The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #39

Menaklukkan Iblis di Dalam Diri

HUJAN turun makin deras, tetapi Stevano tidak lagi mendengarnya. Yang dia dengar hanya sunyi. Sunyi yang sama seperti malam ketika ayahnya terkapar di ruang kerja, sunyi yang dulu ia kira kedamaian.

Lelaki keriting itu masih tertawa dengan darah tipis di sudut bibirnya. “Ayo. Tunjukkan ke dia siapa kamu sebenarnya.”

Stevano tahu itu pancingan, tetapi dia tetap melangkah. Maka pukulan pertama mendarat di rahang. Kepala si keriting tersentak ke samping, tubuhnya membentur batang pohon. Pisau lipatnya terlepas, tenggelam di genangan lumpur.

“Bangun,” kata Stevano. Suaranya datar, nyaris sopan.

Lelaki itu mencoba merangkak. Stevano menarik kerahnya, menghantamkannya lagi ke pohon. Tangan kirinya mengepal dan turun berulang kali, seperti palu yang tidak tahu kapan paku sudah tertanam.

Tawa itu pun berhenti. Lalu erangan. Lalu hanya napas yang tersendat-sendat, basah, dan makin pendek.

Di dekat rumpun bambu, Sintia baru saja menempelkan wajah ke kaca mobil yang gelap. Dia belum sempat melihat apa pun selain bayangannya sendiri ketika bunyi itu sampai ke telinganya, bunyi daging dan tulang yang ditumbuk, tak berirama, tak berhenti.

Dia pun menoleh. Dan untuk sesaat, yang dia lihat bukan Vano. Yang dia lihat adalah lelaki bertopeng merah di gubuk reyot itu, tanpa topeng, tetapi tetap lelaki yang sama.

“VANO!”

Dia berlari. Telapak kakinya yang lecet terpeleset di tanah licin, lututnya membentur batu, tapi dia bangkit lagi. Kemeja putih di bahunya basah dan berat.

“HENTIKAN!”

Stevano tidak menoleh. Kepalan itu terangkat sekali lagi. Sintia memeluknya dari belakang. Kedua lengannya melingkar di dada lelaki itu, menarik dengan seluruh berat tubuh yang tersisa. Dia bisa merasakan jantung Stevano berdentam, bukan cepat seperti orang marah, tetapi pelan dan teratur, seperti orang yang sedang bekerja.

“Vano, aku mohon.” Suaranya pecah. “Kamu bilang kamu sedang belajar. Ingat? Kamu sendiri yang bilang, jangan jadi dia.”

Kepalan itu berhenti di udara. Lama. Air hujan menetes dari buku-buku jarinya, merah muda bercampur darah. Lalu, perlahan, tangan itu turun. Stevano memandanginya seolah tangan itu milik orang lain. Dia membalikkan telapaknya, menatap punggungnya, lalu bekas gigitan samar di sana.

“Saya ....” Napasnya tersentak. “Saya tidak ingat memutuskan ini.”

Lihat selengkapnya