“VANO! Vano, bangun! Aku mohon, bangun!”
Sintia berlutut di samping balai-balai bambu, menepuk-nepuk pipi lelaki itu. Kulit di bawah telapak tangannya panas seperti tungku yang lupa dimatikan. Sejak lewat tengah malam Stevano mengigau tanpa henti, kadang memanggil “Mom”, kadang menyebut kolong jembatan, kadang hanya mengerang seperti bocah yang tersesat. Perban dari sobekan daster krem di perutnya sudah dua kali Sintia ganti, dan dua kali pula kain itu kembali memerah.
Balai-balai berderit setiap kali tubuh Stevano mengejang. Bunyi yang dulu membuat Sintia ingin menjerit kini hanya membuatnya menghitung: satu derit, satu napas. Selama masih ada derit, masih ada napas.
Orang-orang mengenal Stevano Erlangga sebagai lelaki yang tak pernah sendirian, selalu dikelilingi perempuan, lampu kristal, dan tepuk tangan. Malam itu, di gubuk bambu yang hanya diterangi lampu minyak, Sintia melihat apa yang tak pernah dilihat siapa pun: lelaki yang memanggil ibunya dalam demam, dan tak ada yang menjawab.
Dia tidak sedang melupakan apa yang telah lelaki ini lakukan. Lubang itu, rantai itu, sungai itu, semuanya masih di sana, di balik kelopak matanya setiap kali dia berkedip. Tetapi lelaki yang menggali lubang itu kini terbaring di hadapannya, menggigil, dan Sintia tidak tahu bagaimana caranya membenci seseorang yang sedang menggigil.
“Aku di sini,” bisiknya. “Aku masih di sini.” Air matanya jatuh ke punggung tangan kiri Stevano, tepat di atas bekas gigitannya sendiri. Dia tak tahu kepada siapa janji itu sebenarnya ditujukan: kepada lelaki ini, atau kepada dirinya sendiri yang terlalu takut ditinggal sendirian di tengah hutan.
Apakah Stevano akan menyusul para korbannya malam ini? Apakah dia akan mati sebelum sempat menanggung apa pun? Sintia tidak punya jawaban. Yang dia punya hanya lutut yang sudah kebas dan sepasang tangan yang masih bisa ditengadahkan.
“Ya Tuhan,” doanya, nyaris tak bersuara. “Aku nggak tahu apakah aku boleh meminta ini. Tapi jangan ambil dia sekarang. Tidak dalam keadaan seperti ini, sebelum dia sempat memilih, sebelum dia sempat membayar. Kalau Engkau beri dia waktu, aku akan memintanya menikahiku dengan benar, di hadapan-Mu, supaya kami berhenti hidup di dalam dosa. Dan kalau ternyata yang kurasakan ini bukan cinta ... tunjukkan padaku. Aku mohon ....”
Entah karena doa itu, entah karena demam yang memang sudah waktunya surut, napas Stevano yang semula pendek dan cepat perlahan memanjang. Dadanya naik turun lebih teratur. Matanya tetap terpejam.
Sintia memandangi luka di perut itu. Sebilah pisau kecil, sekecil itu, bisa menjatuhkan lelaki yang pernah mencekik dua perempuan sekaligus. Dia teringat kata-kata Stevano sendiri, di salah satu malam yang paling gelap: manusia adalah makhluk paling rapuh. Dulu Sintia mendengarnya sebagai ancaman. Kini dia mendengarnya sebagai pengakuan.
Dia menyeka air matanya, lalu mengecup kening Stevano yang basah oleh keringat. Bukan ciuman seorang kekasih, lebih mirip cara ibunya dulu mengecup kening Farhan kecil yang demam, dengan doa yang diselipkan di antara kulit dan bibir. Dan justru karena kecupan itu terasa begitu wajar, Sintia merasakan sesuatu di perutnya mengencang.