“SEBAIKNYA kita pergi dari sini sekarang.” Stevano bangkit lebih dulu, menepis daun kering yang menempel di kemejanya yang ternoda darah. Suaranya serak, seperti ditarik dari tempat yang jauh. “Kalau kita tinggal lebih lama, saya tidak yakin bisa terus berhenti. Dan saya tidak ingin melukaimu lagi. Kita sudah berjanji untuk belajar berjalan di jalan yang lain.”
Dia keluar dari semak lebih dulu. Sintia menyusul beberapa langkah di belakang, merapikan tali daster di bahunya dengan jemari yang masih gemetar.
“Maaf,” ucap Sintia setelah berhasil menjajari langkahnya. Kata itu keluar lebih pelan dari yang dia mau. Dia tidak tahu persis untuk apa dia meminta maaf: untuk dirinya yang hampir menyerah, atau untuk tubuhnya yang tidak lagi tahu cara menolak.
Stevano menoleh. Senyumnya tipis dan lelah. “Ayo. Ibu sudah menunggu terlalu lama.”
Dia meraih tangan Sintia dan menuntunnya kembali ke barat, menyusuri jalan setapak yang tadi mereka tempuh sambil berlari. Pohon trembesi itu masih berdiri di tempatnya, besar dan tenang, dahan-dahannya merentang seperti payung yang tak dilipat.
Namun tidak ada apa-apa di bawahnya.
Tidak ada mobil, tidak ada senandung nina bobo yang sumbang, tidak ada perempuan tua yang memeluk boneka. Hanya dua garis bekas ban di tanah lembap, rumput yang rebah, dan sunyi yang terlalu rapi.
Sintia mengitari batang trembesi itu sekali, dua kali, tiga kali, seolah mobil sebesar itu bisa bersembunyi di balik kulit kayu. “Tadi di sini,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku yakin tadi di sini. Ibu duduk di jok belakang. Aku sudah bilang Ibu jangan ke mana-mana ....” Suaranya naik, lalu pecah. “IBU!”
Hutan menelan teriakan itu tanpa mengembalikan apa pun.
Stevano tidak berteriak. Dia berjongkok di samping bekas ban, menyentuh tanah dengan ujung jari seperti sedang membaca. Wajahnya pucat di bawah darah yang mengering. Ibunya tidak bisa menyetir. Ibunya bahkan tidak tahu ini tahun berapa. Perempuan yang memanggil boneka dengan nama anaknya sendiri tidak mungkin menyalakan mesin, memindahkan gigi, lalu pergi. Mobil tidak bergerak dengan sendirinya. Seseorang membawanya. Dan seseorang itu membawa ibunya.
Pikiran itu masuk ke kepalanya seperti air ke lambung kapal yang bocor.
Dia bangkit, berlari ke arah semak, kembali lagi, menyibak ilalang, memanggil-manggil dengan suara yang makin lama makin mirip suara bocah. “Mom! Mom, ini Vano!” Kemejanya basah oleh keringat. Napasnya tersengal. Kini, lelaki yang selalu tahu apa yang akan terjadi itu tampak tidak tahu apa-apa.
Sintia berdiri dengan kedua tangan bertumpu di lutut. Rasa bersalah naik ke tenggorokannya, pahit seperti empedu. Dia diberi satu tugas: menunggui Ibu. Satu tugas saja. Dan dia meninggalkannya demi lelaki yang sedang dikeroyok para korbannya sendiri.
Dia menunggu ledakan itu, bentakan, cengkeraman di leher. “Perempuan bodoh!” Tubuhnya sudah bersiap sebelum pikirannya sempat melarang.
“Vano ....”
Stevano berhenti dengan punggung yang naik-turun.
“Maafkan aku yang nggak bisa—”
“Bukan salahmu.” Dia berbalik. Matanya merah, tetapi suaranya kembali tenang, ketenangan yang dipaksakan seperti tangan yang menahan pintu dari angin. “Kalau kamu tidak datang, saya sudah mati dijerat rantai saya sendiri. Ibu yang hilang, atau saya yang mati. Mungkin memang hanya itu pilihannya.” Dia menyeka sudut matanya dengan punggung tangan kiri, tepat di bekas gigitan itu. “Tapi saya tidak akan pergi dari hutan ini tanpanya.”
Sintia tidak tahu harus lega atau takut. Dulu, kesalahan sekecil ini akan dibayar dengan rasa sakit. Sekarang lelaki itu memaafkannya lebih cepat daripada dia memaafkan dirinya sendiri. Dan justru itu yang membuat perutnya mengencang.