The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #28

Malaikat Penyelamat

STEVANO terbangun karena dingin di bawah kepalanya. Pangkuan tempat dia tertidur sudah tidak ada. Dengan mata masih terpejam, tangannya meraba balai-balai, menyapu tikar, menyapu bambu yang lembap, tetapi kosong.

Kriet. Balai-balai itu berderit saat dia bangkit terlalu cepat.

Lampu minyak di sudut gubuk tinggal nyala kecil yang nyaris padam. Jeriken air masih di tempatnya. Pintu gubuk terbuka sejengkal, berayun pelan ditiup angin.

“Sintia?”

Tak ada jawaban. Hanya jangkrik, dan dahan yang bergesekan di kejauhan.

Dia keluar, mengitari gubuk beberapa kali, memanggil lagi dengan suara lebih keras. Di tanah basah dekat pintu, dia menemukan jejak kaki telanjang yang kecil menuju utara, ke arah suara mesin yang tadi malam mereka dengar.

Kemarin Ibu, sekarang Sintia.

“Saya tidak akan kehilangan yang kedua.” Kalimatnya sendiri, beberapa jam lalu, kini kembali seperti ejekan.

Langit di atas kanopi mendung. Guntur menggeram jauh, tetapi hujan belum mau turun. Stevano tidak berhenti untuk memakai pantofelnya. Dia berlari dengan kaki telanjang, menginjak kerikil, akar, dan duri, seperti bocah pemulung yang dulu berlari di atas aspal panas tanpa alas kaki.

Lalu, di tengah langkahnya, suara itu datang. Suara lama yang tenang dan akrab.

Dia lari darimu. Sama seperti yang lain. Kalau nanti kamu temukan, rantai saja kakinya. Supaya dia tidak bisa pergi lagi.

Stevano tersandung, dan bukan karena akar. Dia mengenali suara itu. Suara yang dulu menyuruhnya membeli rantai dan gembok. Suara yang menimbang, mengukur, memilih. Suara lelaki bertopeng merah.

“Tidak,” desisnya pada gelap. “Bukan begitu caranya.”

Namun, bagaimana caranya, dia tidak tahu. Seumur hidup, satu-satunya cara yang dia kenal untuk mempertahankan sesuatu adalah dengan mengurungnya.

Mungkin Sintia memang kabur. Mungkin semua yang dia ucapkan, tentang menikah, tentang belajar menjadi manusia, hanya cara seorang tawanan membeli waktu. Stevano tahu benar cara itu. Dia sendiri sudah membeli begitu banyak waktu dengan kebohongan.

Namun jejak kaki itu tidak berlari menjauh dengan tergesa. Langkahnya pendek-pendek, ragu, sesekali berbelok seperti orang yang menoleh. Langkah orang yang mencari sesuatu, bukan orang yang melarikan diri.

Kunci itu. Ibu. Dia pergi mencari Ibu.

Sesuatu di dada Stevano runtuh, dan dia tidak punya nama untuknya.

“SINTIA!”

Teriakannya membangunkan burung-burung di dahan. Mereka terbang serentak, sayapnya memukul udara, lalu hutan kembali sunyi. Sunyi yang terlalu lama.

Karena matanya terus mencari ke sana kemari, dia tak melihat dahan rendah yang melintang. Keningnya menghantam kayu. Dunia berputar, dan dia terjengkang ke tanah. Luka bekas borgol di pelipisnya terbuka lagi. Darah hangat mengalir ke alis, masuk ke sudut mata.

Lihat selengkapnya