“BERANI-BERANINYA kamu! Bajingan tengik!”
Suara itu bukan suara yang Sintia kenal belakangan ini. Bukan suara lelaki yang menggigil di balai-balai gubuk bambu, bukan pula suara yang tertawa di bawah pohon mangga. Itu suara yang dulu berbisik memerintahnya dengan kasar dari balik topeng merah.
Stevano mencengkeram kerah si rambut keriting dengan tangan kiri, lalu menyentaknya menjauh. Lelaki itu terjungkal; punggungnya menghantam tanah becek, air hujan memercik ke wajahnya. Dalam gerakan yang sama, Stevano menarik Sintia ke belakang tubuhnya.
“Vano ....” Suara Sintia nyaris tak keluar. Lututnya masih gemetar. Kemeja putih di bahunya basah dan berat, dua kancingnya terlepas. Dia merapatkannya dengan jemari yang belum mau berhenti bergetar.
“Kamu aman sekarang,” kata Stevano. “Di dekat saya, kamu selalu aman.”
Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun, Sintia pernah mendengar nada yang sama di lorong bawah tanah, yang seolah-olah mengklaim bahwa dirinya hanya milik lelaki itu. Dia mendongak dan melihat apa yang dia takutkan: bara di mata kuning keemasan itu belum padam, dan abunya baru saja tersibak.
Dia mencengkeram lengan Stevano. “Dengar aku.” Napasnya pendek-pendek. “Jangan jadi dia lagi. Jangan jadi lelaki bertopeng merah itu. Tolong.”
Lama Stevano menatapnya. Hujan menetes dari ujung rambutnya, mengalir melewati luka di pelipis yang kembali merah. Lalu, perlahan, rahangnya mengendur.
“Saya dengar,” katanya. “Saya tidak akan membuatmu melihat dia lagi. Saya ... sedang belajar.”
Itu bukan janji. Sintia tahu. Namun, itu lebih jujur daripada janji.
“Mobil itu,” lanjut Stevano tanpa memalingkan mata dari si rambut keriting. “Lihat apakah Ibu ada di dalam. Jangan kembali ke sini sebelum saya panggil.”
Sintia ragu sedetik, kakinya ingin tinggal, nalurinya ingin lari, lalu dia berbalik dan berlari menembus hujan ke arah mobil yang lampunya masih menyala di dekat rumpun bambu.