia akhirnya. “Kalau dia ada di antara—”

“Semua yang masih hidup akan saya bebaskan.”

Jawaban yang sama. Sama tak tuntasnya. Sintia tidak memaksa karena dia takut pada apa yang mungkin dia dengar.

Stevano merogoh saku celananya dan mengulurkan sebuah kunci dengan gantungan kulit hitam. “Mobil saya parkir di balik pohon trembesi besar, beberapa meter dari mulut jalan setapak. Ikuti saja jalan ini ke utara. Kalau terjadi sesuatu, jangan tunggu saya. Bawa Ibu pergi.” Dia menatap Sintia lama. “Saya percaya padamu. Saya ingin—” Kalimatnya terputus. Dia menelan ludah, lalu mencoba lagi, kali ini lebih pelan. “Saya ingin hidup tanpa harus membunuh. Saya belum pernah mencobanya.”

Sintia menelan ludah. Beberapa minggu lalu, dia berdoa agar lelaki ini tak pernah dilahirkan, atau dikurung di sel paling gelap sampai tulangnya lapuk. Sekarang, dia tidak tahu harus menamai apa yang menggumpal di dadanya. Dia takut, jika diberi nama, perasaan itu akan menjadi nyata. Suara ibunya berbisik dari tempat yang jauh: Tidak semua yang terasa seperti perlindungan adalah kasih sayang. Sintia memejam. Dia tidak punya jawaban untuk itu. Yang dia punya hanya pesan lain dari ibunya, pesan yang selama ini membuatnya tetap berdiri: Kerjakan bagianmu, serahkan sisanya pada Tuhan.

“Apa yang kamu tunggu?” Stevano menyodorkan kunci itu sekali lagi. Logamnya berayun di udara, berkilat samar di bawah lampu minyak. “Pergilah.”

Sintia tidak mengambil kunci itu. Dia menggenggam tangan yang memegangnya, tangan kiri yang masih berbalut perban, tangan yang dulu dia gigit sampai berdarah. “Janji padaku kamu selamat. Janji kita ketemu lagi.” Suaranya bergetar, tetapi matanya tidak. “Janji adalah utang. Jangan berani-berani kamu tidak membayarnya.”

Stevano mengangguk pelan. Senyumnya bukan seringai dengan alis kiri terangkat, tapi senyum lelah seseorang yang baru saja meletakkan beban yang terlalu lama dia pikul. “Saya janji. Kalau belum waktunya saya pulang ke rumah yang sebenarnya, saya akan pulang padamu.” Dia tertawa kecil, nyaris tanpa suara. “Orang seperti saya tidak mati semudah itu. Mungkin Tuhan, kalau Dia memang mendengar, sedang memberi saya kesempatan terakhir sebelum kami bertemu.”

Sintia mengambil kunci itu. Dia berbalik, lalu membeku di tempat. Kedua kakinya seperti dipaku ke lantai tanah. Beberapa minggu lalu, dia akan bersorak jika lelaki ini mati. Sekarang, membayangkannya saja membuat dadanya seperti diremas. Dan justru itulah yang paling dia takuti.

“Ada apa lagi?” Stevano mengernyit.

Sintia menggeleng. Stevano meraih tangannya, menggenggamnya erat, ibu jarinya mengusap punggung tangan Sintia perlahan, lalu mengecupnya.

“Takdir itu aneh. Kita dipertemukan dengan cara yang paling tidak wajar.”

Tidak wajar. Sintia teringat gang sempit berbau sampah, jarum suntik, gubuk reyot, tali di pergelangan tangannya. Tidak wajar adalah kata yang terlalu sopan. Namun, dia diam saja.

“Ibu sudah menunggu.” Stevano melepaskan tangannya, lalu berbalik menuju lorong di balik gerbang besi berkarat. Kali ini pantofelnya nyaris tak bersuara. Dia berjalan pelan, hampir hati-hati, seperti orang yang takut membangunkan sesuatu.

Di Kamar Ibu, perempuan tua itu duduk di tepi ranjang besi, memeluk bonekanya erat-erat. Rambut putihnya sudah disisir rapi. Entah siapa yang menyisirnya.

“Kita mau ke mana?” tanyanya.

Lihat selengkapnya