The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #25

Terjepit Nafsu

CUKUP lama mereka meringkuk di balik semak belukar yang rapat itu. Duri-duri kecil menggores betis Sintia, ranting menusuk punggungnya, tetapi dia tidak berani bergeser seinci pun. Napas Stevano terdengar jelas di telinganya, berat, tersendat, berbau besi. Darah dari pelipisnya sudah mengering menjadi garis cokelat yang membelah pipi, dan kemeja putihnya kini lebih mirip kain lap di rumah jagal.

Dari kejauhan, suara para perempuan itu masih timbul tenggelam, teriakan, ranting patah. Seseorang menyebut nama Tuhan dan mengutuk nama Stevano dalam satu tarikan napas.

Sintia menggigit bibir. Pikirannya melayang ke mobil di balik pohon trembesi, ke perempuan tua yang bersenandung sambil memeluk boneka. Kunci itu masih di tangannya, tergenggam begitu erat hingga gantungan kulitnya basah oleh keringat. Ibu sendirian. Ibu tidak akan tahu harus ke mana kalau ada yang menemukannya.

“Ibu ...,” bisiknya.

“Mereka tidak mencari Ibu,” jawab Stevano, sama pelannya. “Mereka mencari saya.” Dia diam sebentar. “Selama saya di sini, Ibu aman di sana.”

Sintia tidak tahu apakah itu kebenaran atau sekadar penghiburan. Dia memilih memercayainya, karena tak ada pilihan lain.

“Sampai kapan kita di sini?” tanyanya setelah puluhan menit membisu. Dia sengaja membuka obrolan, apa saja, asal bisa mengalihkan diri dari kedekatan yang tak terhindarkan di ruang sesempit itu: lutut yang bersentuhan, lengan yang menempel, panas tubuh yang merembes lewat dasternya yang tipis.

“Sampai perempuan-perempuan gila itu pergi.”

“Mereka nggak gila.” Suara Sintia lebih tajam dari yang dia maksudkan. “Kamu sudah lihat sendiri apa yang mereka lakukan. Itu bukan gila, itu dendam. Aku tahu rasanya, karena aku pernah ada di posisi mereka.” Matanya menerawang. Malam pertama di gubuk itu, topeng merah di atas meja, sumpah yang dia ucapkan dengan gigi bergemeletuk: dia akan membalas, apa pun caranya.

Stevano menunduk. Sesuatu berubah di wajahnya, seperti orang yang baru sadar bahwa dia berdiri di tepi jurang yang dia gali sendiri. “Dulu kamu pasti ingin sekali membunuh saya.”

“Aku nggak akan bohong soal itu.”

“Lalu kenapa tidak? Kamu punya batu. Kamu punya kesempatan.” Dia mengangkat wajah, menatap Sintia dengan sungguh-sungguh. “Saya membalas dendam pada ayah saya, dan malam itu saya merasa puas. Balas dendam itu seperti lapar. Sebelum makanan masuk ke perut, kamu akan terus merasa lapar.”

“Lalu kenapa kamu masih lapar?”

Stevano terdiam.

“Kalau dendammu sudah kenyang malam itu, kenapa masih ada perempuan-perempuan di lubang itu?” Sintia menelan ludah. Kata-kata itu terasa kasar di lidahnya, tetapi dia tidak menariknya. “Dendam nggak pernah kenyang. Dia cuma pindah piring. Anggaplah aku membunuhmu malam itu. Ibumu kehilangan satu-satunya orang yang menyuapinya. Mungkin ada orang suruhanmu yang membalasku. Lalu Farhan membalas mereka. Begitu terus, seperti rantai yang nggak pernah putus.” Dia melirik leher Stevano, tempat rantai borgol tadi melilit. “Kamu sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya dililit rantaimu sendiri.”

Lama Stevano tidak menjawab. Di kejauhan, sebuah teriakan pecah, lalu reda. Ketika akhirnya dia bicara, suaranya serak. “Dari mana kamu mendapat pikiran seperti itu?”

Lihat selengkapnya