The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #24

Menjadi Korban Para Korban

SINTIA tidak bisa berhenti mondar-mandir di samping mobil hitam itu.

Mobil itu tersembunyi di balik pohon trembesi, persis seperti yang Stevano katakan. Ibu Stevano sudah duduk di jok belakang, memeluk bonekanya, menyenandungkan lagu nina bobo yang sumbang ke kaca jendela yang berembun. Kunci bergantungan kulit hitam itu terasa dingin dan berat di genggaman Sintia. Kabut masih menggantung di pucuk-pucuk pohon. Dari arah timur, hutan diam. Terlalu sunyi.

Enam puluh perempuan. Sintia menghitungnya lagi di kepala, seolah angka itu bisa berubah kalau diulang. Enam puluh perempuan yang berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun, dikurung di balik jeruji, diberi makan seperti binatang, mendengar teman-teman mereka hilang satu per satu ke dalam lubang. Mustahil mereka keluar dari sana sebagai orang yang sama.

Sintia tahu, karena dia pernah merasakannya. Pagi pertama di gubuk itu, dengan pergelangan tangan memar dan gaun hitam yang robek, dia bersumpah akan membalas. Di depan gembok berkarat, dia pernah menggenggam batu dan nyaris menghantamkannya ke kepala lelaki bertopeng. Yang menahannya waktu itu hanya satu bisikan kecil dari doanya sendiri: Lalu kamu akan menjadi apa?

Tidak semua orang sempat mendengar bisikan semacam itu. Dan tidak ada yang berhak menyalahkan mereka.

“Stevano,” gumamnya pada pepohonan, “kembalilah dengan selamat.”

Kalimat itu meluncur sebelum dia sempat mencegahnya. Sintia terdiam, mendengarkan gema suaranya sendiri, dan merasa asing.

Sejak kapan dia mendoakan keselamatan lelaki itu?

Dulu, satu-satunya nama yang dia bawa dalam doa adalah Farhan. Dia tak pernah membiarkan lelaki mana pun cukup dekat untuk dikhawatirkan. Sentuhan mereka saja membuatnya ingin menggosok kulit sampai perih. Tetapi sekarang, dadanya berdentam-dentam karena lelaki yang paling layak dia benci sedang berada di tengah hutan bersama enam puluh orang yang paling berhak membencinya.

Apakah ini cinta? Hatinya ingin menjawab ya. Akalnya menggeleng keras. Dan di antara keduanya, suara ibunya kembali terdengar, pelan tapi jernih: Tidak semua yang terasa seperti perlindungan adalah kasih sayang.

Sintia menekan dada dengan telapak tangan. Mungkin dia tidak akan menemukan jawabannya hari ini. Yang dia tahu hanya satu: kalau Stevano mati di hutan itu, janji tentang Fira ikut terkubur bersamanya, bersama semua jawaban yang belum sempat dia tagih.

Dia menoleh ke jok belakang. Ibu Stevano masih bersenandung, jari-jarinya yang keriput mengelus rambut boneka. Amankah meninggalkannya sebentar? Mobil ini tersembunyi. Dan siapa yang berani masuk Hutan Terlarang, tempat yang bahkan ditakuti warga kampung di hilir sungai?

Sintia mengetuk kaca pelan. “Bu, tunggu sebentar, ya. Sintia jemput Vano dulu.”

Wanita tua itu tidak menoleh. Namun, senandungnya berhenti sejenak, lalu berlanjut, seolah mengiyakan.

Sintia mengantongi kunci, lalu berlari ke arah timur, menembus ilalang yang basah oleh embun.

Semoga aku tidak terlambat, batinnya. Ya Tuhan, jangan biarkan aku terlambat, untuk siapa pun di antara mereka.


-II-


Rantai borgol itu menghantam kepalanya untuk ketiga kalinya, dan dunia mendadak miring.

Stevano membungkuk. Satu tangan menekan luka di kepala, tangan lainnya bertumpu di lutut. Darah hangat merembes di sela-sela jarinya, menetes ke kemeja putih yang sudah tak lagi putih. Kalau dia roboh sekarang, riwayatnya tamat di sini, di hutan yang selama ini menjadi kerajaannya.

“Sialan,” desisnya. “Apa yang kamu lakukan, perempuan tolol?”

“Kamu akan mati di sini!” Perempuan berkulit sawo matang itu mengayunkan borgol lagi. Stevano mengangkat kepala dan menangkap pergelangan tangannya di udara. Untuk sesaat mereka saling menatap, dan Stevano mengenali bekas luka di pelipis perempuan itu. Dia sendiri yang membuatnya, dengan gagang pisau, pada malam perempuan itu mencoba kabur.

Lihat selengkapnya