SINTIA menatapnya tak percaya. Berhari-hari napas lelaki itu hanya berupa desis tipis yang harus dia hitung lewat derit balai-balai. Kini mata kuning keemasan itu terbuka, jernih, tanpa kabut demam. Senyum yang barusan mengucapkan kalimat tentang Tuhan masih tertinggal di bibirnya: senyum lelah yang pernah dia lihat di ruangan bersofa merah, dulu sekali.
“Vano ....”
Sebelum sempat berpikir, Sintia sudah memeluknya sangat erat, sampai Stevano meringis dan perban dari sobekan daster di perutnya berdenyut di bawah lengan Sintia. Dia menangis tanpa tahu tangis itu jenis apa: lega, takut, atau malu karena merasa lega. Stevano tidak berkata apa-apa. Tangan kirinya naik perlahan dan membalas pelukan itu.
“Kamu sudah sadar. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih,” bisik Sintia, berulang-ulang, seperti anak kecil yang baru belajar berdoa. Dia tidak tahu apakah dia sedang bersyukur karena seorang manusia selamat, atau karena seorang terdakwa belum lolos dari pengadilannya. Barangkali keduanya. Barangkali Tuhan memang tidak memintanya memilih salah satu, setidaknya tidak pagi ini.
“Saya sudah bangun sejak tadi.” Suara Stevano serak dan kering. “Kamu sedang bicara dengan kelinci. Saya tidak mau memotong. Tapi lama sekali.” Dia menepuk kepala Sintia, lalu mengelus rambutnya pelan, gerakan yang ganjil dan kaku, seperti tangan yang baru belajar bahwa itu bisa dipakai untuk sesuatu selain mencengkeram.
Sintia tertawa di sela tangis, lalu tawanya berhenti. Kelinci. Berarti Stevano mendengar semuanya: polisi, seratus sembilan nama, lubang itu. Dia menunggu lelaki itu bertanya. Stevano tidak bertanya.
Yang Stevano rasakan saat itu tidak punya nama dalam kamusnya. Seumur hidup dia diperlakukan sebagai sampah, lalu sebagai tuan; sebagai bocah bule kere di tong sampah, lalu sebagai wajah tampan di baliho. Tak pernah sebagai seseorang yang ditunggui semalaman. Dia mencatat perasaan itu baik-baik, seperti dulu dia mencatat nama-nama di jurnalnya, dan sadar, dengan sedikit ngeri, bahwa dia ingin memilikinya selamanya.
“Terima kasih karena kamu tinggal,” katanya. “Dan karena kamu merawat saya. Kamu ... kamu seperti bidadari.” Dia diam sebentar. “Saya tahu kamu tidak suka kata itu. Kamu sudah terlalu sering mendengarnya dari mulut laki-laki di kelab. Tapi saya tidak punya kata lain.”
Sintia tidak menjawab. Dia hanya membenamkan wajah di dada lelaki itu, supaya Stevano tak melihat betapa kata itu, kali ini, tidak terasa murahan, dan betapa justru itu yang membuatnya takut.
Di ambang pintu gubuk, kelinci bertelinga sobek itu memandangi mereka sebentar, lalu melompat keluar, ke arah lereng, ke rumput yang sudah dikenalnya.
“Sintia.” Suara Stevano rendah, hampir berbisik. Senja sudah turun lagi; seharian mereka hanya bicara sedikit, makan ketela rebus, tidur bergantian. Kini Sintia berbaring dengan kepala di dadanya, mendengarkan jantung yang berdetak lebih lambat daripada jantungnya sendiri. “Kenapa kamu tidak lari? Kamu punya waktu berhari-hari. Kamu bisa saja pulang ke adikmu.”
Pertanyaan itu menusuk tepat di tempat yang sejak kemarin dia hindari. “Aku nggak tahu,” jawabnya, dan itu jujur. “Kalau aku pulang, aku mau kamu ikut. Bukan cuma karena aku mau sama kamu. Tapi karena ada yang harus kamu pertanggungjawabkan, dan aku nggak mau kamu menghilang sebelum itu.” Dia menelan ludah. “Lagi pula, pulang ke mana? Ayahku nggak pernah mencariku. Sekali pun nggak. Farhan ... Farhan cuma tahu kakaknya kerja di kota.”
Stevano menarik napas panjang. Dadanya naik-turun di bawah pipi Sintia. “Saya akan pulang bersamamu. Tapi saya harus menemukan Ibu dulu. Dia sendirian di luar sana, dengan mobil itu, dengan boneka itu. Setelah dia aman, saya akan ikut kamu. Ke mana pun kamu bawa saya.” Jeda. “Setelah itu, mungkin kita tidak akan bisa lagi—”
“Jangan.” Sintia mengangkat kepala. “Jangan bicara seolah-olah kamu mau pergi jauh. Aku nggak suka.” Suaranya bergetar. “Aku sudah kehilangan Ibu di dalam keranda. Aku nggak mau kehilangan apa-apa lagi dengan cara yang nggak bisa aku lihat datangnya.”
Kalimat itu keluar lebih cepat daripada pikirannya. Baru setelah terucap, Sintia mendengarnya sendiri dan terdiam: dia baru saja memohon kepada lelaki yang dulu menyekapnya agar tidak meninggalkannya. Dari suatu tempat yang jauh, suara ibunya berbisik, sabar seperti biasa: Tidak semua yang terasa seperti perlindungan adalah kasih sayang.