MALAM pergi tanpa pamit. Pagi datang sebentar, cukup lama untuk menyepuh pucuk-pucuk pohon dengan cahaya pucat, lalu dirampas lagi oleh gumpalan awan hitam yang merayap dari balik bukit. Angin berbalik arah. Guntur pertama menggelinding jauh di atas lereng, berat dan panjang, seperti perabot raksasa yang diseret di lantai langit. Musim hujan, rupanya, memilih pagi itu untuk tiba.
Setetes air jatuh tepat di kelopak mata Sintia. Lalu setetes lagi di pipi. Dia membuka mata. Api di antara tiga batu sudah lama padam, menyisakan abu kelabu dan sebatang kayu yang masih berasap tipis. Kemeja putih Stevano masih tersampir di bahunya, lembap oleh embun.
“Hujan,” gumam Stevano. Dia sudah duduk di mulut ceruk, menengadah, satu tangan menekan perban di perutnya. “Sintia, bangun. Ceruk ini tidak akan cukup kalau hujannya besar. Air dari tebing akan turun lewat sini.”
Sintia menggeliat. Seluruh tubuhnya pegal oleh tanah yang keras dan dingin. “Sepagi ini?”
“Hutan tidak peduli jam berapa.” Stevano berdiri dan mengulurkan tangan kirinya, tangan dengan bekas gigitan yang kini tinggal garis samar. “Kita cari tempat yang lebih tinggi. Saya tidak mau kamu demam. Satu orang demam sudah cukup.”
Sintia menyambut uluran itu. Dia sadar dirinya menyambutnya tanpa berpikir, dan dia memutuskan untuk memikirkannya nanti.
Mereka berjalan menembus gerimis yang makin rapat, menyusuri jalan setapak berbatu yang kemarin menelan bekas ban mobil Ibu. Daun-daun mulai berdesis, tanah berubah licin, belum lama mereka berjalan, Stevano berhenti mendadak hingga Sintia menabrak punggungnya.
Di depan sana, di tikungan yang dinaungi rumpun bambu, sebuah mobil terparkir miring. Lampu depannya menyala, menembus tirai gerimis seperti sepasang mata yang menunggu.
“Mobil saya ....”
Sintia mengenalinya bahkan sebelum Stevano bicara. Kaca gelap yang sama, moncong yang sama, kini berlumur lumpur. Mobil yang dua hari lalu dia tinggalkan di balik pohon trembesi bersama seorang perempuan tua yang bersenandung untuk bonekanya.
“Ibu,” bisik Stevano. Hanya satu kata, tetapi Sintia seolah mendengar seluruh tubuh lelaki itu ikut mengucapkannya.
“Itu ... mobilmu,” kata Sintia, dan suaranya terdengar bodoh bahkan di telinganya sendiri. “Tapi kemarin mobil itu pergi. Kenapa sekarang ditinggal di sini? Dengan lampu menyala?”
Stevano tidak menjawab. Dia mengangkat tangan, isyarat agar Sintia tetap di tempat. Lalu dia melangkah pelan, separuh membungkuk, kepalanya berputar menyisir semak dan batang bambu. Sintia mengenali cara berjalan itu. Itu cara seorang pemburu. Bedanya, kali ini dialah yang tahu sedang diburu.
Orang itu tidak sekadar mencuri mobil, pikir Sintia. Kalau hanya mobil yang dia inginkan, dia sudah lama keluar dari hutan ini. Dia meninggalkannya di sini, di jalan yang pasti mereka lewati, dengan lampu menyala supaya terlihat dari jauh. Itu bukan barang curian, tetapi umpan. Kemarin Stevano sendiri yang mengatakannya.
Pintu yang dibiarkan terbuka supaya korbannya berharap.
Jantung Sintia berdentam. Stevano tinggal beberapa langkah dari pintu pengemudi. Dari tempatnya berdiri, Sintia tak bisa melihat apakah ada seseorang di jok belakang. Lalu matanya menangkap gerakan di balik rumpun bambu, di belakang Stevano: sosok berpakaian serba hitam, sepatu bot berlumpur, wajah tertutup topeng hitam polos.
“Vano!”
Terlambat.