SINTIA tidak ingat apa pun selain darah Stevano yang masih hangat di telapak tangannya, dan seringai di wajah perempuan sawo matang itu. Bekas luka di pelipis perempuan itu berkilat oleh keringat. Pisau kecil di tangannya masih meneteskan darah.
“Kurang ajar kamu!”
Tenaga itu datang entah dari mana. Dalam beberapa langkah, Sintia sudah berada di hadapan perempuan itu. Pisau kecil terlempar ke semak. Kedua tangannya mencengkeram leher jenjang itu, lalu menekan, menekan, sampai giginya sendiri bergemeretak ngilu. “Karena kamu ... karena kamu ....”
Perempuan itu meronta. Kukunya mencakar lengan Sintia, meninggalkan garis-garis perih. Sintia tidak merasakannya. Di kepalanya tak ada suara ibunya, tak ada doa. Hanya dengung panjang yang memenuhi segalanya, dengung yang dulu Stevano sebut “kepala yang akhirnya diam”.
Di barisan belakang, gadis dari balik jeruji itu menjerit. Yang lain mundur, dan tak seorang pun maju menolong pemimpin mereka.
Stevano melihat semuanya dari tanah, dan dia mengenali wajah itu. Bukan wajah Sintia, wajah Sintia tak pernah seperti itu, tapi wajahnya sendiri, pada malam pisau pertama menembus kulit ayahnya. Rahang yang mengeras, mata yang tak lagi melihat manusia di depannya, hanya sasaran. Manusia, pikirnya, ternyata hanya berjarak satu tarikan napas dari iblis. Dan dialah yang menuntun Sintia sampai ke tepi jarak itu.
“Sintia ... jangan.” Suaranya parau, nyaris tak terdengar. Perutnya seperti diisi bara; setiap tarikan napas menyobek sesuatu di dalam sana. Jika dia pingsan sekarang, tak ada yang akan menghentikan Sintia. Dan perempuan itu akan bangun besok pagi sebagai seseorang yang tak lagi bisa dia kenali.
Sintia tidak mendengar. Kemarahan menyumbat telinganya lebih rapat daripada kain hitam yang dulu membungkus kepalanya. Dia lupa semua yang baru saja dia katakan kepada perempuan yang sama, bahwa dendam hanya berpindah piring, bahwa api tidak padam dilawan api. Kata-kata itu masih tergantung di udara hutan, tetapi tangannya sudah berhenti mendengarkan mulutnya.
Stevano menekan luka di perutnya dengan tangan kiri, tangan yang berbekas gigitan, lalu memaksa tubuhnya duduk. Dia menjerit. Napasnya patah-patah.
“S-Sintia!”
Tak ada jawaban. Hanya bunyi napas tercekik perempuan sawo matang yang makin pendek.
Maka Stevano berdiri. Dia sendiri tidak tahu bagaimana. Lututnya gemetar, tepi pandangannya mengabur, telapak kakinya yang telanjang menempel pada tanah yang basah oleh darahnya sendiri. Satu langkah. Lalu satu lagi, tak lebih tinggi dari sejengkal. Ranting-ranting menusuk kulit, dan dia membiarkannya.
Bertahun-tahun dia berjalan ke arah perempuan untuk menyakiti. Baru kali ini dia berjalan ke arah seorang perempuan untuk menghentikan rasa sakit.
Setelah tiba di belakang Sintia, tangannya yang berlumur darah menyentuh bahu perempuan itu, lalu melingkar di tubuhnya dari belakang. Bukan bekapan atau cengkeraman. Hanya pelukan yang berat, dengan dahi yang bersandar di punggung Sintia.
“Sudah, Sintia,” bisiknya. “Jangan lakukan apa yang pernah saya lakukan. Kamu akan menyesalinya seumur hidup, saya tahu, karena saya masih menyesalinya. Itu bagian saya. Jangan ambil bagian saya. Jangan jadi saya.” Napasnya tersendat. “Tolong.”
Tolong. Kata yang tak pernah Sintia dengar keluar dari mulut lelaki itu.
Hingga kemudian, jemari Sintia mengendur. Rasanya seperti terbangun dari mimpi buruk yang bukan miliknya. Dengung di kepalanya surut, dan di bawahnya, perlahan, terdengar lagi suara yang sudah lama menemaninya: Lalu kamu akan menjadi apa?