BEBERAPA menit setelah kepalanya rebah di pangkuan Sintia, napas Stevano memanjang dan berat. Lelaki yang selama ini seolah tidur dengan satu mata terbuka akhirnya tenggelam juga. Kerut di dahinya mengendur. Darah di pelipisnya, bekas hantaman borgol, sudah mengering dan menghitam seperti karat.
Balai-balai bambu berderit setiap kali Sintia menggeser kaki. Kriet. Pelan. Sintia menahan napas, menunggu derit itu membangunkannya. Tidak, Stevano tetap lelap.
“Maafkan aku,” bisiknya. “Kalau saja kunci itu nggak jatuh, Ibu masih di sini.” Jemarinya berhenti di rambut Stevano. “Aku janji akan menemukannya.”
Janji lagi. Sintia nyaris tertawa getir. Sudah berapa banyak janji yang dia tebar sejak malam di bawah beringin itu? Kepada Fira, kepada perempuan muda di balik jeruji, kepada Farhan, dan sekarang kepada lelaki yang tertidur di pangkuannya. Janji adalah utang, kata ibunya dulu. Utang Sintia sudah bertumpuk melebihi apa yang sanggup dia bayar.
Di bawah cahaya lampu minyak yang sumbunya tinggal sejengkal, wajah Stevano tampak seperti wajah siapa saja. Lelah, kotor, mulutnya sedikit terbuka, seperti bocah yang tertidur di bangku bus. Tidak ada mata kuning keemasan yang menimbang. Tidak ada seringai dengan alis kiri terangkat.
Dan justru itulah yang membuat Sintia gemetar.
Monster seharusnya terlihat seperti monster. Berjubah hitam, bermata menggantung sampai dagu, bertengkorak terkelupas, seperti makhluk yang dia lihat di bawah beringin pada malam pertama. Bukan seperti ini, bukan seperti lelaki yang mendengkur halus dan baru kehilangan ibunya.
“Kamu bukan—” Sintia berhenti. Kalimat itu terlalu mudah. Kamu bukan pembunuh. Padahal dia sendiri yang berdiri di tepi lubang itu, mencari wajah Fira di antara mata-mata yang terbuka. “Kamu manusia,” ralatnya pelan. “Itu yang paling menakutkan. Kamu manusia. Jadi kamu bisa memilih.”
Dia tidak tahu apakah kalimat itu doa atau dakwaan.
Malam merayap makin dalam. Dingin hutan menyusup lewat celah dinding bambu, lewat kusen tanpa daun jendela. Serangga dan kodok bersahutan, lalu satu per satu terdiam. Sintia tidak menyadari kapan matanya terpejam, telapak tangannya masih di puncak kepala Stevano.
Yang membangunkannya adalah deru mesin.
Jauh dari arah utara. Timbul, tenggelam, timbul lagi, persis seperti yang mereka dengar sore tadi. Sintia mengerjap. Lampu minyak sudah padam. Dari kusen yang terbuka, hanya bulan separuh dan taburan bintang yang menerangi hutan.
Itu mobil saya. Kalimat Stevano sore tadi berdengung di kepalanya.
Ibu.
Sintia memindahkan kepala Stevano ke balai-balai sepelan mungkin. Kriet. Stevano menggumam, berbalik, lalu diam lagi. Sintia berdiri di ambang pintu, kakinya yang telanjang menyentuh tanah lembap. Seharusnya dia membangunkan Stevano. Dia tahu itu. Tetapi dia juga ingat wajah Stevano saat berteriak “Mom!” di bawah pohon trembesi. Kalau dia bisa kembali membawa kabar, satu saja kabar baik, mungkin utangnya berkurang satu.
Maka, dia melangkah keluar.
Semak-semak menyambutnya dengan duri dan embun. Ujung daster kremnya tersangkut ranting dan robek sedikit. Sintia menyibak, terus berjalan ke arah suara. Tumitnya, yang dulu tertusuk paku di gubuk kedua, berdenyut setiap kali menginjak akar.
Seberkas cahaya muncul di antara batang-batang pohon. Kecil, kekuningan, bergoyang. Lampu mobil? Sintia mempercepat langkah. Cahaya itu berhenti, seolah menunggu, lalu bergeser menjauh. Deru mesin melemah, makin lemah, dan akhirnya lenyap bersama cahayanya, seperti lilin yang ditiup.
“Jangan,” desis Sintia. “Jangan pergi.”
Dia berlari dengan napas yang pecah. Ranting-ranting mencambuk lengannya. Ketika akhirnya dia berhenti, membungkuk dengan tangan bertumpu di lutut, yang tersisa hanyalah hutan, dan kesadaran yang datang terlambat.
Dia tidak tahu jalan kembali.
Sintia berputar pelan. Setiap pohon tampak kembar. Setiap celah semak terlihat seperti jalan yang tadi dia lewati, dan sekaligus bukan. Dia tidak menandai apa pun. Tidak mematahkan ranting, tidak menggores kulit kayu. Dia berlari mengejar cahaya seperti ngengat, dan sekarang cahaya itu tak ada lagi.
“Bodoh,” bisiknya pada diri sendiri. Kata itu terdengar seperti suara Stevano. Perempuan bodoh.
Sintia bersandar di batang pohon, mengatur napas. Lalu dia mendengarnya. Langkah yang tersaruk-saruk di atas daun kering. Tidak hanya satu. Seluruh tubuhnya membeku. Rambut halus di tengkuknya berdiri, persis seperti sore tadi, saat Stevano berbisik bahwa ada yang mengikuti mereka.