SUARA perut keroncongan membangunkan Sintia dari tidur yang tak pernah benar-benar lelap. Dia tertidur dalam posisi duduk, punggung bersandar pada dinding bambu, kepala terkulai di tepi balai-balai. Lehernya kaku. Lampu minyak di sudut gubuk sudah lama padam; cahaya pagi menyelinap dari celah-celah anyaman, jatuh bergaris-garis di lantai tanah.
Di atas balai-balai, Stevano belum sadar. Sintia menatapnya lama. Perban dari sobekan daster krem yang semalam dia lilitkan di perut lelaki itu sudah berubah warna: cokelat di tepi, merah gelap di tengah. Luka borgol di pelipisnya mengering jadi kerak. Kemeja putih yang dulu selalu rapi kini compang-camping, kaku oleh darah dan lumpur. Kaki telanjangnya penuh goresan duri. Dia tampak lebih muda saat tidur, lebih kecil, seperti bocah yang kelelahan menangis.
Ini lelaki yang memerkosaku, batin Sintia, sengaja, seolah takut lupa. Ini lelaki yang menggali lubang itu.
Namun, tangannya tetap terulur. Punggung jemarinya menyentuh dahi Stevano, lalu tersentak mundur karena merasakan panas, jauh lebih panas daripada semalam.
“Vano,” bisiknya. Tidak ada jawaban selain napas yang pendek dan berat. Balai-balai berderit pelan ketika Sintia bangkit.
Perutnya berbunyi lagi, kali ini lebih keras, seperti menegur. Sudah berapa lama dia tidak makan? Sejak nasi goreng terakhir di rumah tua itu, mungkin. Dua hari? Tiga? Hutan menelan hitungan waktu seperti menelan jejak kaki.
Dia keluar dari gubuk. Udara pagi dingin dan basah, berbau tanah dan daun busuk. Jejak-jejak kaki semalam masih tercetak di lumpur, jejak para perempuan itu, jejak Stevano yang berlari telanjang kaki, jejaknya sendiri. Sintia menelan ludah, berdiri diam beberapa saat, mendengarkan. Hanya burung, serangga, dan tidak ada langkah di ilalang, setidaknya untuk saat ini.
Dia berjalan menjauh dari gubuk, tetapi tidak terlalu jauh. Setiap dua puluh langkah ia menoleh, memastikan atap ilalang itu masih tampak di antara pepohonan.
Di lereng kecil yang terbuka, dia menemukan rumpun ketela pohon yang tumbuh liar, mungkin sisa ladang seseorang yang sudah lama ditinggalkan. Sintia hampir menangis melihatnya, sebab ia mengenal tanaman itu. Nenek di kampung menanamnya di belakang rumah; Farhan kecil suka mencabut batangnya sambil berteriak kegirangan setiap kali umbi yang besar muncul dari tanah.
Dia memetik pucuk-pucuk daunnya yang paling muda, lalu mencengkeram batang ketela dengan kedua tangan dan menariknya sekuat tenaga. Tanah basah melepaskannya dengan bunyi yang memuaskan. Tiga umbi, gemuk dan kotor. Dia mencabut batang kedua, lalu ketiga, sampai lengannya gemetar dan kukunya hitam oleh tanah.
Dalam perjalanan kembali, sesuatu yang putih bergerak di antara rumput. Seekor kelinci yang bulunya putih kusam, telinganya tegak, mulutnya bergerak-gerak khidmat mengunyah rumput. Sintia berjongkok perlahan, takut membuatnya lari, lalu mengacungkan sepotong umbi ketela.
“Ayo,” bisiknya. “Ini lebih enak.”
Kelinci itu menatapnya sebentar, lalu kembali menunduk pada rumputnya. Dia tidak tertarik.
“Kamu nggak mau, ya.” Sintia tersenyum kecil, tetapi senyum itu cepat memudar. “Kamu lebih suka yang sudah kamu kenal.”
Kalimat itu tinggal di udara lebih lama daripada yang dia kehendaki.
Yang sudah dikenal. Bukan yang terbaik, bukan yang paling aman, tetapi yang sudah dikenal. Sintia teringat tubuhnya sendiri, tubuh yang dulu menegang setiap kali disentuh lelaki, lalu belakangan justru tenang dalam pelukan satu-satunya lelaki yang paling pantas ditakutinya. Apakah dia juga seperti kelinci itu, yang memilih rumput pahit hanya karena sudah terbiasa mengunyahnya?
Dia berdiri, menepis tanah dari lututnya, dan berjalan lagi tanpa menoleh pada kelinci itu.
Di bawah langit yang cerah dan berawan, dia berhenti sejenak. Mulutnya bergerak sebelum pikirannya sempat menyusun kata.
“Tuhan,” bisiknya. “Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atas semua ini. Aku tidak mau berterima kasih atas apa yang dia lakukan padaku. Aku tidak bisa.” Dia menarik napas. “Tapi terima kasih untuk ketela ini. Untuk pagi ini. Untuk kesempatan memilih.”
Itu doa yang kecil. Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sintia merasa doanya jujur.