The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #29

Singgasana Keikhlasan

“VANO.”

Sintia tidak tahu siapa yang lebih dulu bergerak, dia atau kakinya. Yang dia tahu, sedetik kemudian lengannya sudah melingkari tubuh lelaki itu, wajahnya terbenam di kemeja putih yang robek dan berbau besi. Darah dari pelipis Stevano, luka bekas borgol yang terbuka lagi, menetes ke rambutnya. Sintia tidak peduli. Lehernya masih panas oleh bekas cekikan, napasnya masih tersendat, dan seluruh tubuhnya gemetar seperti daun yang baru saja lolos dari badai.

Stevano membalas pelukan itu. Telapak tangannya mengusap kepala Sintia, lalu punggungnya, pelan dan berulang, seperti seseorang yang sedang belajar cara menenangkan. Karena memang dia sedang belajar.

“Aku takut.” Suara Sintia pecah di dadanya. “Aku takut sekali. Terima kasih … terima kasih sudah datang.”

Kata terima kasih itu terasa ganjil di lidahnya. Tangan yang kini mengusap punggungnya adalah tangan yang dulu menyeretnya ke gubuk reyot, yang mencekiknya, yang membungkam mulutnya sambil berbisik memintanya diam dengan kasar. Sintia tahu itu. Tubuhnya tahu itu. Namun malam ini tubuhnya memilih lupa, dan justru itulah yang paling membuatnya takut sejak lama.

Stevano tidak menjawab. Dia memandangi wajah Sintia yang pucat, bekas jari merah di lehernya, dan matanya yang basah. Wajah ketakutan seperti itu sudah ratusan kali dia lihat dari balik topeng merah. Dulu, wajah seperti itu membuat kepalanya diam. Malam ini, wajah itu justru membuat dadanya sesak, seolah seseorang sedang menyodorkan cermin yang selama ini dia hindari.

“Kamu duduk di sini dulu,” katanya akhirnya, membantu Sintia bersandar di batang pohon. “Sudah tidak apa-apa. Biar saya yang menyelesaikan.”

Dia hendak berdiri, tetapi pergelangan tangannya ditarik. Sintia menggeleng pelan, tidak lama, hanya satu gelengan, tetapi Stevano mengerti artinya. Jangan menjadi lelaki bertopeng merah lagi, bahkan untuk menyelamatkanku.

Sintia tahu para perempuan itu tidak akan berhenti. Dendam mereka belum kenyang, dan dendam, seperti yang dia katakan di semak-semak, tidak pernah kenyang, dendam itu hanya pindah piring. Namun dia juga tahu, jika Stevano membalas dengan cara lamanya, maka semua yang terjadi beberapa hari terakhir, air mata di lorong bawah tanah, doa yang tak diakhiri amin, jeruji yang dibuka, akan runtuh dalam satu malam.

Ibunya dulu pernah berkata, sambil menyisir rambut Sintia kecil sebelum tidur: api tidak pernah padam jika dilawan dengan api. Yang berhak menghakimi hanya Tuhan, karena hanya Dia yang tahu seluruh isi hati. Sintia tak pernah benar-benar memahami kalimat itu. Malam ini, dengan leher yang perih dan seorang pembunuh yang berlutut di depannya, dia mulai mengerti bahwa ikhlas bukan berarti lupa. Ikhlas adalah meletakkan palu hakim yang terlalu berat untuk tangan manusia.

“Saya bisa menahan diri,” bisik Stevano. Dia mengusap jemari Sintia di pergelangannya, lalu melepaskannya perlahan. “Saya ingat semua yang kamu katakan.”

Dia berjalan menuju dua perempuan yang masih tergeletak di tanah: si sawo matang dengan bekas luka di pelipis, dan seorang lagi yang tadi memegangi lengan Sintia. Perempuan-perempuan lain mundur selangkah. Beberapa saling berbisik, beberapa menggenggam batu dan dahan, tetapi tak satu pun berani maju. Merekalah yang paling tahu seberapa kejam lelaki itu. Mereka pernah mendengar langkah pantofelnya di lorong, pernah menghitung siapa yang tak kembali ke balik jeruji, pernah kehilangan teman tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Malam ini dia datang tanpa pantofel, tanpa topeng, dengan kaki telanjang yang berdarah, tetapi ketakutan tidak peduli pada pakaian.

Di barisan paling belakang, gadis dari balik jeruji itu memeluk lututnya sendiri. Matanya berpindah-pindah antara Stevano dan Sintia, seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak masuk akal.

“Saya sudah memutuskan untuk tidak menyakiti kalian lagi,” ujar Stevano. Suaranya rendah dan datar, suara yang sama yang dulu bertanya kepada seorang perempuan berambut pendek. “Saya membuka jeruji itu. Saya melepaskan kalian. Tapi ternyata yang kalian cari bukan kebebasan.” Dia berhenti, menatap kedua perempuan di tanah. “Kalian hanya ingin menjadi saya.”

Kalimat itu menggantung di udara malam. Sintia memejamkan mata. Benar, pikirnya. Dan justru karena benar, kalimat itu terdengar mengerikan dari mulut lelaki yang menciptakan mereka.

Perempuan sawo matang itu bangkit dengan susah payah, menatap Stevano lurus-lurus, tanpa gentar, lalu meludah tepat ke wajahnya.

Lihat selengkapnya