The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #35

Orang Bertopeng

“SAYA tidak tahu ada orang lain yang tinggal di hutan ini.” Suara Stevano nyaris tak lebih dari embusan napas. “Bertahun-tahun saya di sini, saya tidak pernah bertemu siapa pun. Tidak seorang pun.”

Mereka bersembunyi di balik batang pohon besar yang akarnya mencuat seperti jari-jari raksasa. Sekitar tiga puluh langkah di depan, di jalan setapak berbatu yang dulu Stevano ratakan sendiri, mobil itu berhenti dengan mesin masih menyala. Deru yang tadi tersendat-sendat di kejauhan kini terdengar jelas, dan Stevano mengenalinya seperti orang mengenali batuk ayahnya sendiri. Hanya ada satu mobil yang pernah masuk ke hutan ini, dan itu mobilnya, mobil yang kuncinya terjatuh dari tangan Sintia di tengah kericuhan, entah di mana, entah dipungut siapa.

Dan bersandar di sisi kanan mobil itu, seseorang berdiri santai, seperti sedang menunggu tamu.

Topengnya hitam, bukan merah. Sintia memperhatikan itu lebih dulu sebelum hal lain, dan dia benci dirinya karena memperhatikannya. Topeng hitam polos, tanpa ukiran, menutupi seluruh wajah. Pakaiannya hitam, sepatu bot setinggi betis, kedua tangannya terlipat di dada, dan kepalanya sedikit miring, ke arah hutan, ke arah mereka, atau mungkin ke arah sesuatu yang lain.

Sintia melirik Stevano. Wajah lelaki itu pucat di bawah darah kering di pelipisnya. Rahangnya mengeras, matanya, mata kuning keemasan yang dulu menatap Sintia dari balik topeng merah, kini menatap topeng lain, dan untuk pertama kalinya Sintia melihat seseorang yang tahu persis rasanya diburu.

“Ibu,” bisik Stevano. “Ibu ada di dalam.”

Sintia ikut menyipitkan mata. Kaca mobil gelap. Tak ada yang bisa dilihat. Tak ada yang bisa dipastikan.

“Kamu nggak tahu itu.”

“Saya tidak tahu,” dia mengakui. “Itu yang membuat saya takut.”

Sintia mengangkat tangan dan meletakkannya di pundak Stevano. Bukan untuk menenangkan, katanya pada diri sendiri, tetapi untuk menahan. Supaya lelaki itu tidak berlari keluar dari persembunyian dengan kaki telanjang dan perut berbalut sobekan daster. Stevano menoleh dengan tatapan yang menetap terlalu lama di mata Sintia, dan Sintia tahu ke mana tatapan itu sedang pergi: menjauh dari mobil, menjauh dari ketakutannya, ke satu-satunya tempat yang terasa aman baginya.

“Andai kita bertemu dengan cara yang berbeda,” gumam Stevano.

Sintia hampir menjawab, hampir berkata bahwa mungkin Tuhan sudah mengatur semuanya, bahwa mungkin memang begini jalannya. Kata-kata itu sudah sampai di ujung lidahnya, manis dan mudah, seperti kalimat dari mulut perempuan yang tidak pernah dirantai di gubuk reyot. Dia menelannya kembali.

Tuhan tidak menghukum dengan tangan iblis. Ibunya yang mengajarkan itu. Maka Tuhan juga tidak menulis skenario pertemuan dengan jarum suntik dan tali.

“Tapi kita tidak bertemu dengan cara yang berbeda,” kata Sintia akhirnya. “Jadi jangan pura-pura.”

Stevano tidak membantah. Dan saat Sintia kembali menoleh ke arah mobil, sisi kanannya sudah kosong. Orang bertopeng itu lenyap. Tak ada bunyi langkah atau apa pun. Hanya mesin yang terus menderu, pintu yang tertutup rapat, dan kaca gelap yang tak memberi jawaban apa pun.

Stevano menegang. Sintia merasakan otot di bawah telapak tangannya mengeras seperti kayu basah.

“Jangan,” bisik Sintia. Dia tahu apa yang akan Stevano lakukan sebelum Stevano sendiri tahu. “Itu umpan.”

“Ibu saya di situ.”

“Mungkin. Dan orang itu tahu kamu akan berpikir begitu.”

Lama Stevano diam, lalu dia menarik napas dalam-dalam, napas orang yang sedang memaksa dirinya sendiri untuk tidak berlari.

“Kita tunggu,” katanya. “Sebentar saja. Orang yang meninggalkan mesin menyala bukan orang yang ingin pergi. Dia ingin dilihat, ingin kita datang.” Dia menelan ludah. “Dulu saya juga begitu. Saya membiarkan pintu terbuka. Saya membiarkan mereka lari sedikit. Supaya mereka berharap.”

Sintia tidak menjawab. Dia ingat pintu kamar berlampu minyak yang dibiarkan terbuka. Dia ingat lorong, bunyi pantofel yang sengaja tidak tergesa. Dia ingat betapa manisnya harapan itu sebelum dia tahu harapan itu juga bagian dari rantai.

Stevano menyapu sekeliling dengan matanya, mencari sosok hitam di antara batang-batang pohon. Nihil. Mendekati mobil berarti menyerahkan diri di tempat terbuka. Meninggalkannya berarti meninggalkan ibunya, atau mungkin hanya meninggalkan bayangan ibunya. Akhirnya dia memutuskan memutar: menjauh sedikit ke arah semak, mencari jejak orang itu dari sisi lain, lalu kembali.

Mereka berjalan merunduk di antara belukar. Stevano menggenggam tangan Sintia erat, terlalu erat. Berkali-kali dia menoleh ke belakang. Maka berkali-kali juga tak ada apa pun.

Lihat selengkapnya