The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #36

Dilingkupi Kehangatan

MALAM kembali datang, dan kali ini datang tanpa apa-apa: tanpa mobil, tanpa Ibu, tanpa bekas ban yang bisa diikuti lagi. Jejak itu habis di batu-batu jalan setapak, ditelan gelap sebelum mereka sempat memutuskan harus belok ke mana. Bulan tertutup awan yang menghitam. Angin turun dari lereng, mengibaskan dedaunan, menerbangkan ranting-ranting kering, dan membawa dingin yang lebih tajam dari malam-malam sebelumnya.

Mereka tak sempat kembali ke gubuk bambu. Stevano memilih sebuah ceruk di bawah tebing rendah, terlindung dari angin dari satu sisi saja. Dia mengumpulkan daun dan ranting kering, menumpuknya di atas tiga batu yang dia susun persis seperti yang Sintia lakukan beberapa pagi lalu, lalu mengeluarkan korek dari saku celananya, korek yang sama dari gubuk itu.

Korek itu memercik, tapi angin memadamkan percikan itu sebelum sempat menjilat daun.

Stevano terus mencoba. Peluh muncul di keningnya meski udara dingin. Jemarinya, yang dulu begitu cekatan mengikat simpul dan memutar gembok, kini gemetar oleh sesuatu yang bukan dingin. Sintia tahu apa itu. Lelaki itu sedang memikirkan ibunya, di dalam mobil berkaca gelap, di tangan orang bertopeng hitam, entah di mana.

Akhirnya dia mengempaskan tubuh ke tanah, bertumpu dengan kedua tangan, menatap langit yang tak menyisakan satu bintang pun. Napasnya berat. Perban dari sobekan daster di perutnya naik-turun.

Sintia bergeser mendekat. Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil korek itu dari tangan Stevano. Dia membungkuk rendah, memunggungi arah angin, menangkupkan telapak tangannya seperti cangkang di sekeliling sehelai daun paling kering. Ibunya dulu menyalakan tungku dengan cara itu, di dapur yang selalu berbau tempe goreng.

Memercik, padam, memercik lagi.

“Saya coba sekali lagi,” kata Stevano pelan, menyentuh punggung tangan Sintia.

Sintia menyerahkan korek itu. Kali ini Stevano meniru caranya: membungkuk, memunggungi angin, menangkupkan tangan. Percikan ketiga menjilat ujung daun. Api kecil itu goyah, nyaris mati, lalu menjalar ke daun berikutnya, dan berikutnya, sampai tumpukan ranting itu berkobar dan cahaya jingga menyapu wajah mereka berdua.

Sintia membolak-balik telapak tangannya di atas api. Daster krem yang tinggal separuh, karena separuhnya kini menjadi perban, tak banyak menahan dingin. Bahunya menggigil.

Stevano memperhatikan itu. Dia tak punya jas lagi; jas itu tertinggal entah di rumah tua atau di istananya yang jauh. Yang tersisa hanya kemeja putih yang tadi pagi dia cuci di sungai kecil, robek di satu lengan, masih bernoda samar meski sudah digosok berkali-kali. Dia membukanya, mengibaskannya sekali, lalu menyampirkannya ke bahu Sintia dari belakang.

“Kamu bisa sakit,” katanya. “Saya tidak tahu cara merawat orang sakit sebaik kamu.”

Sintia hampir tertawa. Lelaki ini pernah membiarkannya kelaparan di kursi kayu, pernah membiarkannya menggigil di gubuk reyot dengan pergelangan tangan terikat. Dan sekarang dia khawatir Sintia masuk angin.

Lalu kedua lengan itu melingkari tubuhnya dari belakang.

Tubuh Sintia tidak menegang. Sudah lama tidak. Itu yang paling dia takutkan, lebih dari gelap, lebih dari orang bertopeng hitam: tubuhnya yang terus lupa, sementara kepalanya mati-matian mengingat.

“Hangat, kan?”

Dada Sintia berdegup. Dia membiarkannya, sebab ia sudah berhenti percaya bahwa degup jantung selalu jujur.

“Kamu suka kehangatan?”

Sintia mengangguk pelan.

“Kalau saya jadi api, apakah kamu akan—”

Lihat selengkapnya