“KAMU lelah?”
Stevano berhenti melangkah. Sejak meninggalkan gubuk bambu pagi tadi, mereka sudah menyusuri lereng, mencari bekas ban mobil Ibu di tanah yang lembap, dan baru sekarang dia menoleh. Keringat membasahi pelipis Sintia, napasnya pendek-pendek, dan telapak kakinya yang telanjang sudah lecet di beberapa tempat.
“Sedikit,” jawab Sintia.
Stevano mengangkat tangan, lalu menyeka keringat di kening dan leher Sintia dengan ujung lengan kemejanya, kemeja putih yang tadi pagi dia cuci di sungai kecil, kini kembali kusam oleh debu. Sintia tidak mundur, dan tubuhnya tidak menegang.
“Kalau capai, bilang. Kita berhenti. Kamu tidak perlu sungkan pada saya.”
Pipinya memanas. Dia tahu nama perasaan ini kalau saja yang berdiri di depannya adalah lelaki lain, lelaki yang tidak pernah menggali lubang di halaman belakang. Tetapi yang berdiri di depannya adalah Stevano, dan Sintia sudah lama berhenti percaya bahwa debar jantung selalu jujur.
“Makasih,” katanya pelan, lalu membuang pandangan ke sembarang arah.
“Ada apa?” Stevano mengangkat sebelah alis.
“Ng-nggak apa-apa.”
Stevano manggut-manggut. “Kita cari tempat untuk istirahat. Saya juga lelah.”
Dia menuntun Sintia ke sebuah tanah lapang kecil yang ditumbuhi rumput liar, mendudukkannya di sana, lalu memandang berkeliling seperti sedang mencari sesuatu. Tangan kanannya sesekali menekan perban dari sobekan daster di perutnya.
“Kamu cari apa?”
“Makanan. Ketela tadi pagi tidak akan cukup sampai sore. Tunggu di sini sebentar.”
Sintia langsung berdiri. “Aku ikut.”
“Saya tidak akan jauh.”
“Tadi pagi kamu juga pergi tanpa bilang, terus aku bangun dan kamu nggak ada.” Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang dia maksudkan. “Perempuan-perempuan itu masih di hutan ini. Lukamu belum kering. Kalau ada apa-apa—”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, sebab dia sendiri tidak yakin apa yang dia takutkan: bahwa Stevano akan dilukai, atau bahwa Stevano akan pergi dan dia tidak akan pernah tahu apakah lelaki itu kabur dari pengadilannya. Ibunya dulu bilang, berdoa bukan alasan untuk berpangku tangan. Tetapi Sintia tidak tahu lagi apakah kegelisahannya ini ikhtiar, atau sekadar ketakutan seorang tawanan yang tidak tahu cara hidup tanpa penjaganya.